Pak Haji, Pemuda Bertato dan Idul Fitri

Oleh: Dhabit Barkah Siregar

 

Di sebuah desa yang kecil dan sepi penduduk. Hiduplah seorang lansia yang berdiam di satu rumah kayu kecil bersama istrinya. Berpuluh tahun mereka telah tinggal di daerah yang dikelilingi sawah-sawah milik warga.

selamat_idul_fitriKemudian, tibalah waktu semua umat muslim untuk merayakan hari besar Idul Fitri. Di desa tersebut, kegiatan makan besar sudah menjadi tradisi sejak puluhan tahun belakangan. Lalu, sang istri hendak mengajak suaminya yang telah mengenyam gelar haji ini untuk menemaninya berbelanja ke pasar. “Pak Haji, temani mama ke pasar yuk, belanja,” pinta sang istri.

Mendengar ajakan sang istri, Pak Haji pun langsung menurutinya. “Ya sudah. Papa manasin mobil dulu ya, Ma,” jawabnya dengan nada rendah.

Dan mereka pun berangkat. Di sepanjang perjalanan Pak Haji tak banyak bicara. Lalu, ketika mereka melintasi jalan rusak dan berlubang, Pak Haji yang mengemudikan mobil berniat untuk menghindari lubang-lubang yang mengganggu laju kendaraannya dengan melawan arus lalu lintas. Saat sedang berusaha menghindari lubang, lewatlah seorang pemuda bertato dengan penampilan acak-acakan. Melihat laju mobil Pak Haji yang tak sesuai arus, pemuda tersebut merasa terganggu. Kemudian pemuda itu marah dan membentak Pak Haji. “Woi! Pake mata kalau di jalan,” teriak pemuda itu.

Terdengar nada kasar dicampur rasa amarah. Itulah ungkapan tertuang dari perilaku si pemuda. Pak Haji pun tak diam diri. Ia pun langsung memarkirkan mobilnya dan memanggil pemuda tersebut. “Hei apa kamu teriak-teriak sama orang tua! Kamu nggak pernah diajarin tata krama ya pas sekolah dulu,” tutur Pak Haji kepada si pemuda.

Mendengarnya, pemuda itu berhenti dan membalas perkataan Pak Haji. “Saya tau kamu orang tua. Tapi kalau jalan lihat-lihatlah Pak,” jawab si pemuda.

Pak Haji menjawab, “Saya berusaha menghindari lubang. Emang ada yang salah ya?,” tanya Pak Haji dengan raut wajah kebingungan.

Balas pemuda, “Bapak berada di jalan yang salah. Bapak menghalangi jalan saya,” balasnya dengan nada emosi.

Melihat gaya bicara si pemuda yang berkesan angkuh, ditambah lagi dengan tampilan acak dan perkataan yang kurang santun, Pak Haji pun geram dan tak bisa menahan emosinya. Dan dia pun memilih menasihati si pemuda. “Saya kan sudah bilang, saya berusaha menghindari lubang. Kamu nggak perlu teriak-teriak dan bertingkah marah seperti itu. Coba lihat diri anda. Apakah anda sudah berada di jalan yang benar,” ucapnya yang gemetar menahan emosi.

Sambungnya, dengan memelankan sedikit nada bicaranya Pak Haji menasihati kembali pemuda itu. “Lihat diri Anda kembali. Tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Apa kamu pernah berpikir berapa banyak dosa yang sudah diperbuat semasa hidup?” tandasnya.

Seolah habis melihat setan, pemuda itu langsung terdiam dan menundukan kepala. Beberapa menit kemudian, pemuda itu langsung meminta maaf kepada Pak Haji. “Eh. Maafkan saya pak. Saya sadar, saya bukan orang baik-baik. Saya juga nggak bermaksud membuat bapak marah tadi,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Kemudian Pak Haji menerima permintaan maaf si pemuda dan langsung meninggalkannya. “Ya sudah. Kalau sudah begini kita sama-sama salah. Lagian kita manusia nggak pernah terlepas dari kekhilafan. Kalau begitu saya minta maaf juga,” ucap Pak Haji.

Demikianlah cerita singkat dari kabarhukum.com. Alangkah baiknya jika kita bisa saling memaafkan. Untuk itu, kami segenap kru¬†kabarhukum.com memohon maaf dari ruh yang berdosa, agar bisa terhindar dari perbuatan dosa. Dan dengan segala kekurangan, kami mengucapkan “minal aidin wal faidzin, mohon maaf lahir dan bathin”.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H.  (*)

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda