Ingatkan Bahaya Komunisme, Shohibul Setuju Pemutaran Kembali Film “G 30 S PKI”

Cover film Penumpasan Penghianatan G 30 S PKI.

KABARHUKUM-Medan | Belakangan gerakan laten komunisme di republik ini disinyalir kembali bangkit. Namun pihak pemerintah cenderung acuh dan menggaggap hal itu sebagai isu yang terlalu dibesar-besarkan. Atas dasar hal tersebut, sejumlah elemen pergerakan memandang perlu untuk mengantisipasi kebangkitan komunisme tersebut, salahsatunya dengan inisiasi mengagendakan kembali pemutaran film ‘Penumpasan Penghianatan G 30 S PKI’secara massif di seluruh wilayah tanah air.

“Saya setuju usul teman-teman pergerakan untuk mengagendakan pemutaran filem Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI di seluruh Indonesia. Gerakan itu dimaksudkan untuk mengingatkan kembali seluruh komponen bangsa atas bahaya komunis yang bertentangan dengan ideologi Negara Pancasila,” ujar Shohibul Anshor Siregar, Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiya Sumatera Utara (LHKP – PWMSU, Senin (11/9/2017).

Menurut Shohibul, semua yang mengaku saya Indonesia, saya Pancasila, NKRI Harga Mati, mestinya anti faham komunis dan setuju dengan gagasan ini.

Filem dokudrama Indonesia yang diproduksi tahun 1984 ini memang belakangan dianggap kontroversial. Tetapi , kata Shohibul, aspek kontroversialnya jauh lebih kecil mudharatnya ketimbang penumbuhan kewaspadaan nasional terhadap bahaya komunis.

Shohibul sangat memahami, bahwa filem yang disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer dan diproduseri oleh G. Dwipayana, serta dibintangi Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa ini, oleh pihak-pihak tertentu dianggap bohong besar. “Silakan saja orang berpendapat seperti itu. Tetapi ketika tidak ada media yang memadai untuk menghempang ancaman bahaya komunis di Indonesia saat ini, filem Pengkhianatan G 30 S PKI terasa sangat diperlukan,” tegas dosen FISIP UMSU ini.

Bagaimanapun, lanjutnya, generasi baru Indonesia tetap saja harus disadarkan bahwa salah satu ancaman eksistensi Negara-bangsanya ialah faham komunis. Pengalaman sejarah itu, kata Shohibul, kemudian telah meniscayakan Negara mengambil tindakan yang diperlukan, antara lain pembubaran dan pelarangan faham komunis di Indonesia untuk selamanya.

Bagi Shohibul, ketidak-akuratan data pada filem yang selama Orde Baru diputar secara tetap melalui TVRI secara nasional itu tak serta-merta harus ditonjol-tonjolkan untuk menganggap semua jejak dan kinerja tokoh Orde Baru Soeharto menjadi negatif semua. “Itu tidak adil sama sekali. Bahwa dalam hal anti komunis, Soeharto belum tertandingi hingga saat ini. Bangsa Indonesia malah mesti berterimakasih kepada beliau,” tegasnya.

Sekarang ini banyak orang berkata bahwa komunis sudah bubar seiring runtuhnya Uni Sovyet. Namun menurut Shohibul mereka yang sengaja mengembangkan opini itu terlalu gegebah menyederhanakan masalah. “Cina tetap dengan dieologi komunis, meski ekonominya digerakkan oleh mesin baru neolib. Ekspansinya ke mana-mana, dan salah satu kekhawatiran yang tak terbantahkan di Indonesia saat ini ialah ekspansi China,” pungkasnya.(*)

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda