Menyoal Visi Calon Walikota Medan, Anwar Bakti: Multikulturalisme Akan Menggusur Kearifan Lokal!

KABARHUKUMMedan | Salah-satu pasangan calon walikota Medan yang akan berlaga dalam pilkada serentak 2015 secara eksplisit mengangkat isu “multikulturalisme” dalam visinya untuk meningkatkan pembangunan Kota Medan 5 tahun kedepan.

Anwar B
Anwar Bakti, aktivis Masyarakat Pribumi Indonesia.

Selengkapnya isi visi itu berbunyi: “Menjadi kota Masa Depan yang Multikultural, Berdaya Saing, Sejahtera, dan Relegius dalam bingkai kepribadian Budaya Bangsa”.

Menyikapi hal tersebut, Anwar Bakti aktivis Masyarakat Pribumi Indonesia mengatakan, bahwa penggunaan terminologi “multikultural” dalam visi tersebut perlu dipertanyakan apa maksudnya dan kemana arahnya.

“No, Multikulturalisme!” ujarnya dengan lantang kepada kabarhukum.com, ba’da Jum’at (28/8/2015).

Menurut Anwar, membangun Medan dengan semangat “Kebhinekaan” lebih pantas dikedepankan ketimbang menggunakan terminologi “Multikulturalisme”. (Baca juga: Anwar Bakti Trisakti: Jelang Pilkada Waspadai Imigran Gelap Ber-KTP Medan)

“Karena konsep Kebhinekaan memiliki akar filosofi yg kuat,lahir dari ruh bangsaIndonesia. Selama ini, kota Medan menjadi carut marut,karena kota ini kehilangan ‘Ruh’. Kita kehilangan semangat Bhineka Tunggal Ika,” jelas Anwar.

Lihatlah, lanjut Anwar, dominasi etnis tertentu dengan kekuatan kapitalnya secara arogan cenderung memperkuat komunitasnya dengan mengabaikan kearifan lokal (local wisdom).

“Dan sangat disesalkan pemerintah kota Medan selama ini seperti menutup mata, bahkan cenderung diintervensi oleh kekuatan kapitalis dari etnis tertentu,” tandasnya.

Terkait dengan hal tersebut, Anwar khawatir konsep multikulturalisme itu justru nantinya akan sangat merugikan masyarakat pribumi yang kian hari makin terpinggirkan, terutama secara ekonomi.

Menurutnya, multikulturalisme adalah sebuah konsep yang pretensius. Istilah itu sangat erat kaitannya dengan pluralisme dan sekularisme. Substansi dari multikulturalisme adalah kesediaan menerima kelompok lain secara sama sebagai satu kesatuan. Tanpa membedakan perbedaan budaya, etnik, gender, bahasa bahkan agama.

Lanjut Anwar, multikultural adalah penegasan bahwa perbedaan adalah keniscayaan.Implikasinya akan berdampak terhadap hilangnya rasa keadilan bagi masyarakat pribumi, terutama ummat Islam.

” Jelas ini pemahaman yang sesat lagi menyesatkan. Dikhawatirkan konsep ini akan menghilangkan rasa keadilan dan azas proporsionalitas yang juga merupak sebuah keniscayaan,” jelasnya.

Anwar mencurigai pemilihan istilah ini bukan tanpa sebab. Dia mensinyalir ada kelompok tertentu yang memiliki kepentingan dengan agenda tertentu untuk merusak keyakinan ummat Islam dan masyarakat Pribumi yang notabene mayoritas di kota ini.

Oleh karena itu, Anwar meminta warga kota Medan, khususnya masyarakat pribumi agar konsisten dengan konsep filosofi bangsa yang telah diyakini oleh masyarakat Indonesia selama ini. ” Multikulturalisme, No. Bhineka Tunggal Ika, Yes” pungkasnya. (*)


Laporan: Maestro Sihaloho

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda