Laporan Khusus ISIS

ISIS, Negara Adidaya dan Uang yang Berlimpah

Pengungsi yang berjalan di sekitar kawasan Qayara, selatan Mosul Irak, selama terjadi pertempuran antara pasukan Irak dan ISIS, Juni 2017. (foto: independent/AP)

Pemerintah secara resmi telah melarang gerakan Islamic State of Iraq Syiria (ISIS) beraktivitas di Indonesia sejak 2014 lalu. Tidak hanya pemerintah, ormas Islam juga telah mengeluarkan kebijakan resmi untuk menolak gerakan ISIS. Tapi ISIS bukanlah organisasi teror yang kere, melainkan berlimpah kekayaan. Dia juga terkait dengan negara adidaya.

* * *

Senin, 4 Agustus 2014, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam), Djoko Suyanto, menyampaikan secara resmi sikap pemerintah terhadap gerakan Islamic State of Iraq and Syiria alias ISIS. Usai sidang kabinet terbatas di kantor Presiden, Djoko menyatakan, ISIS dinyatakan sebagai organisasi terlarang untuk masuk dan berkembang di Indonesia. ISIS dinilai dinilai tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan azas kebhinekaan.

“ISIS bukan masalah agama. Ini adalah masalah ideologi yang kalau kita kaitkan dengan negara kita, maka ini tidak sama, dan bertentangan dengan ideologi Pancasila kita, keberadaan negara kesatuan kita dan kebhinekaan kita,” tegas Djoko Suyanto.

Menurut Menko Polhukam, pemerintah melakukan berbagai tindakan untuk mencegah masuknya ISIS, di antaranya mencegah berdirinya perwakilan-perwakilan, pengembangan paham ISIS di Indonesia. “Indonesia tidak boleh menjadi tempat persemayaman paham ISIS tersebut,” katanya. Presiden, kata Djoko, memerintahkan Kementerian Agama bekerjasama dengan  para tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh-tokoh ulama, untuk melakukan upaya-upaya pencerahan dan penyadaran publik terhadap pengaruh-pengaruh negatif keberadaan paham ISIS maupun IS tersebut.

Ormas Islam pun serupa. PP Muhammadiyah, organisasi Islam terbesar di Indonesia menyatakan hal serupa. Dalam pernyataan resminya pada 12 Agustus 2014, Muhammadiyah berpandangan bahwa dilihat dari konteks kelahirannya, ISIS merupakan gerakan politik radikal yang lahir sebagai reaksi atas situasi politik dalam negeri lrak dan Syria. ISIS bukanlah gerakan Islam, tetapi gerakan politik yang mengatasnamakan lslam untuk merebut kekuasaan politik di lrak dan Syiria.

“ISIS tidak ada hubungannya dengan persoalan politik di negara-negara lainnya, termasuk di Indonesia,” demikian bunyi pernyataan yang ditandatangani Ketua PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsudin dan Sekretaris Dr H Abdul Mu’ti MEd.

* * *

ISIS merupakan organisasi yang tidak langsung jadi. Metamorfosa organisasi ini dijalani dari Al-Qaeda in Iraq (AQI) (2003–2006), Majlis Shura al-Mujahideen fi al-Iraq atau Mujahideen Shura Council (2006–2006) dan Islamic State of Iraq (ISI) (2006–2013). Kelompok ini dilengkapi personil dari pasukan-pasukan pemberontak pemerintah di beberapa negara Arab seperti kelompok Jaish al-Ta’ifa al-Mansurah, Katbiyan Ansar Al-Tawhid wal Sunnah, Saray al-Jihad Group, al-Ghuraba Brigades, dan al-Ahwal Brigades.

ISIS menemukan momentum besarnya ketika pecah perang sipil di Syria. Perang ini kemudian semakin memerkuat posisi pemimpin utama ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Secara sosial politik ekonomi, perlakuan diskriminatif di bidang ekonomi dan politik kaum Sunni Irak pasca kejatuhan Saddam Husein menjadi bibit penyubur gerakan ini.

Dalam artikel-artikel jurnalistik yang ditulis Thomas E Rick, Dafna Linzer di Washington Post pada kurun 2006, juga Richard Engel di MSNBC dalam laporannya yang berjudul “Dangers of the Baghdad Plan” pada 2007, melaporkan gerakan ISIS yang radikal dan mengambil jalan kekerasan dan kejam.

Disebutkan, pada masa Perang Irak 2003-2011, pasca puncak perang Irak 2003-2011, kehadiran mereka secara signifikan mulai terlihat di Al-Anbar, Kirkuk, Diyala, Baghdad dan mengklaim Baqubah sebagai konsentrasi mereka. Ketika perang sipil di Syiria, ISIS makin terlihat jelas di kawasan Syiria seperti Ar-Raqqah, Idlib dan Aleppo.

ISIS mudah dikenali karena gerakan mereka yang menafsirkan hukum Islam secara keras dan mengimplementasikannya secara brutal. Itu terutama terjadi pada pengikut Shiah, juga kelompok kepercayaan dan agama lain seperti Kristen, Yazidis, Druze, Shabakis dan Mandeans. Media-media Amerika dan sebagian media Arab, melaporkan paling tidak waktu itu, ISIS sudah mempunyai kekuatan 4.000 pasukan di Irak yang menyerang pemerintah dan membunuh ribuan masyarakat sipil di Irak.

ISIS juga dilaporkan mempunyai jaring kedekatan dengan al-Qaeda hingga awal 2014. Namun, al-Qaeda disebutkan memutus hubungan dengan ISIS pada Februari 2014 karena gerakan ISIS yang sangat brutal terhadap siapapun yang menentang dan tidak sealiran dengan mereka. Versi lain mengatakan, pemimpin ISIS, Abu Bakar Al-Baghdadi tidak mau patuh terhadap Ayman al-Zawahiri pemimpin Al-Qaeda pasca tewasnya Osama ibn Laden.

Tujuan utama ISIS adalah membentuk kekhalifan Islam versi mereka di Irak. Setelah mereka juga masuk ke Syria, maka mereka pun memasukkan wilayah ini sebagai tujuan mereka. Abu Bakr Al-Baghdadi memproklamirkan kekhalifahan itu pada 29 Juni 2014. Dia menggelari dirinya sebagai Amir al-Mu’minin Khalifah Ibrahim.

* * *

Tentara Kurdi tampak berjaga-jaga mengamankan pengiriman minyak ke kilang minyak di Kalak, Arbil, wilayah Kurdistan Iraq, pada 14 Juli 2014. Salah satu pemasukan ISIS adalah menguasai ladang minyak dan merampok pasokan minyak di Timur Tengah. (foto: reuters/stringer)

Dari studi terhadap lebih 200 dokumen yang dilakukan oleh RAND Corporation (sebuah lembaga think tank milik Amerika Serikat) pada 2014, ditemukan bahwa mulai 2005-2010, donasi eksternal yang mengalir ke ISIS hanyalah 5% sementara sisanya diperoleh dari dalam Irak. Dilaporkan juga kalau 20% pendapatan mereka diperoleh dengan cara menculik dan pemerasan yang dilakukan oleh level pimpinan ISIS.

Level-level pimpinan di ISIS menyetor dana ke level di atasnya untuk membiayai pertempuran dan serangan-serangan militer. Laporan juga menyebutkan, bahwa ISIS tergantung dari anggota mereka yang berasal Mosul, Irak.

Di pertengahan 2014, intelijen Irak menyebutkan bahwa ISIS memiliki aset hingga US$2 Miliar yang membuatnya menjadi grup ekstrem-radikal paling kaya di dunia.

Sekitar 3/4 aset ini, diinformasikan, dihasilkan setelah mereka berhasil merebut Mosul pada Juni 2014. Kemungkinan ini diperkuat dengan adanya uang sebesar US$429 Juta yang terdapat di Central Bank of Mosul dan uang dari bank-bank lain serta pasokan emas batangan yang terdapat di kawasan tersebut. Namun, laporan ini masih diperdebatkan kebenarannya.

Sumber pemasukan lainnya adalah pemerasan dan perampokan rutin dari truk-truk yang melewati kawasan mereka dan pelaku bisnis yang sedang berkembang. Perampokan bank dan toko-toko emas juga menjadi salah satu modus mereka.

Namun laporan lain menyebutkan, ISIS juga memeroleh sokongan dana dari negara-negara Timur Tengah lainnya. Iran dan Perdana Menteri Irak, Nouri al-Maliki sendiri pernah menuduh Saudi Arabia dan Qatar telah mendanai ISIS, walau tuduhan ini tidak pernah dibuktikan.

ISIS juga dipercaya menerima dana dari operasi mereka di Timur Syria yang merupakan kawasan kaya minyak, hasil tambang dan artefak arkeologi. ISIS juga dinilai memeroleh keuntungan dari produksi minyak mentah dan energi listrik di Utara Syria. Sebagian dari daya listrik ini, disebutkan oleh beberapa sumber, kemudian dijual kembali ke pemerintah Syiria.

Seorang warga Syria menuang minyak mentah yang dibawa dari provinsi Deir Ezzor, Raqqa, Syria, ke dalam sebuah lubang dimana ia akan didistilasi sebagai bagian dari proses pemurnian. Deir Ezzor mengandung cadangan energi terbesar di Syria. (Foto: Alice Martins/AFP/Getty Images/ibtimes)

Pakar energi Timur Tengah, Luay al-Khateeb, mengatakan, penjualan minyak mentah di pasar gelap membuat ISIS menerima pemasukan hingga US$3 Juta per hari. Beberapa analisis memprediksi ISIS memeroleh US$50 juta per bulan dari penjualan minyaknya. Shwan Zulal, Managing Director Carduchi Consulting yang berpusat di London mengatakan, ISIS menjual minyaknya hanya seharga US$30 per bareal. “Itu berarti sudah didiskon sebesar 70%. Para pembelinya, jika dapat mencampurnya dengan cairan lain, mungkin akan mendapat margin keuntungan US$90-US$100,” kata Zulal seperti dikutip Iraq Oil Report. Beberapa pendapat lain mengatakan, ISIS bahkan sempat membanting harga hingga US$10 per barel.

Dua negara besar, Rusia dan Turki juga pernah dikabarkan menjalin hubungan dengan ISIS terkait pembelian minyak di pasar gelap yang harganya tentu saja jauh lebih dari harga pasar reguler. Rusia dan Turki pun saling tuding soal ini.

Namun, menjelang pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) 2016 lalu, di internet ramai beredar statemen dari pejabat pemerintahan AS sewaktu dipimpin Presiden Barrack Obama. Paling menyentak adalah yang dilontarkan oleh Sekretaris Negara dan Menteri Luar Negerinya, Hillary Clinton, bahwa mereka merancang, melatih dan mendanai ISIS. (*)


Laporan: Tim Redaksi
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber
Catatan: Laporan Khusus ini dibuat dalam dua artikel yaitu ISIS, Metamorfosa Gerakan Terlarang dan ISIS, Negara Adidaya dan Uang yang Berlimpah.

ARTIKEL TERKAIT

One Thought to “ISIS, Negara Adidaya dan Uang yang Berlimpah”

Komentar Anda