Berbahasa Karo, KPBI Bedah Buku Bunga Dawa

KABARHUKUM-Medan | Komunitas Peduli Bahasa Ibu (KPBI) gelar bedah buku Bunga Dawa, dan apresiasi seni di Gedung Medan Club, di Jalan RA Kartini No 36, Medan, Kamis (23/7/2015) siang. Dalam acara tersebut, turut hadir sastrawan Etnis Karo Tariganu sekaligus penulis buku yang berjudul Bunga Dawa. Buku yang hendak dibedah ini, berisi rangkuman syair puisi berbahasa Karo karya Tariganu.

Tariganu
Tariganu

Koordinator KPBI Oki Teger M Bangun mengatakan, buku Bunga Dawa merupakan sebuah sumbangan bagi sastrawan Indonesia. Dan menjadi sebuah warisan bagi masyarakat Etnis Karo. Dalam karyanya, juga banyak kearifan lokal yang dituang dalam setiap sajak puisinya, juga dalam karya tulis yang dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul Bunga Dawa.

Hal tersebut, menjadi dasar membangunan mental bagi generasi muda, khususnya yang beretnis Karo. Juga, menjadi media dalam berkomunukasi guna menyampaikan ilmu pengetahuan.

“Catatan besok, dalam setiap sepuluh menit satu bahasa di dunia ini hilang. Bahasa sebagai media untuk berkomunukasi dari generasi ke generasi hilang dalam setiap menit. Dengan begitu juga, bahasa yang digunakan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan hilang begitu saja,” katanya.

Ketua Keluarga Muslim Karo (Kamka), Prof Sahat Afifuddin Sembiring, menurutnya untuk mempelajari ilmu pengetahuan budaya, peninggalan leluhur, harus menggunakan bahasa ibu agar dapat memahaminya. Sehubungan itu, penting bagi anak bangsa untuk mempelajari lagi bahasa ibu, mengingat semakin dilupakannya bahasa ibu digenerasi muda.

“Sebelumnya kita ketahui, dalam setiap 10 menit satu bahasa menghilang dari dunia. Untuk itu, penting kita mempelajari kembali bahasa ibu agar kita bisa mengetahui adat dan budaya kita dimasa lalu, agar tidak dilupakan begitu saja.  Dan juga menjaga warisan nenek moyang kita dimasa sebelumnya,” terangnya.

Dirinya juga berharap, agar Bahasa Karo juga menjadi salah satu materi belajar dalam kurikulum jenjang sekolah dasar. Hal tersebut diungkapnya, menurutnya menjadi salah satu metode pemeliharaan salah satu warisan budaya Indonesia yang dia anggap semakin tergerus oleh era global.

“Saya berharap agar media mengungkapkan ini, agar orang nomor satu di Indonesia tau. Agar materi yang ada dalam buku ini menjadi kurikulum pada jenjang sekolah dasar kita. Sehingga ini bisa dilestarikan sampai ke anak-anak cucu seterusnya,” ungkapnya. (*)

——————–
Laporan: Dhabit Barkah Siregar

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda