Rumus Kuno

Histoire de la sexualité atau the History of Sexuality ditulis oleh filsuf Perancis, Michel Foucault pertama kali pada 1976. Foucault mengemukakan sebuah hipotesis refresif, sebuah gagasan bahwa masyarakat barat ditekan seksualitas dari abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20. Dalam periode ini, para ahli mulai meneliti seksualitas secara ilmiah, mengelompokkan jenis seksualitas dan mendorong orang untuk mengakui perasaan dan tindakan seksual mereka. Semua itu karena gairah untuk memelajari apa itu “kebenaran” seks, sangat menggebu. Bahkan mungkin laiknya seks itu sendiri.

Bila kita tak salah memahami argumen Foucault ini, kira-kira dia berargumen, masyarakat industri dan kapitalis yang baru dan kemudian tumbuh kukuh pada abad ke-19, seks memang bukanlah wacana umum yang diperbincangkan luas namun massif di tingkat realitas. Ada pengakuan akan posisinya sebagai “fundamental-secret”, dan karena posisi itu pula dia harus dipelajari, bukan?

ilustrasi
ilustrasi

Saya teringat komedian Miing Gumelar yang kini sudah menjadi anggota DPR itu. Dia bilang, semakin sakral sesuatu maka semakin asyik pula dia diolah menjadi bahan humor. Kebalikannya, semakin dia biasa-biasa saja, tentu saja levelnya pun semakin biasa-biasa juga. Tak ada yang istimewa. Mungkin, karena itu pula para karikaturis Charlie Hebdo habis-habisan mengeksploitasi sosok Nabi Muhammad dalam karikatur dan komik yang mereka terbitkan. Mereka agaknya paham benar bahwa derajat sakralitas bersebelahan di sebaliknya dengan sensasionalitas jika saja mereka “nekad” untuk memutarnya. Mereka paham, sensasi adalah kumpulan keheranan, rasa penasaran, kekaguman, sekaligus juga kebencian yang secara kuantitatif berukuran massif. Dan ketika itu dilakukan, wajah sakral yang telah berubah menjadi rupa sensasional itu tadi bak sebuah magnet bagi kapital dan finansial. Mereka mengundang bergepok-gepok duit layaknya gula mengundang rombongan semut.

Karena itu, ketika mereka, pemerintah Perancis dan sebagian Eropa dan juga Amerika Serikat, melontarkan wacana kebebasan berpendapat dan berekspresi, dunia menertawakan. Dunia tahu, masyarakat yang dididik dan hidup dalam alam industrial dan kapitalisme modern ini, akan sangat susah melepaskan diri dari jeratan dan determinasi ekonomi dan keuntungan finansial yang menjadi motif dalam setiap langkahnya. Dunia tak percaya “ketulusan” mereka. Sama misalnya Anda katakan kalau ingin terkenal maka kencingilah Vatikan. ‘Kan begitu rumus sensasional. Nah, ketika yang mengencingi itu mengatakan dia bermaksud baik ketika mengencingi Vatikan, bukankah Anda tidak percaya dengan “ketulusan” yang seperti itu?

Jadi, mari kita sepakat dengan Foucault soal itu. Tapi jangan seluruhnya. Soalnya, ini bukan melulu cerita soal masyarakat industrialis dan kapitalis di era modern. Anda mungkin kadang tersenyum-senyum ketika memerhatikan iklan-iklan seksual di media di Indonesia. Mulai dari yang menjual obat kuat, ramuan-ramuan hingga jimat-jimat mistik untuk keperluan seks. Bahkan, entah darimana jalan ceritanya, kok rasa-rasanya semakin lama atau semakin kuno ramuan, obat, hingga ritual terapi yang dijual itu, malah harganya makin mahal. Semakin dia diakui kian berkhasiat.

Sebuah film seperti Cleopatra yang dibintangi Elizabet Taylor, juga bercerita soal ramuan kuno itu. Sebagai seorang Mesir, ternyata keampuhan ramuannya membuat seorang Julius Caesar dan Marc Anthony yang berasal dari Eropa (Roma) bertekut lutut di hadapan wanita. Ada eksotisme yang membuat penasaran. Penasaran itu yang menggali terus gairah Caesar tiada henti. Cleopatra paham benar, dia tak mampu menaklukkan Caesar dari segi kekuasaan politik dan kekayaan Mesir dan Afrika. Semua itu tak ada apa-apanya dibanding Roma. Tapi Cleopatra paham benar bahwa eksotisme perempuan dan apa yang ditawarkannya –karena Eropa juga memiliki sejarah tentang eksotisme perempuan—adalah jerat laba-laba yang paling kuat.

Julius Caesar bukanlah laki-laki yang sendirian takluk di hadapan perempuan. Anda bisa bercerita soal Samson dan Delilah hingga Qobil terhadap Iqlima. Atau bahkan, Siti Hawa sekaligus. Ini bukan soal perempuannya. Tapi bila kita setuju dengan apa yang pernah dikatakan Emha Ainun Najib dalam bukunya Sedang Tuhan pun Cemburu, ini bukan soal sosok dan kulit, tapi ini soal bayangan, soal imajinasi Anda terhadap hal itu. Agaknya, ini bahasa lain dari fundamental-secret seperti yang ditulis oleh Foucault tadi.

Dan untuk keampuhan sebuah rumus kuno seperti itu, Anda boleh menyebut nama Gatot di deretan itu. (*)

 

nirwanNirwan SP
@wan_barbarian
pemred kabarhukum.com

ARTIKEL TERKAIT

3 Thoughts to “Rumus Kuno”

  1. Muslim Literat

    Tulisan yang menarik dan menggelitik. Memang ada adagium yg mengatakan, bahwa di belakang kesuksesan tokoh (laki-laki) besar, pasti ada perempuan tangguh yang mendukungnya. Namun tak dinamfikan pula, berapa banyak kedigdayaan seorang penguasa (laki-laki) bisa runtuh dan ambruk seketika juga karena seorang perempuan.

    Dalam ajaran Islam sendiri dikenal tiga trilogi simbol hedonitas kehidupan duniawi, yakni HARTA, TAHTA dan WANITA. Diantara keduanya kadangkala saling berkelindan untuk mengukuhkan. Namun tak jarang pula diantara ketiganya saling menghancurkan.

  2. ga usah munafik kalok udah liat setumpok kelen!!!!!!!!!!!

  3. Ketua Tim RTKM Faisal Basri mengungkapkan, mahalnya harga BBM jenis premium di Indonesia lantaran proses penghitungannya menggunakan rumus kuno.

Komentar Anda