Opini

Meluruskan Makna Radikalisme

Ilustrasi radikalisme.

Kalau kita mau jujur, secara historis bangsa ini sebenarnya memiliki jejak radikalisme yang sangat kuat dan berurat berakar. Bahkan jauh sebelum republik ini merdeka, radikalisme sudah menjadi watak yang inhern dengan bangsa ini.

Radikalisme secara epistimologi berasal dari bahasa Latin, yakni “radix, radicis”, artinya akar ; (radicula, radiculae: akar kecil). Bila dieksplorasi secara jujur, sesungguhnya  makna radikalisme adalah paham yang memandang penting hal-hal  yang sifatnya “akar” atau mengakar. Sedangkan perubahan radikal berarti perubahan yang mengakar,  esensial, substansial dan fundamental.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI), radikal  itu adalah secara mendasar (sampai kepada hal yang prinsip), amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan); maju dalam berpikir atau bertindak.

Namun dalam perkembangannya,terminologi  radikalisme telah mengalami distorsi pemaknaan yang sangat pretensius dan mengarah kepada stigmatisasi yang cenderung sarkastik. Oleh pihak-pihak tertentu, makna radikalisme itu kemudian dimanipulasi sedemikian rupa menjadi  sesuatu yang sangat, brutal, biadab, berbahaya dan destruktif. Sering radikalisme itu diidentikkan dengan fanatisme dan terorisme. Dan anehnya,  stigmatisasi itu sering  ditujukan terhadap agama tertentu.

Sebagai implikasinya dari stigmatisasi tersebut kemudian pemahaman dan kesadaran masyarakat digiring untuk menganggap tabu – bahkan dipaksa antipati – terhadap segala hal yang sifatnya esensial, substansial dan fundamental. Jika ada yang mencoba mempertanyan sesuatu yang sifatnya mendasar dan mengakar, maka dengan mudahnyanya dituding sebagai perbuatan yang erat kaitannya dengan aksi kekerasan dan terorisme.

Bila dicermati, sungguh aneh memang pemaknaan radikalisme yang dikembangkan dan dikampanyekan dewasa ini. Mengapa mempertanyakan sesuatu yang mengakar dan mendasar dianggap sesuatu yang tabu ? Bukankah eksistensi  bangsa dan negara  ini ada karena selama ini masih ditopang oleh nilai-nilai radikal yang mengakar dan mendasar,  yakni Pancasila yang sudah disepakati sebagai dasar dan ideologi  republik ini. Jadi kalau ada yang membela  Pancasila yang selama ini dalam praktik banyak dikhianati, maka sesungguhnya itu juga termasuk perjuangan radikal.

Dalam konteks Indonesia, secara paradigmatik sebetulnya gagasan wacana demokrasi filosofis cukup relevan dan signifikan untuk diterapkan dan dibudayakan. Karena, dari awal bangsa ini sudah memiliki Pancasila, yang diyakini sebagai sebuah formulasi falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara. Artinya, nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam Pancasila itu semestinya menjadi referensi utama untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara republik ini.

Selama ini, kita memang sudah mengenal  Pancasila sebagai dasar dan ideologi Indonesia. Namun masalahnya, secara empiris, sama sekali kita belum melihat dan merasakan Pancasila itu benar-benar telah menghablur menjadi karakter spesifik atau identitas konkrit dari corak kehidupan demokrasi bangsa ini. Sama sekali Pancasila itu tidak kita jadikan referensi kehidupan berbangsa dan negara secara jujur dan otentik. Artinya, keluhuran nilai-nilai Pancasila belum mampu kita implementasikan secara konkrit untuk memandu gerak kehidupan bernegara kita.

Justru selama ini pemaknaan dan penghayatan kita terhadap Pancasila itu sepertinya cenderung dokmatis dan formalistik. Bahkan, parahnya corak kehidupan bernegara yang berlaku justru sering bertolakbelakang dengan elan filosofi sejati Pancasila itu sendiri. Hal ini dikarenakan selama ini Pancasila dipahami dan diamalkan secara banal. Radikalitas Pancasila hanya diimplementasikan sebatas retorika dan jargon semata, tidak dalam pemahaman dan pengamalan yang otentik dan konkrit.

Jejak Radikalisme

Kalau kita mau jujur, secara historis bangsa ini sebenarnya memiliki jejak radikalisme yang sangat kuat dan berurat berakar. Bahkan jauh sebelum republik ini merdeka, radikalisme sudah menjadi watak yang inhern dengan bangsa ini.

Tidak bisa kita pungkiri, radikalisme lah sesungguhnya yang menjadi  watak sekaligus spirit para pahlawan bangsa ini ketika dulu berjuang melawan penjajah, yakni gerakan menuntut kemerdekaan. Ya, tidak diragukan lagi, tuntutan untuk merdeka dari penjajahan adalah tuntutan yang mendasar, yakni terbebas dan merdeka dari cengraman bangsa kolonial. Itulah sebabnya mengapa kemudian kaum penjajah menstigmatisasi para pejuang kemerdekaan sebagai kelompok ekstrimis yang dituding suka membuat keributan karena mengganggu kepentingan kaum penjajah.

Jika melihat apa yang dilakukan pihak penguasa dengan segenap aparatus negara yang dimilikinya, maka sepertinya itu tidak jauh beda dengan yang dipraktekkan oleh kaum penjajah dulu. Karena ada pihak tertentu yang berusaha mempertanyakan hal-hal yang mendasar dan mengakar, misalnya soal kebebasan, ketidakadilan dan sebagainya, dan itu mungkin kebetulan mengganggu kepentingan negara (penguasa), lantas kemudian mereka dituduh sebagai  pemberontak, pembuat onar, pengacau keamanan, penggangu stabilitas, anti kebhinekaan, teroris, fundamentalis dan sebagainya.

Tentu realitas yang sangat memprihatinkan bila sekarang banyak anak bangsa –terutama yang menjadi pemangku kekuasan- kemudian memiliki mentalitas yang picik, tidak jujur dan tidak objektif dalam memaknai sesuatu yang terkait dinamika hidup berbangsa dan bernegara. Padahal sekarang bangsa ini masih dililit oleh banyak  persoalan yang sesungguhnya mustahil bisa diselesaikan dengan cara-cara yang biasa, mengandalkan kompromi dan penuh sandiwara. Aneka problem  yang melanda bangsa sekarang ini memiliki akar yang akut, dan itu cuma  bisa diselesaikan dengan cara radikal dan idealisme yang militan.

Idealisme

Bagi bangsa Indonesia, sesuatu yangg ideal itu tak lain adalah apa yang telah menjadi cita-cita republik ini sejak berdiri sebagai bangsa dan negara yang merdeka dan berdaulat:  yaitu menjadi bangsa yang makmur dalam keadilan dan adil dalam kemakmuran. Artinya,dalam konteks kehidupan bernegara dan berbangsa, sesuatu yang ideal itu mungkin dapat kita gambarkan sebagai suatu potret situasi dan  kondisi bangsa yang makmur sejahtera, penuh keadilan, transparansi, bersih dan mempunyai wibawa di mata dunia. Itulah impian radikal yang dimiliki bangsa ini sejak merdeka.

Tapi bila kita saksikan realitanya sungguh bertolak belakang. Artinya ikhwal keidealan itu sama sekali belum terwujud di negeri ini. Secara praksis, untuk mewujudkan sesuatu yang ideal itu pastinya hanya bisa di lakukan oleh orang-orang yang memiliki idealisme di dadanya, dan ia berani mengekspresikan idealismenya tersebut.

Sungguh ironis dan menyedihkan memang, di zaman sekarang ini, di negeri ini, sepertinya menjadi seorang idealis  bukanlah sebuah pilihan tepat, strategis dan menguntungkan untuk dijadikan sebagai sikap, ideologi dan prinsip hidup, terutama bila dikaitkan dlm konteks pragmatisme ekonomi dan politik. Artinya, kalau ada yang “nekat” ingin menjadi seorang idealis, berarti ia sudah siap untuk kemudian “tidak kebagian”, di cap tak realistik,dikucilkan dan dituduh sok suci dan sebagainya. Bahkan yang lebih ekstim lagi, tak jarang seorang idealis di tuduh sebagai oposan, subversif, aliran kiri, kaum radikal-fundamentalis dan lain-lain sebagainya.

Di negeri ini, selama ini sebenarnya bukannya tidak ada orang-orang idealis. Ada dan selalu ada. Tapi jumlahnya adalah segelintir dari total jumlah anak bangsa yg nota-bene lebih banyak memilih jadi apatis dan oportunis. Memprihatinkan memang.Apa mungkin bangsa ini akan mampu bangkit dari keterpurukan  jika kebanyan warganya masih bermental egois ? Tidak ! Itu tidak mungkin. “Indonesia Baru” yg kita impikan akan tetap jadi sekedar mimpi utopis yang mustahil bisa di konversi jadi kenyataan.

Sungguh miris memang, tapi ini adalah kenyataan yg tak dapat kita pungkiri,sampai detik ini seorang “idealis” belum bisa dihargai dengan selayaknya di republik ini, sama persis dengan nasib “radikalis” yang yang justru dianggap berbahaya keberadaannya.

Penutup

Dengan demikian, tidak salah lagi, negara ini memang butuh perubahan radikal. Sudah saatnya negara ini bersikap radikal untuk bangkit dan memperbaiki diri. Untuk itu maka berhentilah membuat dagelan dan aksi pencitraan dalam mengurus negara ini. Bersegeralah membenahi republik ini mulai dari akar dan dasar persoalannya. Jangan lagi berkutat menyelesaikan persoalan yang terlihat nyata di hilir dan di atas permukaan. Tuntaskan dulu biang kerusakan yang ada didasar dan hulu.

Jika radikalisme itu dimiliki oleh rezim penguasa untuk membuat perubahan ke arah yang lebih baik, Insya Allah rakyat akan mendukung dan negeri ini akan pelan-pelan keluar dari kubang persoalan yang melilitnya. (*)


 

M. Risfan Sihaloho, Redpel kabarhukum.com

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda