Speadboath Diamuk Gelombang, Sejumlah Mahasiswa Unpatti jadi Korban

Dermaga Speadboath di Kota Jawa - Wayame dengan latar belakang Dermaga Pertamina.

KABARHUKUM-Ambon | Beberapa orang mahasiswa dan seorang Dosen Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon menjadi korban kecelakaan laut yang terjadi di Teluk Ambon pada siang hari Jumat 17/11. Kecelakaan laut ini terjadi gara-gara speadboath yang ditumpangi dalam perjalanan penyeberangan dari Dermaga Speadboath di Pantai Mardika menuju Dermaga Speadboath di Pantai Kota Jawa Desa Wayame mendadak terbalik gara-gara diterpa gelombang yang datang menyusul hembusan angin kencang. Untung saja terpaan angin disusul gelombang yang datang tiba-tiba ini muncul pada saat perjalanan speadboath sudah berada pada jarak yang relatif dekat dengan Pelabuhan Speadboath Kota Jawa, sehingga para korban bisa cepat diselamatkan.

Para Mahasiswa yang menjadi korban dalam insiden kecelakaan laut itu antara lain; Agustin Tamara Patalatu Mahasiswa FISIP Unpatti yang tinggal di BTN Wayame Kecamatan Teluk Ambon dan Ikhlas M Rumfort Mahasiswa Politekhnik Unpatti yang tinggal di Negeri Batumerah Kecamatan Sirimau, sedangkan dosennya yang ikut jadi korban adalah Heriyanus Yesayas tinggalnya di Kelurahan Ahuru Kecamatan Sirimau.

Kabarhukum.com terlambat dalam perjalanan sehingga ketika tiba di lokasi kejadian para korban sudah lebih dahulu dievakuasi, namun beberapa saksi mata yang sempat ditemui di Pelabuhan Speadboath Kota Jawa menerangkan peristiwa naas siang hari itu terjadi kira-kira beberapa saat jelang pkl 14:30wit. Saksi menerangkan insiden itu tidak menelan korban jiwa yang meninggal dunia, hanya ada 2 orang korban harus dilarikan ke Puskesmas terdekat untuk mendapat perawatan, sedangkan lebih 10 orang lainnya sudah langsung pulang atau melanjutkan perjalanan ke tempat tujuan masing-masing. Salah satu dari ke-2 korban yang dilarikan ke Puskesmas menurut keterangan Saksi adalah Agustin Tamara Patalattu Mahasiswa FISIP Unpatti yang tinggal di BTN Wayame.

Kepada kabarhukum.com Saksi menerangkan, bahwa speadboath naas itu dikemudikan La Elo, yang sehari-hari memang bekerja sebagai Pengemudi Speadboath khusus menyediakan Jasa Angkutan untuk mengangkut penumpang dan barang-barang-bawaannya pergi-pulang dari Pelabuhan Speadboath di Kota Jawa ke Pelabuhan Speadboath di Pantai Mardika atau sebaliknya.

Menurut keterangan Saksi, sebelumnya, pada siang hari Jumat 17/11 itu cuaca pada alur lalu-lintas laut itu nampak cerah-cerah saja sehingga sebelumnya tidak bisa diduga bakal terjadi sesuatu kecelakaan laut. Namun Saksi menambahkan lagi, dari keterangan Pengemudi La Elo ketika ditanyakan Petugas tidak beberapa lama setelah para korban berhasil mendarat, tiba-tiba saja speadboath yang dikemudikannya itu diterpa angin kencang kemudian secara spontan disusul lagi oleh gelombang laut yang cukup besar.

Terpaan angin dan gelombang ini terjadi secara susul menyusul akhirnya membuat para penumpang menjadi panik dan berteriak tidak keruan sambil bergeser berpindah tempat duduk. Sebagai Pengemudi, La Elo berusaha menghimbau para Penumpang tetap tenang jangan panik dan duduk saja di tempat masing-masing agar tidak mengganggu keseimbangan kedudukan speadboath biar mudah dikendalikan sambil tetap berjalan menuju dermaga, namun kepanikan Penumpang makin tak terkendali gara-gara terpaan gelombang masih terus saja terjadi, malah kemudian lebih banyak yang mengelompok pada bagian sebelah body speadboath. Gara-gara keseimbangan body spead boath berubah menjadi berat sebelah ditumpuki penumpang yang dililit kepanikan sedangkan pula terpaan angin dan gelombang masih tak mau reda, akhirnya speadboath naas ini pun terbalik.

Walau pun dalam insiden kecelakaan laut ini tidak terdapat korban jiwa yang meninggal dunia namun Saksi menyayangkan kejadiannya karena pada akhirnya mahasiswa yang mesti tiba di kampus tepat waktu untuk mengikuti kuliah malah menjadi terhambat malah ada yang mesti menjalani perawatan medis, demikian pula sebaliknya pemilik speadboath terpaksa mengalami kerugian. Oleh karena itu Saksi mengharapkan agar peristiwa ini diambil hikmahnya sebagai pelajaran oleh semua pihak baik Pengguna mau pun Penyedia Jasa Angkutan Speadboath agar ke depan nanti musibah seperti ini jangan lagi terulang. Selama dalam perjalanan, semua pihak harus tetap berhati-hati dan berikhtiar baik Penumpang mau pun Pengemudi.

Akan lebih baik lagi bilamana semua speadboath dilengkapi pelampung agar bilamana suatu ketika musibah semacam ini terjadi pada jarak yang lebih jauh ke laut akan memudahkan para penumpang berusaha menyelamatkan diri. Pihak Kepolisian bersama Dinas Perhubungan Kota Ambon juga diharapkan mau menempatkan Pos Penjagaan dengan Petugasnya pada setiap Pelabuhan Speadboath untuk memantau serta mengawasi arus bongkar-muat orang yang berlangsung tiap hari, sebab jenis angkutan laut ini sudah menjadi keniscayaan bagi warga Kota Ambon.(*)


Laporan: Udin Waliulu

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda