Ini Sebab Muhammadiyah Memilih Hisab

KABARHUKUM-Samarinda | Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti dalam ceramahnya di Samarinda, belum lama ini, menjelaskan bahwa ada tiga hal yang menjadi dasar mengapa Muhammadiyah menggunakan perhitungan hisab dalam menentukan awal bulan Qomariyah termasuk 1 Ramadhan dan 1 Syawal.

Melihat hilal. (ilustrasi)
Melihat hilal. (ilustrasi)

Yang pertama, kata dia, adalah berdasarkan Alquran Surat Yunus ayat 5: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui”.

Kedua adalah Muhammadiyah menganggap bahwa penentuan awal Ramadhan dan Awal Syawal dengan hisab atau rukyat adalah strategi, bukan substansi. Hal itu bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad SAW pada waktu itu menggunakan rukyat dengan pengakuan bahwa pada waktu itu adalah sebagai umat yang umi, tidak tahu perhitungan tahun dan bulan, tahunya bulan itu bisa 29 hari dan 30 hari.

“Sehingga menghadapi kondisi yang demikian beliau sangat bijak yaitu dengan melihat hilal (karena ada ilat). Sekarang umat sudah tahu perhitungan tahun dan bulan setelah terdorong mempelajari Surat Yunus ayat 5,” ujarnya dalam laman Muhammadiyah.or.id.

Ketiga, lanjut dia, adalah untuk mendapatkan kepastian jadwal dengan dasar astronomi sehingga bermanfaat dalam perencanaan waktu untuk yang akan datang dan penanda hari atas sejarah masa lampau. Dalam hal ini Muhammadiyah memelopori penggunaan jadwal shalat, gerhana matahari, dan gerhana bulan, dan bahkan jadwal rashdul kiblat.

Secara bergurau, Abdul Mu’ti mengatakan bahwa untuk mengatasi kesulitan menentukan datangnya bulan yang setiap tahun berulang ketika menjelang Ramadhan dan menjelang Syawal maka diusulkan, sebaiknya Menteri Agama untuk selanjutnya dipilih perempuan saja, jangan laki-laki.

“Adapun alasan mengapa mengusulkan perempuan untuk menjadi Menteri Agama seolah-olah logis karena perempuan diyakini lebih tahu kapan akan datang bulan,” ujarnya. (*)

——————
sumber: republika

 

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda