Laporan Khusus "Islamophobia"

Islamophobia dan Ulah Media

English Defence League, sebuah grup Islamophobis berdemonstrasi anti-Islam di Newcastle, Inggris pada 2010.

Permusuhan terhadap Islam dan Muslim dinilai berhubungan erat dengan media yang menggambarkan Islam sebagai barbar, tidak rasional, primitif dan asusila.

* * *

Pada 2012 dilaporkan bahwa kelompok kontra-jihad di Eropa dan Amerika Utara menjadi lebih kohesif dengan memerkuat aliansi. Sekitar 190 kelompok setidaknya telah diidentifikasi mempromosikan agenda Islamophobia di kawasan tersebut dan memerluas propagandanya melalui jaringan internet. Peran media memang tak terelakkan di sini.

Dalam Encyclopedia of Ras dan Etnis Studi,  Elizabeth Poole mengkritik media karena telah melakukan tindakan Islamophobia. Dia mengutip sebuah studi kasus yang memeriksa sampel dari artikel di pers Inggris dari 1994 dan 2004, yang menyimpulkan sudut pandang Muslim tidak terwakili dan bahwa isu-isu yang melibatkan umat Islam biasanya digambarkan dalam cahaya yang negatif. “Penggambaran tersebut, termasuk penggambaran Islam dan Muslim sebagai ancaman terhadap keamanan dan nilai-nilai Barat dan nilai-nilai,” kata dia.

Permusuhan terhadap Islam dan Muslim dinilai berhubungan erat dengan media yang menggambarkan Islam sebagai barbar, tidak rasional, primitif dan asusila. Buku John E Richardson berjudul “(Mis) Representing Islam: The Racism and Rhetoric of British Broadseheet Newspaper” yang terbit pada 2004, mengkritik media Inggris yang menyebarkan stereotip negatif tentang Muslim dan memicu prasangka anti-Muslim. Dalam penelitian lain yang dilakukan oleh John Richardson, ia menemukan 85% dari arus utama artikel surat kabar Inggris memperlakukan Muslim sebagai ancaman bagi masyarakat Inggris.

Beberapa cover media di Inggris yang menggambarkan Islamophobia. (foto: twistislamophobia)

Pada 2009, Mehdi Hasan (jurnalis Inggris) di media New Statesman Inggris, mengkritik media Barat yang lebih banyak melaporkan beberapa insiden teroris Islam, tetapi meluputkan pelaporan yang jauh lebih besar dari serangan teroris non-Islam yang dilakukan oleh “orang kulit putih non-Irlandia”.

Studi yang dilakukan pada 2012 menunjukkan bahwa umat Islam di negara-negara Eropa yang berbeda, seperti Perancis, Jerman dan Inggris, mengalami tingkat Islamofobia yang tertinggi di media. Tokoh dan pekerja di media telah dituduh sebagai Islamophobia. Bahkan, artikel obituari wartawan Italia, Oriana Fallaci, di media Inggris, The Guardian, menggambarkan sosok Oriana dengan frasa “terkenal karena Islamophobia“.

Sebelumnya, pada 2008, lembaga  Fairness and Accuracy in Reporting (FAIR) juga telah menerbitkan sebuah studi berjudul “Smearcasting, How Islamophobes Spread Bigotry, Fear and Misinformation.” Laporan tersebut mengutip beberapa contoh di mana media mainstream, penulis dan akademisi telah membuat analisis yang menyematkan sifat-sifat negatif sebagai bagian inheren dari Muslim.

FAIR juga mendirikan “Forum Against Islamophobia dan Racism”, yang dirancang untuk memantau liputan di media dan membangun dialog dengan organisasi media. Setelah serangan 11 September 2001, Masyarakat Islam Inggris menggelar “Islam Awareness Week” dan “Best of British Islam Festival” untuk meningkatkan hubungan masyarakat dan meningkatkan kesadaran tentang Islam. Pada 2012, Organisation of Islamic Cooperation di Inggris menyatakan bahwa mereka akan meluncurkan saluran TV untuk melawan Islamophobia.

Tak hanya televisi, iklan juga menjadi salah satu modus gerakan Islamophobia. Pada Agustus 2012, Stop Islamization of America (SIOA) diketahui telah memasang iklan billboard di stasiun kereta bawah tanah New York. Iklan itu mengklaim telah terjadi 19.250 serangan teroris oleh umat Islam sejak 9/11 dan menyatakan “itu tidak Islamophobia, itu Islamorealism.” Dalam iklan running text tertulis, “dalam setiap perang antara manusia beradab dan biadab itu, mendukung manusia beradab. Dukung Israel. Kalahkan Jihad.

Beberapa kelompok mengutuk iklan itu sebagai pernyataan kebencian terhadap semua muslim. Stop Islamization of America (SIOA) dan Freedom Defense Initiative ditetapkan sebagai kelompok yang mengumandangkan kebencian oleh Anti-Defamation League (ADL) dan Southern Poverty Law Center. ADL merupakan organisasi Yahudi non-pemerintahan  di Amerika Serikat.

 

…Istilah ‘Islam’, seperti yang sering digunakan sekarang, sekilas seperti sebuah hal sederhana saja, tapi pada kenyataannya merupakan bagian fiksi, label ideologis, penunjukan minimal dari sebuah agama yang disebut Islam. … Di sisi lain, ‘Islam’ adalah suatu berita khusus yang menimbulkan trauma di Barat… Selama beberapa tahun terakhir ini, terutama karena peristiwa di Iran telah menarik perhatian Eropa dan Amerika dengan begitu kuat, media kemudian membahas pada Islam: mereka menggambarkannya, memberi karakteristik terhadapnya, dianalisis, membuat kursus singkat untuk membahasnya dan akhirnya membuat diri mereka ‘sudah tahu’. (Edward Said)

 

Pada awal Januari 2013, Defense Initiative Freedom memasang iklan di 39 stasiun kereta bawah tanah New York yang isinya menunjukkan peristiwa World Trade Center 2001 disertai kutipan yang diklaim dari Al-Qur’an: “Segera akan kita jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.”

English Defence League (EDL), sebuah organisasi yang didirikan pada 2009 di Inggris, juga secara langsung menggambarkan dirinya anti-Muslim. Organisasi ini menentang apa penyebaran Islamisme, hukum Syariah dan ekstremisme Islam di Inggris. Tommy Robinson, mantan pemimpin EDL, meninggalkan grup ini pada 2013 setelah mengakui bahwa ia kewalahan dan tidak bisa mengendalikan anti ekstremisme-muslim dalam keanggotaannya.

Tak pelak, penggambaran Islam dan pemeluknya oleh media, sangat memengaruhi pola pandang masyarakat terhadap Islam. Walau, pola pandang itu diyakini hanya sebuah persepsi yang bersifat stereotif dan sitgmatis. Edward Said, dalam bukunya Covering Islam (1997), menulis begini:

“…Istilah ‘Islam’, seperti yang sering digunakan sekarang, sekilas seperti sebuah hal sederhana saja, tapi pada kenyataannya merupakan bagian fiksi, label ideologis, penunjukan minimal dari sebuah agama yang disebut Islam… Di sisi lain, ‘Islam’ adalah suatu berita khusus yang menimbulkan trauma di Barat… Selama beberapa tahun terakhir ini, terutama karena peristiwa di Iran telah menarik perhatian Eropa dan Amerika dengan begitu kuat, media kemudian membahas pada Islam: mereka menggambarkannya, memberi karakteristik terhadapnya, dianalisis, membuat kursus singkat untuk membahasnya dan akhirnya membuat diri mereka ‘sudah tahu’. (*)


LaporanTim Redaksi
SumberDirangkum dari beberapa sumber
CatatanArtikel ini merupakan tulisan ketiga. Tulisan pertama bertajuk Kebencian Bertajuk Islamophobia , tulisan kedua Kelindan Islamophobia, Rasisme dan Diskriminasi

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda