Laporan #Haji2015: Pasar Tradisional Madinah, Dari Jual Lontong Hingga Batu Cincin…

Pedagang batu cincin di jalanan Kota Madinah. (foto: Muja HD-kabarhukum.com)
Pedagang meneriakkan dagangannya di jalanan Kota Madinah. (foto: Muja HD-kabarhukum.com)
Pedagang meneriakkan dagangannya di jalanan Kota Madinah. (foto: Muja HD-kabarhukum.com)

KABARHUKUM-Madinah | Pedagang kaki lima, begitu kira-kira sebutan bagi mereka yang menjajahkan dagangannya di pinggir jalan. Tidak hanya di Indonesia, fenomena pedagang kaki lima juga akan kita temui di seputaran halaman luar Masjid Nabawi, Madinah.

Liputan kabarhukum.com langsung dari Madinah, berbagai bentuk dagangan di jual di pasar tradisional Madinah. Mulai dari jam tangan, peci, tasbih, sajadah, mukenah, pernak pernik hiasan, gelang tangan, dan bahkan batu cincin. Biasanya pedagang kaki lima ini adalah orang-orang yang datang dari luar Arab Saudi.

Tidak hanya itu, setiap usai solat Shubuh, Anda juga akan mendengar pekikkan pedagang sarapan pagi. Meski berwajah arabian mereka dengan fasihnya berbahasa Indonesia.

Sarapan pagi yang dijual juga beraneka macam, mulai dari; lontong, mie, nasi goreng, nasih putih dan nasi kuning. Lauknya biasanya diisi ayam, ikan dan telur serta sedikit sayur. Sarapan pagi ini hanya seharga tiga reals untuk satu bungkusnya.

Begitupun, terkadang pedagang-pedagang kaki lima ini harus berkejar-kejaran dengan polisi Madinah yang setiap shalat terkadang melakukan razia di lapangan. (*)


laporan: Muja HD

 

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda