Mau Jatah 6 Bulan Cuti, Ini Dia Perusahaannya

ilustrasi

KABARHUKUM-Jakarta | Penerapan cuti melahirkan dan menyusui selama enam bulan untuk para wanita pekerja ternyata telah dilakukan oleh salah satu perusahaan di Indonesia yaitu Opal Communication. Selain cuti panjang, perusahaan ini ternyata juga tetap membayar gaji karyawan tersebut.

ilustrasi
ilustrasi

Chief Executive Officer Opal Communication, Kokok Herdhianto Dirgantoro menerangkan bahwa kebijakan itu dilakukan awalnya hanya didasari pada pengalaman pribadi istrinya yang saat hamil tidak mendapatkan cuti yang cukup. Sehingga ia berjanji akan berlaku adil pada karyawatinya jika sudah memiliki usaha sendiri.

“Selain alasan keadilan bagi pekerja, saya memiliki lima alasan pendukung kebijakan ini,” kata Kokok.

Dijelaskan Kokok seperti dilansir dari bisnis.tempo.co, kelima alasan itu yang pertama, pihaknya ingin turut menciptakan generasi emas Indonesia, karena para bayi akan mendapatkan ASI eksklusif. Kedua, mengenai biaya kesehatan anak, karena anak yang disusuin secara sempurna memiliki daya tahan yang lebih baik, sehingga biaya kesehatan yang ditanggung kantor ataupun orang tua, akan lebih rendah.

Ketiga, karyawati jadi lebih tenang dalam proses melahirkan dan menyusui, sehingga bisa membantu menekan angka kematian ibu dan anak saat proses melahirkan. Keempat, keinginan untuk masa depan Indonesia lebih baik, karena asupan ASI ke anak lebih panjang, maka anak lebih sehat, kuat, dan cerdas.

Kokok mengatakan dalam jangka panjang, akan tercipta generasi yang memiliki produktivitas tinggi yang berkarakter baik dan meningkatkan growth domestic product (GDP) Indonesia, meningkatkan pajak, dan perekonomian.

Kelima, adalah keberhasilan dari negara lain seperti Vietnam yang sudah menerapkan cuti melahirkan enam bulan dan secara global kini sedang menduduki peringkat perekonomian terbaik di Asia. Bahkan sebagian juga ada cuti untuk bapak untuk mendampingi ibu dan anak lebih lama.

“Hal ini masuk akal, karena proses melahirkan dan menyusui pertama kali adalah masa yang kritis bagi istri, untuk itu perlu pendampingan suami agar istri tidak terkena baby blues syndrome,” tukas Kokok.(*)

__________________

Editor : Ki Andang

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda