Laporan Khusus ISIS

ISIS, Metamorfosa Kelompok Terlarang

Anggota ISIS dengan latar korban yang akan dieksekusi dalam video yang dirilis ISIS. Disebutkan, video itu dinarasikan dengan seseorang yang sangat fasih berbahasa Inggris dengan logat Amerika Utara. (foto: alhayat/cnn)

Gerakan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) diinformasikan telah semakin menyusut setelah pusat kekuasaan mereka di Mosul, Irak dan Raqqah, Syria, jatuh. Beberapa serangan di luar Timur Tengah, terutama di Eropa, yang menyentak akhir-akhir ini, membuka analisa baru bahwa ISIS telah mulai mengalihkan serangannya langsung ke dunia Barat. ISIS sendiri bukanlah sebuah organisasi langsung jadi dan tak sepi dari konflik internal.

* * *

Pada 2004, kelompok ini mulanya dikenal dengan nama Jamaʻat al-Tawhid wa-al-Jihad (Jamaah Tauhid dan Jihad). 

Menurut dokumen yang dikeluarkan Uppsala Data Conflict Programme: Conflict Encyclopaedia (Iraq), pada Oktober 2004, pemimpin kelompok ini, Abu Musab al-Zarqawi, menyatakan loyalitasnya kepada Osama ibn Laden dan merubah nama kelompok mereka menjadi Tanzim Qaʻidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn yang artinya adalah Organisasi Jihad di Negara Dua Sungai. Tapi oleh pers barat, mereka lebih terkenal dengan nama Al-Qaeda in Iraq (AQI).

Pada Januari 2006, AQI diperkuat dengan beberapa kelompok kecil di Iraq yang kemudian mendirikan organisasi baru yang memayungi mereka dan beberapa kelompok lainnya di antaranya Jaish al-Ta’ifa al-Mansurah, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah, Saray al-Jihad Group, al-Ghuraba Brigades, dan al-Ahwal Brigades. Organisasi baru ini bernama Majlis Shura al-Mujahideen fi al-Iraq atau Mujahideen Shura Council (MSC).

Lembaga intelijen AS, menyebut, keanggotan mereka menyentuh angka seribu orang. Namun jumlah itu disebutkan semakin mengecil karena banyaknya prajurit mereka tewas dalam aksi bunuh diri. Pada Maret 2007, AS melaporkan kelompok ini bertanggungjawab terhadap 43 serangan dari total 439 serangan ke militer Irak dan milisi Shiah. Dari 357 serangan ke militer AS, grup ini diklaim bertanggungjawab terhadap 17 serangan.

Hal di atas menyimpulkan tipikal korban serangan AQI adalah kelompok militer apakah Irak dan AS serta termasuk sejumlah besar warga Shiah di Irak. Namun, tewasnya pimpinan grup ini, al-Zarqawi pada Juni 2006, membuat grup ini kian melemah.

Pada Oktober 2006, MSC memilih bergabung dengan faksi-faksi lain yang berserak dan suku-suku lain di Iraq dan mendirikan aliansi yang dikenal dengan nama Hilf al-Mutayyabin atau bila diartikan secara sederhana yaitu Satu Sumpah yang Wangi. Mereka bersumpah membebaskan kaum Sunni Iraq dari cengkraman Shiah dan hendak menegakkan kejayaan Islam kembali.

Pada 13 Oktober 2006, mereka mengumumkan terbentuknya Dawlat al-ʻIraq al-Islamiyah atau Islamic State of Iraq (ISI). Orang Timur Tengah sendiri lebih suka menyebut “Daesh“. Sebuah “pemerintahan” kemudian dibentuk dan dipimpin oleh Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi sebagai Emir. Laporan intelijen AS mengatakan, mereka juga disokong oleh seorang berkebangsaan Mesir bernama Abu Ayyub al-Masri. Mereka mengklaim wilayah Baghdad, Anbar, Diyala, Kirkuk, Salah al-Din, Nineveh, dan sebagian Babil, masuk dalam wilayah mereka.

Deklarasi kelompok ini tidak langsung mendapat dukungan dari kelompok lain yang berada di dalam dan luar Irak. Apalagi, dalam serangan-serangannya, ternyata kelompok AQI-ISI, juga membunuh kaum sipil Sunni di Irak. Hal ini membuat dukungan masyarakat Sunni di Irak terhadap mereka kian menipis. Apalagi, militan Sunni di Irak kemudian memilih bekerjasama dengan militer AS untuk memerangi mereka. Tercatat kelompok seperti al-Jaysh al-Islami fī’l-‘Iraq  (Islamic Army in Iraq/IAI) dan milisi dari suku-suku di Irak yang tergabung dalam Majlis Inqadh al-Anbar (Anbar Salvation Council/ASC) justru berseberangan dan kemudian berdampingan dengan militer pemerintah Irak dan tentara AS.

Pada April 2007, IAI mengumumkan ISI telah membunuh 30 anggota mereka termasuk anggota Jamaat Ansar al-Sunna dan Jaish al-Mujahideen (Tentara Mujahidin) Iraq. IAI meminta Osama ibn Laden turun tangan langsung untuk memeringatkan AQI. Pada Juni 2007, IAI bersedia melakukan gencatan senjata dengan AQI namun tidak dengan ISI.

Hingga Desember 2007, kekuatan AQI-ISI terus melemah. Laporan jurnalis New York Times, Alissa J Rubin pada Desember 2007 berjudul “In a Force for Iraqi Calm, Seeds of Conflict“, menyebutkan, karena serangan AQI-ISI yang membabi buta, termasuk pada pemimpin Sunni Sheikh Abdul Sattar Abu Risha, kelompok Hamas di Iraq dan Brigade Revolusi 1920 serta kelompok-kelompok kecil lainnya di Irak, membuat perlawanan terhadap AQI-ISI kian besar. Melalui Majlis Inqadh al-Anbar yang banyak diikuti oleh penduduk lokal Irak, dewan ini membesar hingga memiliki pasukan yang diperkirakan 56.000-80.000 personil. Banyak dari mereka sebelumnya dilaporkan justru adalah pemberontak dan pendukung AQI. Disebutkan dalam laporan itu, mereka kemudian dipersenjatai dan dibiayai oleh AS untuk melawan Al-Qaeda di Iraq.

AQI pun semakin melemah. Namun rupanya, dalam kurun dua tahun, menurut laporan militer AS, melemahnya AQI itu di sisi lain telah menguatkan organisasi ISI secara keseluruhan. Militer AS menyebutkan, justru pada kurun waktu dua tahun itu telah banyak warga Irak yang ikut bergabung dengan ISI. Itu termasuk warga dari negara-negara lain.

* * *

Antrian warga Irak di Mosul, pada 7 Juni 2017, selama pertempuran saat pasukan Irak mencoba merebut kembali kota Mosul dari kelompok ISIS. (independent/AFP/Getty Images)

Salah satu titik balik ISIS terjadi di 2010. Dalam sebuah operasi militer AS pada April 2010, kedua pemimpin kelompok ini, Abdullah al-Rashid al-Baghdadi alias Abu Omar al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri, terbunuh. Kemudian, kelompok ini mendapat pemimpin baru bernama Abu Bakr al-Baghdadi pada 16 Mei 2010 hingga sekarang.

Lalu, pendiri dan pemimpin Al-Qaeda tewas pada 2 Mei 2011 oleh militer AS di Pakistan. Al-Baghdadi membalas serangan ini dengan mengklaim bertanggung jawab terhadap serangan militer di Hilla (100 km di Selatan Baghdad) pada 5 Mei 2011. Serangan ini menewaskan 24 polisi setempat dan melukai 72 orang. Pada 15 Agustus 2011, serangan bom bunuh diri ISI juga semakin tinggi di Mosul. Dilaporkan, setelah kematian Osama ibn Laden, ISIS telah melancarkan lebih dari 100 serangan di seluruh penjuru Irak .

Namanya kemudian semakin dikenal ketika pada 28 Agustus 2011 melancarkan aksi serangan bom bunuh diri di Masjid Umm al-Qura di Baghdad. Serangan ini membuat pakar hukum Sunni yang cukup terkenal Khalid al-Fahdawi, wafat.

Pada bulan itu juga, Agustus 2011, Abu Bakr al-Baghdadi telah mengirim anggotanya yang berpengalaman dalam perang gerilya untuk menyeberang perbatasan Syria. Dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jawlani, mereka merekrut anggota baru di seluruh wilayah Syria. Pada Januari 2012, mereka mendirikan kelompok bernama Jabhat al-Nusra l’Ahl as-Sham yang lebih dikenal dengan nama “al-Nusra Front”.

Pada April 2013, ISI resmi berekspansi ke Syria ketika Abu Bakr al-Baghdadi mengumumkan bahwa ISI-lah yang mendirikan dan mendanai al-Nusra Front. Al-Baghdadi menggabungkan ISI dan al-Nusra menjadi al-Dawla al-Islamiya fi Iraq wa al-Sham atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS). Mereka juga disebut oleh media AS dan Eropa sebagai “Islamic State of Iraq and the Levant” (ISIL). Perubahan nama ini hanya istilah saja karena bahasa Arab menyebut wilayah Syiria sekarang sebagai “al-Sham”. Sementara yang dimaksud dengan “Levant” oleh media AS-Eropa adalah Syria yang luas. Pemerintah AS menyebut mereka secara resmi dengan sebutan ISIL.

Namun, Abu Muhammad al-Jawlani memprotes penggabungan al-Nusra dengan ISI. Pada Juni 2013, media Al-Jazeera melaporkan bahwa pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, mengirimkan surat kepada mereka berdua (Abu Bakar al-Baghdadi dan Abu Muhammad al-Jawlani) yang isinya menolak penggabungan tersebut.

Abu Bakar Al-Baghdadi, pemimpin ISIS.

Pada bulan yang sama, al-Baghdadi merilis pesan bahwa dia menolak aturan Zawahiri dan penggabungan itu akan terus dijalankan. Pada Oktober 2013, Zawahiri memerintahkan al-Nusra untuk mengabaikan ISIS dan memposisikan al-Nusra sebagai komando utama gerakan di Syria. Pada Februari 2014, Al-Qaeda mengumumkan bahwa mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan ISIS. Dengan demikian, di titik ini, pecahlah hubungan antara Al-Qaeda dan ISIS pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi.

Antara al-Nusra dan ISIS memang memiliki pertentangan tujuan di Syria. Misalnya, perjuangan al-Nusra bertujuan untuk menjatuhkan Presiden Syaria, Bashar Hafez al-Assad. Sementara, ISIS bertujuan untuk merubah seluruh wilayah Syria ada dalam kekuasaannya. Dalam prakteknya, ISIS digambarkan jauh lebih kejam dalam mendirikan negara Islam versi mereka.

Perbedaan lain, warga Syria lebih menganggap al-Nusra “lebih Syria” daripada ISIS yang mereka anggap sebagai “penjajah” dari negara lain. Padahal sebenarnya, baik al-Nusra dan ISIS juga mengandalkan pasukan asing dalam organisasinya. Tentara asing di Rusia misalnya tergabung dalam Jaish al-Muhajireen wal-Ansar (JMA). Namun, JMA pun terpecah ketika pemimpin militan dari Chechnya, Abu Omar al-Shihani bergabung dengan ISIS.

Meski demikian, konflik al-Nusra dan ISIS mengalami naik turun. Pada Mei 2014, pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri memerintahkan al-Nusra untuk berhenti menyerang ISIS. Tapi, tidak semua yang mematuhinya. Sementara pada Juni 2014, cabang al-Nusra di al-Bukamal (sebuah kota di Syria) justru menyatakan diri bergabung dengan ISIS.

ISIS juga berkonflik dengan pemberontak Syria yang tergabung dalam kelompok al-Jabhat al-Islamiyyah (Islamic Front) dan al-Jaysh as-Suri al-Hurr atau Free Syrian Army (FSA). Pertempuran kedua kelompok ini melawan ISIS misalnya terpampang di Aleppo, Syria, pada Januari 2014.

Namun, ISIS tampaknya semakin kuat. Sampailah pada beberapa bulan berikutnya ketika pada 29 Juni 2014, Abu Bakr al-Baghdadi resmi memproklamirkan terbentuknya kekhalifahan Islam versinya sendiri yang beribukota di Mosul, Irak, setelah dia mengklaim dipilih oleh sebuah majelis Ahl al-Hall wal-Aqd, perkumpulan dari beberapa wakil komunitas Islam di sana.

Deklarasi kekhalifahan ini tak langsung mendapat dukungan namun justru banyak menuai kritikan terutama oleh pemerintah, ulama dan kelompok-kelompok garis keras dari Timur Tengah. Ulama Qatar, Yusuf al-Qardhawi, seperti ditulis di media AS, Telegraph, edisi 5 Juli 2014, mengomentari deklarasi ini dengan mengatakan: “Pernyataan yang dikeluarkan oleh Negara Islam tersebut batal di bawah syariah dan memiliki konsekuensi berbahaya bagi kaum Sunni di Irak dan untuk pemberontakan di Suriah”.

Qardhawi juga mengatakan, khalifah hanya dapat diberikan oleh seluruh bangsa muslim di dunia, bukan oleh satu kelompok.

Telegraph juga mengutip pernyataan Imam Besar Al-Azhar Mesir yang disampaikan oleh juru bicaranya, Sheikh Abbas Shuman kepada AFP, yang menyebut bahwa gerakan IS adalah teroris. “Kekhalifahan Islam tidak bisa ditegakkan atas kekuatan. Menjajah sebuah negara dan membunuh setengah populasinya bukanlah disebut sebuah negara Islam melainkan terorisme,” katanya.

* * *

Banyak umat Islam di seluruh dunia yang menilai ISIS sangat kejam dalam aksinya dan menciderai doktrin Islam yang cinta damai dan penuh kasih sayang. Juga termasuk merusak etika-etika perang dalam Islam. Dalam laporan PBB, pada kurun 5-22 Juni 2014 saja, ISIS disebutkan telah membunuh warga sipil Irak dan melukai seribu orang. ISIS juga merilis foto-foto dan video penembakan mereka terhadap anak-anak muda. PBB menyebut aksi-aksi ISIS itu sebagai pembunuhan berdarah dingin.

Di 2017 ini, markas ISIS di Mosul, Iraq telah jatuh menyusul kejatuhan markas mereka di Raqqah, Syria. Karena itu, ketika beberapa serangan di luar Timur Tengah, terutama di Eropa, menyentak akhir-akhir ini (terakhir di Barcelona, Spanyol, yang diklaim ISIS), membuka analisa baru bahwa ISIS telah mulai mengalihkan serangannya langsung ke dunia Barat.

Apalagi sebelumnya, Abu Bakar al-Baghdadi, pemimpin ISIS, pernah berujar bahwa kekhalifahan yang hendak mereka bentuk bukan hanya di Irak dan Syria saja, melainkan mereka juga akan pergi menaklukkan “Roma“. Statemen ini sempat dilansir media huffingtonpost di edisi Juli 2014 yang menuliskan statemen itu berdasar pada rekaman suara al-Baghdadi itu. “Roma“, secara umum, memang bukan hanya merujuk pada kota Roma di Italia, namun lebih sering ditafsirkan sebagai belahan dunia “Barat” alias Eropa dan AS. (*)

Kronologi Cikal-bakal ISIS

2004 Abu Musab al-Zarqawi mendirikan Jamaʻat al-Tawhid wa-al-Jihad
Oktober 2004 al-Zarqawi menyatakan loyalitasnya kepada Osama ibn Laden. Nama kelompok mereka menjadi Tanzim Qaʻidat al-Jihad fi Bilad al-Rafidayn (Organisasi Jihad di Negara Dua Sungai). Lebih terkenal dengan nama Al-Qaeda in Iraq (AQI).
Januari 2006 Mujahideen Shura Council (MSC) berjudul.
Juni 2006 al-Zarqawi tewas.
Oktober 2006 MSC mendirikan aliansi dengan nama Ḥilf al-Muṭayyabin (Satu Sumpah yang Wangi).
13 Oktober 2006 Dawlat al-ʻIraq al-Islāmīyah atau Islamic State of Iraq (ISI) terbentuk. Abu Abdullah al-Rashid al-Baghdadi sebagai Emir. Mereka disokong oleh seorang berkebangsaan Mesir bernama Abu Ayyub al-Masri. Kelompok seperti Islamic Army in Iraq (IAI) dan milisi dari suku-suku di Irak yang tergabung dalam Anbar Salvation Council (ASC) berseberangan.
April 2007 IAI mengumumkan ISI telah membunuh 30 anggota mereka termasuk anggota Jamaat Ansar al-Sunna dan Mujahidin Army. IAI meminta Osama ibn Laden turun tangan langsung untuk memeringatkan AQI.
Juni 2007 IAI bersedia gencatan senjata dengan AQI namun tidak dengan ISI.
Desember 2007 AQ terus melemah. Serangan AQI-ISI yang membabi buta, termasuk pada pemimpin Sunni Sheikh Abdul Sattar Abu Risha, kelompok Hamas di Iraq dan Brigade Revolusi 1920 serta kelompok-kelompok kecil lainnya di Irak, membuat perlawanan terhadap AQI-ISI kian besar. Mereka kemudian membentuk “Dewan Kebangkitan Anbar”.
April 2010 Pemimpin kelompok ini, Abdullah al-Rashid al-Baghdadi dan Abu Ayyub al-Masri, terbunuh.
16 Mei 2010 Abu Bakr al-Baghdadi menjadi pemimpin ISI.
Agustus 2011 Al-Baghdadi mengirim anggotanya ke Syria dipimpin oleh Abu Muhammad al-Jawlani.
Januari 2012 Al-Jawlani mendirikan Jabhat al-Nusra l’Ahl as-Sham, lebih dikenal dengan “al-Nusra Front”.
April 2013 Al-Baghdadi mengumumkan ISI mendirikan dan mendanai al-Nusra Front. Al-Baghdadi menggabungkan ISI dan al-Nusra menjadi al-Dawla al-Islamiya fi Iraq wa al-Sham atau Islamic State of Iraq and al-Sham (ISIS). Al-Jawlani memprotes penggabungan ini.
Juni 2013 Pemimpin al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri, menolak penggabungan tersebut. Al-Baghdadi menolak aturan al-Zawahiri dan meneruskan penggabungan.
Oktober 2013 Al-Zawahiri memerintahkan al-Nusra untuk mengabaikan ISIS dan memposisikan al-Nusra sebagai komando utama gerakan di Syria.
Februari 2013 Al-Qaeda mengumumkan, mereka tidak memiliki hubungan apapun dengan ISIS.
Januari 2014 ISIS terlibat dengan pemberontak Syria yang tergabung dalam kelompok Islamic Front dan Free Syrian Army (FSA).
Mei 2014 Bos al-Qaeda, Ayman al-Zawahiri memerintahkan al-Nusra untuk berhenti menyerang ISIS. Tidak semua mematuhinya. Cabang al-Nusra di al-Bukamal (sebuah kota di Syiria) menyatakan diri bergabung dengan ISIS.
29 Juni 2014 Abu Bakr al-Baghdadi resmi memproklamirkan terbentuknya kekhalifahan Islam versinya sendiri di Mosul, Irak. Di Syria, mereka menjadikan ar-Raqqah sebagai markas besarnya.
Sumber: diolah dari berbagai sumber

Laporan: Tim Redaksi
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber
Catatan: Laporan Khusus ini dibuat dalam dua artikel yaitu ISIS, Metamorfosa Gerakan Terlarang dan ISIS, Negara Adidaya dan Uang yang Berlimpah.

ARTIKEL TERKAIT

One Thought to “ISIS, Metamorfosa Kelompok Terlarang”

Komentar Anda