Masih Beroperasi, Karaoke Milo Juanda ‘Kangkangi’ Perda dan Perwal Kota Medan

KABARHUKUM-Medan | Karaoke Milo yang berada di jalan Juanda Medan terus didesak untuk segera ditutup oleh masyarakat sekitar Jl Juanda & Jl Rumah Sumbul Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota, Medan. Karaoke yang hanya dibatasi pagar tembok Mesjid An-Nazafah dan dinding bangunan Karaoke Milo sejarak sekitar 10 meter itu dinilai meresahkan warga sekitar, khususnya kalangan jamaah Mesjid.

milo“Ini sudah berlarut-larut, selama ini masyarakat khususnya jamaah Mesjid An-Nazafah menolak keras pendirian Karaoke itu, bahkan jauh sebelum bangunan (Karaoke) berdiri,” tandas Sekretaris Majelis Persaudaraan Muslim Mesjid (MPM) An-Nazhafah, Zaman K. Mendrofa.

Zaman mengungkapkan, bukan saja karena dampak pshykologis, Karaoke Milo jelas-jelas mengangkangi Perda Kota Medan nomor 4 tahun 2014 Tentang Kepariwisataan dan Perwal Kota Medan nomor 29 tahun 2014, tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata. Sebagaimana disebut dalam Perda Kota Medan nomor 4 tahun 2014 Tentang Kepariwisataan dimana pada pasal 41disebutkan point 2 huruf H yang menyebutkan harus ada pernyataan tidak keberatan masyarakat sekitar lokasi kegiatan yang dimungkinkan terkena dampak kegiatan.

“Tegas tak ada surat dari masyarakat sekitar Mesjid yang menandatangani keberadaan Karaoke Milo. Kalau Pemko Medan menyebut ada tandatangan, itu masyarakat mana? Berarti ada pemalsuan tanda tangan!” ungkap Zaman.

Tak hanya itu, pelanggaran aturan pembangunan Karaoke itu, sambungnya Zaman, juga dapat dilihat pada Peraturan Walikota Medan nomor 29 tahun 2014, tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata, pada Bagian ketiga Syarat Teknis, pasal 36 point 6. Dimana disebutkan bahwa syarat teknis untuk bidang hiburan dan rekreasi wisata, jenis usaha hiburan malam, panti pijat, karaoke, arena permainan gelanggang olahraga sub jenis rumah billar disertai dengan surat pernyataan letak lokasi usaha berjarak lebih 100 (seratus) meter dari rumah ibadah dan gedung sekolah/pendidikan yang diketahui lurah setempat.

“Coba Anda lihat jarak antara Mesjid dan Karaoke, paling cuma 10 meter saja. Yang disebut-sebut selama ini jaraknya lebih 100 meter, kalau dia ukur dari jalan raya, ya iya, itu malah lebih seratus meter. Tapi bukan jarak itu tentunya, tapi jarak gedung Mesjid dengan Gedung Karaoke,” bebernya.

Secara Physkologis, Zaman menuturkan, jamaah Mesjid selalu terusik dengan operasional Karaoke. “Pertama, saya pakai lobe dan hendak sholat, sementara mereka ya taulah kalau ke lokasi hiburan bagaimana pakaiannya? Lalu, anak-anak kami nanti bilangnya ke Mesjid, rupanya ke Karaoke, ini kan dampak buruk, lalu, Karaoke itu harusnya buka jam 2 (14.00 Wib), lihat saja sekarang, mereka sudah bukak itu,” pungkasnya.

Zaman mengungkapkan, pembahasan terkait keberadaan Karaoke Milo sudah dua kali dilakukan dengan pihak Legislatif. Sayangnya, hingga hari ini, tak ada kejelasan dan realisasi penutupan Karaoke itu. Zaman menegaskan, dirinya berharap, penolakan warga terhadap keberadaan Karaoke Milo tidak menjadi ‘bom’ yang sewaktu-waktu bisa pecah. Pemerintah Kota Medan, lanjutnya seharusnya belajar untuk tidak melakukan pembiaran-pembiaran bibit konflik seperti yang terjadi di beberapa daerah lain.

“Saya mau tanya? Apa sebenarnya pengertian toleransi itu? Bukankah menghormati keberadaan rumah Allah, yakni Mesjid dan rumah ibadah lainnya adalah toleransi? Ini adalah bibit konflik, kenapa Pemerintah tutup mata? Apa mau terjadi ‘Tolikara’ ke dua, baru Pemerintah bertindak!!,” Tegas Zaman.

Penelusuran, Karaoke Milo yang berada di jalan Juanda itu memang sudah memulai operasional sebelum pukul 14.00. Seorang security yang berhasil ditanyai wartawan menyebut, karaoke itu sudah beroperasi sejak pukul 11.00 wib. “Dari jam sebelas udah bukak bang,” katanya.

Terpisah, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Medan, Muhammad Hatta yang diminta komentarnya melalui pesan singkat mengatakan bahwa sudah pernah ada pembahasan terkait karaoke tersebut dengan DPRD Medan. Hatta yang mengaku tengah berada di Malaysia mengatakan, Karaoke Milo tersebut jelas-jelas telah menyalahi aturan yang ada. “Yang jelas (Karaoke Milo) telah menyalahi semua peraturan yang ada. Sehingga kita minta agar segera ditutup. Jangan sempat nanti jamaah Mesjid bertindak karena merasa terganggu ibadahnya,” tukas Hatta melalui pesan singkat.

Anggota DPRD Medan Komisi D, Ilhamsyah yang dikonfirmasi wartawan mengamini, bahwa telah diadakan pertemuan terkait keberadaan Karaoke Milo. Menurut Ilhamsyah, pihaknya menyetujui penutupan Karaoke tersebut. “Sudah Lintas komisi, pertama itu tutup, atas permintaan mesjid tadi, itu sudah kesepakatan ya dan kesepakatan kemarin itu pihak karaoke tidak hadir. Sesuai pengaduan masyarakat kita akan panggil lagi nanti segera. Iya, apa lagi yang mau kita perjuangkan? ini kan untuk umat,” tutur politisi Golkar tersebut.

Disinggung sinyalemen ketidaktegasan Dinas Pariwisata Kota Medan, Ilham menjanjikan, pihaknya akan mengeluarkan rekomendasi. “Ya, nanti kita akan buat rekomendasi, lintas komisi. (Intinya) DPRD menampung aspirasi masyarakat. Ya (Karaoke itu) memang melanggar aturan, kalau itu memang pengaduan masyarakat,” tukasnya.

Sementara itu, pihak Dinas Pariwisata Kota Medan melalui Kabid Objek Daya dan Tarik dan Wisata (ODTW) Lilik menerangkan bahwa persoalan antara Karaoke Milo dan Mesjid masih berproses dengan DPRD Kota Medan. “Intinya itu sedang berproses, dan akan ada mekanisme yang harus dijalani,” ujarnya.

Ditambahkan Lilik, dirinya memang sedang mendalami duduk persoalan yang sedang dituntut oleh pihak Masjid. Apalagi, lanjutnya, keberadaan Karaoke tersebut sudah berdiri sebelum dirinya menjabat. “Ya, wajar-wajar saja tuntutan kenajiran masjid, tapi itu (Karaoke Milo) sudah berdiri sebelum saya duduk, dan saya sedang mendalami terus persoalan tersebut,” ujar Lilik. (*)

ARTIKEL TERKAIT

2 Thoughts to “Masih Beroperasi, Karaoke Milo Juanda ‘Kangkangi’ Perda dan Perwal Kota Medan”

  1. […] Tambah Rafdinal, aturan tentang keberadaan tempat hiburan sudah ada aturan yang mengaturnya yakni Perda Kota Medan nomor 4 tahun 2014 Tentang Kepariwisataan dan Perwal Kota Medan nomor 29 tahun 2014, tentang Tanda Daftar Usaha Pariwisata. (Baca : Masih Beroperasi, Karaoke Milo Juanda ‘Kangkangi’ Perda dan Perwal Kota Medan) […]

  2. Nelly Simamora

    Kalau kita mau adil, ya Kadis pariisatanya yg harus disalahkan, bukan karaoke Milo saja yang terdapat seperti itu, masih banyak karaoke lain yg seperti Milo, jadi semua karaoke keluarga yg bernasib sama dengan Milo harus tutup juga.

Komentar Anda