Tidak Sekedar Jadi Ikon Kota, JMP Diharapkan Bisa Menginspirasi Pemkot dan DPRD Ambon

Jembatan Merah Putih (JMP) di Kota Ambon yang menghubungkan pesisir Pantai Utara Jasirah Leitimur dengan pesisir Pantai Selatan Jasirah Leihitu di Kota Ambon.

KABARHUKUM-Ambon | Peneliti  Lembaga Study Kebijakan Publik (eLSKaP) Nurul Hasanah mengatakan, Jembatan Merah Putih (JMP) di Kota Ambon yang menghubungkan pesisir Pantai Utara Jasirah Leitimur dengan pesisir Pantai Selatan Jasirah Leihitu di Kota Ambon hendaknya jangan sekedar dijadikan kebanggaan sebagai ikon kota atau sekedar penghubung lalu-lintas orang, barang dan jasa saja. JPM seyogianya bisa dijadikan salah satu sumber inspirasi bagi Pemerintah Daerah dan DPRD Kota Ambon bersama Pemerintah Daerah dan DPRD Provinsi Maluku dalam merumuskan kebijakan penataan kota agar tumbuh ke depan secara fisik menjadi lebih baik.

Ny Nurul Hasanah SP bersama anaknya Rizky (Foto : Udin Waliulu-Ambon)

“Sebab dengan pembangunan jembatan ini, arus lalu-lintas antara pusat Kota Ambon pada kawasan lama di bagian jasirah Leitimur dengan bagian-bagian wilayah Kota di pesisir pantai jasirah Leihitu sampai Bandara Pattimura di Laha sudah jauh lebih lancar,” ujar Nurul yang juga Staf pengajar disalah satu Perguruan Tinggi di Kota Ambon ini. Nurul yang biasa disapa Mbak Cicing, ditemui secara kebetulan ketika bersama suami dan ke-2 anaknya Rizky dan Rizka sedang mengamati lalu-lalang arus lalu-lintas yang melintasi Jembatan Merah Putih (JMP) dari tangga-turun disamping pelataran parkir Gedung Swalayan Maluku City Mall yang terletak di Jln Jenderal Sudirman Hative Kecil Ambon pada sore hari Kamis, 16/11.

Dimintai pendapatnya tentang keberadaan JMP dari sudut pandang Perencanaan Wilayah sesuai program study yang digelutinya saat mengikuti pendidikan Pasca Sarjana di Institut Pertanian Bogor, dia secara tandas mengatakan, bahwa keberadaan jembatan megah ini jelas sudah memperpendek jarak dan waktu tempuh antara kawasan kota di pesisir pantai utara jasirah Leitimur dengan pesisir pantai selatan jasirah Leihitu.  Beda dengan dahulu, lanjut Nurul, orang membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam dari Pusat Kota kembali ke Waiheru atau ke Bandara Pattimura di Laha karena harus memutar melingkari pesisir dalam Teluk Ambon melewati Passo, sekarang bisa sudah ditempuh dalam waktu yang lebih singkat kurang dari setengah jam.  “Akan tetapi sampai sejauh ini kelihatan keberadaan jembatan megah ini baru dimaknai dan dikagumi hanya sekedar sebagai ikon Kota Ambon, belum nampak dijadikan sumber inspirasi bagi para pembuat kebijakan di daerah ini untuk melahirkan inovasi-inovasi baru dalam rangka penataan Kota ke depan agar tumbuh dan berkembang lebih baik dan lebih apik dari sekarang,” tuturnya.

Dia kemudian menambahkan, kalau hanya bisa dikagumi sebagai ikon kota atau dimaknai sebatas penghubung lalu-lintas orang barang dan jasa tanpa memberikan sesuatu kontribusi bagi pertumbuhan fisik kota, tentu patut disayangkan. Idealnya Pemerintah Kota Ambon dalam hal ini Walikota dan DPRD selaku pembuat kebijakan bisa mengambil inspirasi dari keberadaan bentangan jembatan megah ini sebagai pijakan merubah arah kebijakan pengembangan fisik Kota.

Singkatnya, kata Cicing, Jembatan Merah Putih harus bisa menginspirasikan lahirnya gagasan-gagasan baru mengenai rekonstruksi fisik Kota Ambon agar kelak pertumbuhannya ke depan menjadi lebih ideal dibanding sekarang. Dalam hal ini, alokasi pengembangan fisik Kota Ambon sudah harus memberikan bagian atau pembobotan yang lebih besar ke kawasan Kota di pesisir pantai selatan Jasirah Leihitu mulai Waiheru sampai Laha dengan tetap mengintensifkan penataan Teluk Dalam di Passo dan Negeri Lama sebagai area transit sekaligus penyanggah pertumbuhan bagi Kota Masohi, Bula dan Piru sampai Kepulauan Banda Naira.

Lebih lanjut Cicing menghubungkannya dengan pertumbuhan fisik pusat Kota pada kawasan kota yang lama mulai dari Batumerah sampai Kompleks Pohon Mangga di Kawasan Air Salobar. Kawasan Kota Lama ini menurut penilaian Mbak Cicing sudah melampaui ambang kesemrawutan sebuah Kota, apalagi bila mempertimbangkan status Kota Ambon sebagai ibukota Provinsi Maluku. Kesemrawutan tata bangunan pada kawasan pusat kota ini, kata Cicing, akan nampak secara lebih jelas kelihatan ketika ditatap dari ketinggian tanjakan jalan dari Desa Hunut menuju Desa Hitu.

Apa sebabnya demikian menurut penilaiannya disebabkan karena mulai awal berdirinya sejak 500an tahun lalu sampai permulaan tahun 2000an semua kebijakan pengembangan fisik Kota Ambon lebih berat difokuskan ke kawasan Kota Lama di pesisir pantai utara jasirah Leihitu. Walau pun sejak dekade 1990an sudah terasa benar bahwa beban daya pikul kawasan pusat kota sudah demikian berat, Pemerintah dan DPRD Kota Ambon sampai sejauh itu nampak tidak bergeming mau merubah arah kebijakannya. Hal ini mendorong sebagian besar warga Kota lebih cendrung memilih membangun rumah pada bagian pusat kota di pesisir utara jasirah Leitimur sehingga mengakibatkan eksploitasi tanah secara besar-besaran. Seperti yang nampak sebagai bagian wajah Kota Ambon sekarang, pepohonan pada lereng-lereng gunung yang mestinya dipelihara sebagai penyanggah malah ditebang habis dan digunduli, diganti dengan hamparan lahan yang dilapisi dengan dengan cor-cor beton di mana-mana. Akibatnya, pada setiap musim hujan, bencana banjir dan tanah longsor di Kota Ambon seperti sudah menjadi makin biasa, padahal sampai dekade 1980an nyaris tak pernah terjadi.

Oleh karena itu dia berharap, dengan hadirnya Jembatan Merah Putih (JMP) membentangi Kawasan Teluk Ambon hendaknya bisa melahirkan konstruksi pemikiran baru tentang bagaimana idealnya Kota Ambon tumbuh dan berkembang ke depan nanti. Pembobotan alokasi pembangunan fisik harus segera dialihkan lebih besar ke bagian pesisir selatan Jasirah Leihitu sebagai salah satu alternatif mengurai kesemrawutan pada kawasan pusat Kota. Apalagi dengan terbentangnya jembatan megah ini arus lalu-lintas angkutan orang, barang dan jasa antara bagian kota di pesisir jasirah Leitimur dengan jasirah Leihitu sudah menjadi lebih mudah dibanding dahulu. (*)

 

Laporan: Udin Waliulu

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda