Laporan Khusus

Penggemar Layang-layang Bernama Ahmad Dahlan

KH Ahmad Dahlan di tengah anggota Pengurus Besar Muhammadiyah dalam tahun 1918-1921. (Foto: muhammadiyah.or.id)

Darwis kecil suka bermain layang-layang. Juga gasing, mainan terbuat dari kayu yang diberi pasak yang dapat dipusingkan dengan tali. Tidak diketahui mengapa Darwis menggemari layang-layang dan gasing. Namun nanti, 44 tahun kemudian, Darwis atau Muhammad Darwis yang lahir pada 1868 di Kampung Kauman, Yogyakarta, itu, akan mendirikan Muhammadiyah, sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Ayahnya bernama KH Abu Bakar, seorang Ketib Masjid Besar Kauman Yogyakarta, dan ibunya bernama Siti Aminah, anak KH Ibrahim, penghulu besar di Yogyakarta. Sebagai seorang anak ulama, pendidikannya pun tak jauh-jauh dari ilmu agama. Guru Fiqh-nya KH Muhammad Saleh, KH Muhsin mengajarinya ilmu Nahwu, dan ilmu agama lainnya dari KH Abdul Hamid dan KH Muhammad Nur. Situs resmi Muhammadiyah, menyebut, Darwis muda menyerap Ilmu Aqaid (akidah) dari kitab-kitab Ahlussunnah wal Jamaah, Fiqh Imam Syafii dan Tasauf al-Ghazali.

Pada 1883, dia mengunjungi Makkah, pusat Islam, untuk berhaji. Namun, dia tak langsung kembali. Darwis berada di sana hingga 1888. Darwis belajar, memerdalam ilmu-ilmu keislaman. Kyai Mahfudh Termas dan Syekh Khayat mengajarinya ilmu Hadits, Syekh Amien dan Sayid Bakri Syatha tentang Qiraah al-Quran, dan KH Dahlan tentang Falaq. Di Makkah, dia juga sempat belajar kepada Syekh Hasan tentang racun hewan. Di Makkah, dia juga berjumpa dengan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Syekh Ahmad Khatib dan Syekh Jamil Jambek dari Minangkabau, Kyai Najrowi dari Banyumas, hingga Kyai Nawawi dari Banten. Bergaul di pusat Islam, Darwis juga berjumpa dengan pemikiran-pemikiran baru Islam yang waktu itu cukup mahsyur seperti pemikiran Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha.

Pada 1888, Darwis pulang ke Indonesia. Namanya berubah menjadi Ahmad Dahlan. Dahlan, berarti nisbah, juga dapat diartikan “pembawa berita”. Setahun kemudian, 1889, Dahlan menikah dengan Siti Walidah yang kemudian dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, pendiri ‘Aisyiyah.

Setelah ayahnya wafat pada 1896, Dahlan menggantikan ayahnya sebagai Khatib Amin di masjid Keraton Yogyakarta. Pemikiran reformisnya sudah kelihatan dan tentu saja mengundang orang yang tidak senang kepada Dahlan. Dua tahun setelah peristiwa perobohan mushalla Dahlan, pada 1902, Dahlan kembali lagi ke Makkah dan menetap selama dua tahun.

Pemikiran Dahlan semakin progresif dan memerluas jaringannya. Dia berkenalan dengan pengurus Boedi Oetomo dan menjadi salah seorang anggotanya pada 1909. Dia juga menjadi anggota Jamiat Khair pada 1910, yang mayoritas anggotanya adalah orang-orang Arab. Dia juga mengajar siswa Kweekschool Jetis. Pada 1 Desember 1911, Dahlan mendirikan Madrasah Diniyah Al-Islamiyah. Bukan tanpa tantangan.

Ketua PP Muhammadiyah, Dr Haedar Nasir, sewaktu membuka Rakornas Lembaga Pengembangan Pondok Pesantren Muhammadiyah (LP3M) di Balai Sidang Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah Makassar, Oktober 2016 lalu, mengatakan, model pembelajaran itu tak lazim waktu itu.  “Kiai Dahlan mengajar sambil berdiri, sedangkan murid-muridnya duduk di kursi, sehingga ketika itu Kiai Dahlan disebut kafir. Lama kelamaan, mereka mengadopsi model pendidikan yang dikembangkan KH Ahmad Dahlan,” ungkap Haedar

Walau masih sangat kecil, pola pendidikan yang dibuat Dahlan ini merupakan terobosan. M. Amin Abdullah dalam tulisannya Nursi Movement And Muhammadiyah: A Note on Modern Islamic Thought in Turkey and Indonesia: Affinities and Differences (2002) menganggap untuk memperbaiki reaksi antara dua orientasi religius utama komunitas Muslim, abangan dan Santri, pembentukan Madrasah Diniyah Al-Islamiyah dipandang sebagai alternatif yang bisa menampung seluruh masyarakat sosial. Melalui sekolah ini, Ahmad Dahlan ingin menyebarkan ajaran pokok Islam yang sangat dibutuhkan oleh kaum abangan Muslim. Kepada pemuda muslim ini siswa sekolah negeri dan pemerintah daerah juga kurang mengetahui dasar Islam.

Pada 8 Dzulhijjah 1330 H bertepatan pada 18 November 1912, Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Belanda baru mengeluarkan izin pendirian organisasi Muhammadiyah ini 22 Agustus 1914, dua tahun kemudian. (*)


Laporan: Tim Redaksi
Sumber: muhammadiyah.or.id dan sumber-sumber lain.
Catatan: Artikel ini terdiri dari dua tulisan, yaitu Muhammadiyah, Sebuah Konteks dalam Sejarah dan Penggemar Layang-layang Bernama Ahmad Dahlan.

ARTIKEL TERKAIT

One Thought to “Penggemar Layang-layang Bernama Ahmad Dahlan”

Komentar Anda