Laporan Khusus

Haji, Rute Sejarah yang Mempertemukan Dunia

Sebuah foto lama situasi di Ka'bah, Makkah. (foto: internet)


Kisah Haji tidaklah sesederhana ibadah individual semata. Sejarah mewartakan, pertukaran yang terjadi dalam perjalanan menuju dan dari tanah suci Makkah-Madinah tidak hanya sekedar mengantarkan diri untuk memenuhi panggilan Allah, melainkan juga sebuah pertemuan dunia. Di sana terjadi pertukaran barang dagangan, ide dan orientasi intelektual, mobilisasi penduduk, akulturasi budaya, koneksivitas sosial politik dan daerah kekuasaan serta banyak lagi. Mobilisasi haji sejak zaman Rasulullah ternyata menjadi penunjang utama kemajuan muslim dunia dalam berbagai bidang: bahasa, matematika, optik, astronomi, transportasi, geografi, pendidikan, perobatan, keuangan, kebudayaan hingga politik. 

Artikel ini menceritakan rute-rute perjalanan haji dari seluruh dunia terutama kawasan muslim. Beberapa rute haji lama telah dimasukkan United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan sejarah yang telah menjadi penghubung dunia internasional sejak dulu dan hingga kini.  Semoga ada manfaatnya.

* * *

Darb Zubayda
Setelah Rasulullah Muhammad wafat, beberapa orang muslim menyatakan murtad. Tidak hanya murtad, kelompok ini juga membangun kekuatan militer. Mereka membangun basis militer di jalur Semaira dan Al-Rabatha (200 km arah timur laut Madinah). Rabatha merupakan jalur menuju Kufah, Irak. Panglima perang muslim yang terkenal dengan ekspansinya, Khalid ibn Walid, memergunakan rute ini dan lalu melewati jalur Fayd (sebuah tempat di dekat Jabal Shammar di bagian tengah Arab Saudi) dan Al-Tha’labiyah. Sekitar tahun 634, Khalid tercatat kembali dari Irak untuk melaksanakan haji menggunakan jalur yang disebut That Erq dengan memakan waktu 2 minggu perjalanan. Rute ini diketahui merupakan rute tersingkat waktu itu. Khalid dan pasukannya memang tidak hanya berhasil menaklukkan Irak, melainkan juga Damaskus, Syria dan Persia.

Peta Darb Zubayda

Selama era Umar ibn Al-Khattab, jalur Basra dan Kufah didirikan dan dihubungkan dengan jalur darat yang aman. Abu Musa al-Asy’ari yang memerintah Basra pada 638 , lalu memerintahkan penggalian sumur di titik-titik tertentu sepanjang jalan dari Basra ke Makkah.

Selanjutnya, selama pemerintahan Usman ibn Affan, sumur-sumut lain digali di daerah Fayd. Lalu, selama Abdullah bin Amr memerintah Basra, dia mendirikan pos stasiun Al-Nbaj, Qariyatain dan Bustan Bani Amr.

Dinasti Umayyah berusaha keras untuk memperbaiki jalur antara negara-negara Islam yang waktu itu sudah membentang sangat luas. Misalnya, Khalifah Abdul Malik bin Marwan memerintahkan pendirian stasiun Al-Tha’labiyah, jalur antara Yaman dan Madinah.

Selama abad pertengahan (abad ke-7 hingga 15 yang diukur setelah Islam diproklamirkan), jamaah haji masuk dari tiga pintu utama yaitu Syria, Mesir, dan Irak. Para penguasa Muslim di sepanjang jalur itu memang diberi tanggung jawab atas pelaksanaan haji dan memberikan perlindungan untuk mengorganisir kafilah.

Di masa Dinasti Abbasiyah, sekitar tahun 780, Khalifah al-Mahdi, ayah Khalifah Harun al-Rashid telah merintis jalan sepanjang 900 mil (kurang lebih 1.500 km) yang membentang dari Irak ke Makkah dan Madinah. Jalur ini kemudian dikenal dengan nama Darb Zubayda (Jalur Zubayda) yang sebelumnya bernama Darb al-Heerah. Nama ini diambil dari nama istri Khalifah Harun Al-Rashid, Zubayda bint Ja`far ibn Mansur. Namun tidak hanya sekedar nama. Zubayda memerintahkan untuk membangun sumur, waduk, kolam-kolam air hingga tempat makan yang menyediakan air bagi para jamaah haji. Zubayda juga membangun pos bangunan titik istirahat atau rest area dalam bahasa sekarang, yang terdiri dari 27 pos besar dan 27 pos kecil. Di antara yang terkenal yaitu pos Al-Sheihiyat, Al-Jumaima, Faid, Rabadha, That-Erq dan Khuraba. Memang, ibukota Dinasti Abbasiyah waktu itu berada di Baghdad, Irak. Rute inilah yang kemudian menjadi rute utama yang kini hendak dilestarikan oleh UNESCO sebagai salah satu warisan dunia.

Namun, catatan mengenai perjalanan haji di masa itu belumlah terinci. Catatan perjalanan menuju Makkah yang lebih terperinci baru terlihat dalam tulisan Nasir Khusraw (1004 – 1088), Ibn Jubayr Ibn Jubayr (1145-1217), dan Ibn Battuta (1304 –1368).

Misalnya Nasir Khusraw yang berhaji pada tahun 1050. Safarnama (The Book of Travels) adalah karya Nasir Khusraw yang paling terkenal. Dia mengunjungi puluhan kota sekitar tujuh tahun (6 Maret 1046-23 Oktober 1052) dan menulis secara komprehensif tentang mereka, termasuk rincian tentang perguruan tinggi, masjid, ilmuwan, raja, masyarakat umum, penduduk, wilayah kota-kota dan kenangan-kenangannya.

Lalu diikuti oleh Ibn Jubayr yang memulai perjalanan pertamanya dari Granada, Andalusia, Spanyol pada 1183.  Jubayr merupakan penduduk asli Granada. Dia pergi ke Makkah melewati jalur Baghdad, Irak via Darb Zubayda. Dia pun melukiskan apa yang sudah dibangun oleh Zubayda sepanjang jalur Darb Zubayda. “Para peziarah menuangkan air yang mereka minum dan mengambil air yang baik ini, bersukacita karena kelimpahannya. Orang-orang bersukacita saat berenang dan mandi di dalamnya dan mencuci pakaian mereka. Itu adalah hari istirahat bagi mereka, sebuah anugerah yang dianugerahkan Allah,” tulisnya.

Catatan rinci lainnya didapat dari buku Ibn Battuta. Ibn Battuta, penduduk asli Maroko, Afrika Utara, meninggalkan rumahnya pada 1325 untuk pergi haji sewaktu umurnya masih 21 tahun. Dia harus melewati Damaskus dan Kairo dan tidak bisa melewati jalur Baghdad, Irak, karena waktu itu Baghdad telah jatuh ke tangan Mongol pada 1258. FE Peters yang mengutip catatan Ibn Batuta ini dalam bukunya The Hajj: The Muslim Pilgrimage to Mecca and the Holy Places (1994), mengatakan, jamaah haji di Suriah, Irak, dan Iran, dan Anatolia bergabung dengan kafilah Damaskus, sementara kafilah yang berasal dari wilayah Afrika Utara dan Sub Sahara bergabung dengan kafilah Kairo.

Tapi, Ibn Battuta tidak hanya berhenti di Makkah. Pasca haji, dia melanjutkan perjalanannya bahkan hingga ke China dan Asia Tenggara. Dalam bukunya yang terkenal berjudul Tuhfat an-Nuzzar fi Ghara’ib al-Amsar wa ‘Aja’ib al-Asfar (Sebuah Hadiah untuk Mereka yang Menatap Keajaiban Kota-kota dan Kegembiraan Perjalanan) yang di kalangan barat sering disingkat The Travels, perjalanannya meliputi Afrika Utara, Afrika Barat, Timur Tengah, India, Asia Tengah, Asia Tenggara hingga China. Bila ditotal, Ibn Battuta melakukan perjalanan itu selama kurang lebih 30 tahun!

Di Irak, titik pusat pengumpulan jamaah berada di Kufah dan Basra yang terhubung dengan Darb Zubayda menuju Hijaz, Arab Saudi. Rute Irak ini dimulai dari Kufah, melewati Fayd, melintasi wilayah Nejd (sebuah wilayah di Arab Saudi tengah), lalu menuju Madinah, dan kemudian sampai ke Mekkah.

Attabukiyah
Jalur Syria merupakan rute tertua yang digunakan jamaah haji menuju Makkah-Madinah. Dalam periode awal Islam, jalur ini dikenal dengan istilah Attabukiyah. Rute ini menghubungkan Damaskus ke Madinah. Dengan panjang sekitar 1.307 km, rute ini melewati sejumlah kamp dan stasiun, di antara yang terpenting adalah Al-Hajj, Tabuk, Al-Akhdhar, Al-Mu’azam, Al-Aqraa, Al -Hijr, dan Al-Ula.

Di Syria abad pertengahan, titik keberangkatan jamaah masih tetap Damaskus. Rute Syria ini dimulai dari Damaskus, menuju ke selatan, mencapai Al-Karak dan kemudian Ma’an (keduanya ada di Yordania sekarang), melewati Tabuk (barat laut Arab Saudi), Hijr (sekarang Mada’in Saleh di provinsi Madinah), dan Al-Ula (di utara-barat Arab Saudi, 380 km utara Madinah), lalu melanjutkan perjalanan ke Madinah, dan kemudian sampai ke Mekkah. Sejak pemerintahan Umayyah sampai masa Dinasti Ottoman, kota Ma’an (selatan Jordania) menjadi tempat berbelanja atau pasar bagi jamaah di rute Syria. Di masa Ottoman, jalur ini mengambil waktu tempuh kira-kira 34 hari.

Karavan jamaah melewati Terusan Suez di Mesir.

Sedangkan di rute Mesir, para jamaah akan berkumpul di Kairo, ibukota Mesir lebih dulu. Setelah empat hari, mereka akan menuju ke Ajrud (24 kilometer barat laut Suez), Suez, lalu melintasi Semenanjung Sinai melalui jalur Al-Nakhl. Jalur ini al-Nakhl merupakan jalur yang melewati barisan gunung dan daratan tinggi lalu masuk ke wilayah Gurun Aqaba di bagian selatan Yordania sekarang. Kafilah kemudian melakukan perjalanan sejajar dengan Laut Merah, kemudian ke Yanbu, dan dilanjutkan ke Madinah dan Makkah.

Dalam perjalanan darat ini, unta jelas menjadi kendaraan utama di samping kuda. Unta dapat berjalan dalam jarak yang jauh sembari membawa barang-barang daripada kuda. Total perjalanan darat di jalur-jalur itu biasanya memakan waktu kira-kira dua sampai tiga bulan.

Jalur Kairo juga menjadi titik masuk jamaah lain yang masuk lewat jalur laut. Dalam buku Eric Tagliacozzo dan Shawkat Toorawa berjudul The Hajj: Pilgrimage in Islam (2016), jalur yang digunakan para jamaah yang berasal dari Afrika, anak benua India, Asia Tenggara untuk masuk kawasan Hijaz, bervariasi. Jamaah haji dari Maghreb (Tunisia, Aljazair, Libya) akan melakukan perjalanan melalui pantai bawah laut Mediterania untuk mencapai dan bergabung dengan kafilah Kairo. Selain itu, jamaah Afrika juga mengambil jalur menyeberangi Laut Merah untuk mencapai Hijaz, dan kemudian ke Makkah.

Ottoman dan Masa Modern
Setelah Dinasti Ottoman berkuasa, kekhalifahan lebih memerhatikan pengelolaan program haji secara khusus dan mengalokasikan anggaran tahunan untuk pengaturannya. Selama periode ini, Damaskus dan Kairo masih menjadi titik utama kafilah haji untuk berangkat dan kembali. Pengaturan haji ini termasuk mengelola ribuan unta untuk membawa jamaah, pedagang, barang, bahan makanan, dan air, hingga pasukan keamanan militer. Meski, banyak juga para jamaah ini yang berjalan kaki.

Komandan kafilah yang berangkat dari Kairo dan Damaskus ditunjuk khusus oleh otoritas Muslim dan dikenal sebagai Amir al-Haj. Mereka bertanggung jawab untuk melindungi kafilah, mengamankan dana serta perbekalan untuk perjalanan tersebut. Dokter dan tenaga kesehatan juga dikirim dalam kafilah Syria. Selama periode Ottoman ini, sekitar 20.000 sampai 60.000 orang melakukan jamaah setiap tahunnya.

Selama paruh kedua abad ke-19 (setelah tahun 1850-an), kapal uap mulai digunakan dalam perjalanan ke Mekah, dan jumlah jamaah dengan rute laut meningkat. Dengan dibukanya Terusan Suez pada tahun 1869, waktu tempuh pun dipersingkat. Awalnya, perusahaan kapal Inggris memonopoli bisnis kapal uap ini. Dengan kekuasaan itu, mereka hanya memberi fasilitas minimal bagi jamaah.

Pada awal abad ke-20, Sultan Ottoman, Abdul Hamid II, membangun Stasiun Kereta Api Hijaz yang menghubungkan Damaskus dan Madinah. Dengan jalur ini, perjalanan dilakukan dengan relatif mudah dan sampai di Hijaz hanya dalam waktu empat hari dengan jarak tempuh 1.300 kilometer.

Dinasti Ottoman membangun jalur rel kereta api Damaskus-Madinah.

Pada 1936, pemerintah Arab Saudi menjalin kontrak dengan maskapai Misr dari Mesir yang menjadi penanda pertama layanan penerbangan untuk jamaah haji di setahun kedepannya, 1937. Namun, Perang Dunia II dari 1939-1945 menyebabkan penurunan jumlah jamaah. Sistem transportasi modern dalam perjalanan secara efektif dimulai hanya setelah Perang Dunia II.

Pemerintah Arab Saudi mendirikan Arabian Transport Company dan Bakhashab Transport Company pada 1946 dan 1948 untuk mengangkut jamaah di berbagai lokasi haji. Unta yang selama ini dipakai, secara resmi tidak dipakai lagi sebagai sarana transportasi pada 1950.

Selama musim haji 1946-1950, sekitar 80% dari total jamaah tiba melalui laut, 10% darat, dan 7% dengan transportasi udara.  Pada 1970-an dan dekade berikutnya, transportasi udara pun mendominasi.

Dari cerita ini, yang perlu digarisbawahi adalah selama perjalanan itu, individu muslim saling membantu jamaah dalam perjalanan yang berat itu. Jadi, di luar makna haji secara spiritual, haji berkembang sangat penting sebagai fenomena sosial, memberikan kontribusi besar untuk menempa budaya Islam dan sebuah komunitas Islam di seluruh dunia yang memiliki karakteristik bersama menjembatani perbedaan kebangsaan, etnisitas dan adat istiadat. Pembangunan desa-desa dan masjid dari pantai Atlantik, Afrika, sampai ke Semenanjung Iberia dan dari pantai Pasifik Cina ke Zanzibar di selatan sampai Kaukasus dan Asia Tengah di utara, menyertai seluruh perjalanan itu.

UNESCO juga mencatat, pertukaran yang terjadi dalam perjalanan itu tidak hanya sekedar barang dagangan melainkan juga ide dan orientasi intelektual sehingga menunjang kemajuan muslim dunia dalam matematika, optik, astronomi, transportasi, geografi, pendidikan, perobatan, keuangan, kebudayaan hingga politik. (*)


Laporan: Tim Redaksi
Sumber: berbagai sumber
Catatan: laporan ini terdiri dari tiga artikel, yaitu Haji, Rute Sejarah yang Mempertemukan Dunia; Pajak Haji, Perdagangan Hingga Perampokan; dan Perjalanan dan Militansi Haji dari Indonesia.

ARTIKEL TERKAIT

2 Thoughts to “Haji, Rute Sejarah yang Mempertemukan Dunia”

Komentar Anda