Bahrain: SNI Jangan Persulit Petani Kopi Lokal

KABARHUKUM-Jakarta | Ketidakjelasan regulasi terkait kopi nasional menimbulkan kekhawatiran. Bahkan bukan tidak mungkin kondisi itu dapat membuat kopi lokal Indonesia hanya berakhir menjadi sejarah dimasa depan.

Demikian diungkapkan Bahrain, Managing Associates B&A Coffee dalam diskusi bertajuk ‘Menilik Kebijakan Pro-Kopi Lokal’ di Kantir VJ Associates Jl. Tebet Timur Dalam No. 1 Jakarta Selatan, Minggu (5/11).

“Berbicara kopi ini terkait industri, dan bicara industri tidak jauh dari kapitalis. Bisa saja lama kelamaan petani kopi itu akan menjadi buruh kopi,” ujar Lawyer muda alumnus Fakultas Hukum UMSU ini.

Bahrain membeberkan, hampir 95 persen lahan kopi merupakan milik petani lokal, sedangkan 5 persennya dimiliki oleh industri. Kalau hal ini tidak dijaga, dirinya khawatir angka tersebut bisa berubah menjadi sebaliknya.

“Yang dikhawatirkan, nantinya 5 persen itu milik petani, nah, yang 95 persen jadi milik perusahaan besar. Makannya kita butuh membentuk regulasi yang berpihak kepada petani lokal,” sebutnya.

Kalau regulasi tidak berpihak pada petani, Bahrai khawatir nasib kopi bakal seperti kelapa sawit yang diokupasi oleh pemain-pemain besar, sehingga petani lokalnya justru tergilas oleh pemain bisnis kakap.

Pada kesempatan itu, ia juga mengkritisi terkait kebijakan Standar Nasional Indonesia (SNI) terkait kopi. Ia berharap pemenuhan standar tersebut tidak menyulitkan petani lokal.

“Persoalan regulasi yang tepat yang harus dihadirkan kepada petani lokal. Artinya, kebijakan standar (SNI) jangan malah menghilangkan nilai-nilai kearifan lokal hanya untuk memenuhi standar itu, ” jelasnya.

Ditegaskannya, belum tentu juga petani lokal mampu mengikuti standarisasi itu. “Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah bagaimana nilai kearifan lokal tetap terjaga tapi tanpa melupakan kualitas kopi lokal itu sendiri,” pungkasnya.

Hadir dalam diskusi sejumlah tokoh yang peduli dengan kopi lokal, seperti Win Asmawi (Wakil Ketua Specialty Coffee Association Indonesia/SCAI), Fadlan (Former Kopi Gayo/Migliore), Veri Junaidi (VJ Associates/Intensif Coffee), Edy Saputra (Pecinta Kopi Lokal/Ketua IKA UMSU Se-Jabodetabek).

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda