Laporan Khusus

Yerusalem, Maju di Tangan Islam, Hancur di Masa Israel

Kompleks Masjid Al-Aqsa, Palestina.

Adalah Khalifah Umar ibn Khattab yang membebaskan Yerusalem dari kolonialisasi Bizantium pada tahun 638. Bizantium merupakan pelanjut Empirium Romawi di kawasan timur yang beribukota di Konstantinopel, Turki. Seluruh kota ini dulu bernama Aelia atau Iliya. Sedangkan Baitul Maqdis atau al-Aqsa merupakan salah satu kawasan di dalam kota tua Yerusalem.

Di dalam kawasan inilah terdapat Qubbat al-Sakhrah atau Dome of the Rock (Kubah batu dan disebut juga kubah emas), al-Jami’ al-Aqsa atau al-Qibli atau Masjid al-Jumah atau al-Mughata, 17 pintu gerbang dan 4 menara. Sementara kawasan yang lebih lebar di bagian luar sekarang disebut al-Haram al-Sharif (tempat suci). Di dalam Qubbat al-Sakhrah inilah terdapat batu yang dari atasnya dulu nabi Muhammad SAW melakukan mi’raj.

Sewaktu Umar membebaskan Yerusalem, yang pertama dicarinya adalah al-Aqsha. Namun, al-Aqsa waktu itu tidaklah dalam bentuknya seperti sekarang. Bizantium membangun Gereja Makam Suci di dekat kawasan itu pada tahun 320 sementara al-Aqsa tidak dipedulikan. Dokumen yang dibuat orientalis bahkan menyebut kondisi al-Aqsa jorok. Umar lalu memutuskan membangun kawasan itu.

Pembebasan Yerusalem ini membuat orang-orang Yahudi pulang kembali ke Yerusalem setelah sebelumnya diusir oleh Empirium Bizantium. Umar memang mengizinkan kaum Yahudi untuk kembali ke kota ini. Umar juga menyatakan kepada Patriark Kristen Yerusalem, Sophronius, bahwa tempat-tempat suci umat Kristen Yerusalem akan dilindungi oleh pemerintahan Muslim. Namun, Umar menolak ketika ditawari untuk shalat di Gereja Makam Suci dan lebih memilih di shalat di luar gereja tersebut. Tempat Umar melakukan shalat itulah dibangun Masjid Umar yang berdiri hingga kini, di seberang pintu masuk Gereja Makam Suci.

Pembangunan yang dirintis Umar ini dilanjutkan oleh Khalifah Abdul Malik dan diselesaikan oleh anaknya, al-Walid I pada tahun 72 Hijriah atau 691. Masjid ini sempat rusak pada 746 akibat gempa bumi dan dibangun kembali oleh Khalifah Abbasiyah, al-Mansur, pada 754. Penerus al-Mansur, al-Mahdi, memugarnya kembali pada 780. Pada 1033, bangunan al-Aqsa rusak kembali akibat gempa. Dua tahun kemudian, Khalifah Dinasti Fatimiyah, Ali az-Zhair, yang disebutkan membangunnya dengan gaya arsitektur yang terlihat seperti saat ini.

Ketika terjadi Perang Salib, pasukan Kristen menguasai Yerusalem pada 1099. Masjid yang berada di situ dialihgunakan sebagai istana dan Qubbat al-Sakhrah diganti menjadi gereja. Namun, ketika Sultan Salahuddin al-Ayubi menguasai Yerusalem pada 1187, al-Aqsa difungsikan kembali menjadi masjid.

* * *

Perang Salib I (1095–1099) diserukan oleh Paus Urban II dari Dewan Clermont di Perancis pada 27 November 1905 untuk merebut Yerusalem. Paus Urban menyerukan bantuan militer pada Empirium Bizantium yang baru saja kehilangan kawasan Anatolia kepada pasukan Seljuk Turki. Pasukan ini kemudian tidak hanya mengambil-alih Anatolia namun kemudian mengarah ke Yerusalem pada Juli 1099 untuk mendirikan Kerajaan Yerusalem.

Interior Al-Aqsa.

Yerusalem yang waktu itu dikuasai oleh Dinasti Fatimiyah kemudian takluk. Tentara Salib membantai sebagian besar penduduk Muslim dan Yahudi, dan menjadikannya ibu kota Kerajaan Yerusalem. Sejarawan orientalis barat umumnya menyatakan kalau kota yang telah kosong ini kemudian diisi oleh penduduk dari berbagai kota di kawasan Eropa seperti orang Yunani, Bulgaria, Hungaria, Georgia, Armenia, dan lain-lain yang beragama Kristen. Hal ini bertujuan untuk menghalangi kembalinya umat Islam dan Yahudi yang masih hidup. Orang-orang Kristen juga berdatangan dari kawasan Trans Yordania. Akibatnya, pada 1099, populasi Yerusalem telah naik kembali ke sekitar 30.000 orang. Kerajaan Yerusalem kemudian didirikan pada 22 Juli 1099 dan dideklarasikan di Gereja Makam Suci Yerusalem.

Namun, pada tahun 1187, Yerusalem kembali direbut oleh Sultan Salahuddin al-Ayyubi. Salahuddin mengizinkan orang Yahudi dan penduduk Kristen Timur untuk tinggal di sana. Namun, dia mengusir sekitar 60.000 orang Frank (keturunan Kristen Eropa) setelah sebelumnya dimintai tebusan untuk mereka. Di bawah dinasti Ayyubiyah, Yerusalem kembali berbenah dan mendirikan bangunan-bangunan besar.

Pasca Perang Salib Keenam, Dinasti Ayyubiah di Mesir memegang kendali atas tempat suci umat Islam dalam sebuah perjanjian dengan Kaisar Romawi Frederick II. Namun, Frederick tidak diizinkan untuk mengendalikan benteng Yerusalem.

Pada tahun 1244, Yerusalem diserang oleh Dinasti Tatar Khwarezmian dari belahan Persia. Namun, Dinasti Ayyubiah mengusir mereka dari Yerusalem pada 1247. Dari tahun 1260 sampai 1517, Yerusalem diperintah oleh Dinasti Mamluk.

* * *

Pada 1517 hingga 1917, Yerusalem dan sekitarnya jatuh ke Dinasti Turki Utsmani. Di masa-masa ini Yerusalem menikmati masa pembaruan dan kedamaian yang sejahtera termasuk pembangunan kembali tembok megah di sekitar Kota Tua Yerusalem. Dinasti Utsmani membawa banyak inovasi: sistem pos modern yang dijalankan oleh berbagai konsulat. Pada pertengahan abad ke-19, Ottoman membangun jalan beraspal pertama dari Jaffa ke Yerusalem, dan pada 1892, kereta api telah sampai di kota Yerusalem. Layanan kereta api termasuk di antara tanda-tanda pertama modernisasi di kota ini.

Sepanjang pemerintahan Ottoman, Yerusalem tetap menjadi provinsi dan menjadi wilayah rute perdagangan utama antara Damaskus dan Kairo. Sejarawan Inggris, Thomas Salmon dalam bukunya Modern History or the Present State of All State yang terbit pada 1744, menyatakan bahwa “Yerusalem diperhitungkan sebagai ibu kota Palestina…”

Pada 1831, misi dan konsulat asing mulai berdiri di Yerusalem. Pada 1836, Ibrahim Pasha mengizinkan penduduk Yahudi Yerusalem untuk merenovasi empat sinagog (kuil Yahudi) besar, di antaranya adalah Hurva. Pada 1840, banyak Muslim Mesir tinggal di Yerusalem dan orang-orang Yahudi dari Aljazair dan Afrika Utara mulai menetap di kota ini dalam jumlah yang semakin banyak. Pada era Ottoman, ketika Palestina masih di bawah Ottoman, populasi Yahudi di Yerusalem dinyatakan rata-rata hanya 3%.

Pada 1840-an dan 1850-an, kekuatan internasional memulai memerlihatkan konstelasi tarik-menarik di Palestina saat mereka berusaha untuk memperluas perlindungan mereka atas minoritas agama di wilayah tersebut. Namun, sumber lain justru menyebutkan, volume peziarah Kristen disebutkan meningkat di bawah Dinasti Utsmani.

Pada 1872, Yerusalem menjadi pusat distrik administratif khusus, tidak bergantung pada Suriah dan di bawah kekuasaan langsung Istanbul yang disebut Mutasarrifat Yerusalem.

* * *

Pada 1917 setelah Pertempuran Yerusalem, Angkatan Darat Inggris, yang dipimpin oleh Jenderal Edmund Allenby, merebut kota tersebut. Pada 1922, Liga Bangsa-Bangsa dalam Konferensi Lausanne mempercayakan Inggris untuk mengelola Palestina, kawasan Transjordan, dan Irak.

Kekuasaan Inggris menjadi kesempatan emas bagi orang Yahudi. Dari 1922-1948, jumlah penduduk kota meningkat dari 52.000 menjadi 165.000, terdiri dari dua pertiga orang Yahudi dan sepertiga orang Arab (Muslim dan Kristen). Hubungan antara orang Kristen dan Muslim Arab yang bereaksi terhadap meningkatnya populasi Yahudi di Yerusalem memburuk, mengakibatkan kerusuhan yang berulang. Di Yerusalem, khususnya, kerusuhan terjadi pada 1920 dan pada 1929.

Peta dua negara di kawasan Palestina versi PBB tahun 1947.

Saat Mandat Inggris untuk Palestina berakhir, PBB melalui UN Partition Plan for Palestine tahun 1947 merekomendasikan “pembentukan rezim internasional khusus di Kota Yerusalem, yang menjadikannya sebagai corpus separatum (separation body) di bawah pemerintahan PBB.” Rencana ini juga menyebutkan, rezim internasional (termasuk kota Betlehem) akan tetap berlaku untuk jangka waktu sepuluh tahun, di mana sebuah referendum diadakan dimana penduduk harus memutuskan rezim masa depan kota mereka. Namun, rencana ini urung dilaksanakan, saat perang 1948 meletus: Inggris menarik diri dari Palestina dan Israel mengumumkan kemerdekaannya.

Israel mengambil-alih wilayah yang nantinya akan menjadi Yerusalem Barat, beserta sebagian besar wilayah Arab yang dialokasikan untuk negara Arab di masa depan; Yordania menguasai Yerusalem Timur, bersama dengan Tepi Barat. Perang tersebut menyebabkan perpindahan populasi Arab dan Yahudi di kota tersebut. Pada saat gencatan senjata, Israel telah menguasai 12 dari 15 tempat tinggal Arab di Yerusalem. Diperkirakan minimal 30.000 orang Arab Palestina telah menjadi pengungsi.

Setelah berdirinya negara Israel, Yerusalem dinyatakan Israel sebagai ibu kota. Namun, Yordania secara resmi menguasai Yerusalem Timur pada tahun 1950, menundukkannya pada hukum Yordania, dan pada 1953 mengumumkannya sebagai “ibukota kedua” Yordania.

Setelah 1948, karena kota berdinding tua secara keseluruhan berada di sebelah timur garis gencatan senjata, Yordania dapat mengendalikan semua tempat suci di dalamnya. Selama periode ini, Masjid Al-Aqsa mengalami renovasi besar-besaran.

Selama perang 1948, Yordania mengizinkan pengungsi Arab Palestina untuk menetap di wilayah Yahudi yang dikosongkan, yang kemudian dikenal sebagai Harat al-Sharaf. Pada 1966, pemerintah Yordania memindahkan 500 orang dari mereka ke kamp pengungsi Shua’fat sebagai bagian dari rencana untuk mengubah kawasan Yahudi menjadi taman umum.

* * *

Pada 1967, Pasukan Israel merebut Yerusalem Timur, bersama dengan seluruh Tepi Barat. Pada 27 Juni 1967, tiga minggu setelah perang berakhir, dalam rencana Israel untuk menyatukan kembali Yerusalem, Israel memperlebar undang-undang dan yurisdiksinya ke Yerusalem Timur, termasuk situs suci Kristen dan Muslim di kota tersebut. Itu termasuk beberapa wilayah Tepi Barat terdekat yang terdiri dari 28 desa Palestina dan memasukkannya ke dalam Kota Yerusalem. Sejak tahun 1967, kawasan pemukiman Yahudi baru telah berkembang pesat di sektor timur, sementara tidak ada lingkungan Palestina baru yang diciptakan Israel.

Meski kawasan al-Aqsa tetap di bawah yurisdiksi Waqf Islam, namun Israel justru membuka Tembok Barat untuk akses Yahudi. Perempatan Maroko, yang terletak di sebelah Tembok Barat, dievakuasi dan diratakan untuk membuat jalan bagi plaza bagi mereka yang mengunjungi tembok. Pada 18 April 1968, sebuah perintah pengambilalihan oleh Kementerian Keuangan Israel dikeluarkan. Israel mengusir penduduk Arab dan merebut lebih dari 700 bangunan.

Setelah Perang Enam Hari Arab-Israel, Jerusalem Institute for Israel Studies merilis Jerusalem: Facts and Trends 2012, dan mengklaim populasi Yerusalem meningkat 196%. Mereka juga mengklaim, populasi Yahudi tumbuh sebesar 155%, sementara populasi Arab tumbuh sebesar 314%. Proporsi populasi Yahudi turun dari 74% pada tahun 1967 menjadi 72% pada tahun 1980, menjadi 68% pada tahun 2000, dan menjadi 64% pada tahun 2010. Persentase ini tentu saja bukan tanpa perdebatan.

Menteri Pertanian Israel waktu itu, Ariel Sharon, kemudian mengusulkan untuk membangun sebuah lingkaran lingkungan Yahudi di sekitar tepian timur kota. Rencana tersebut dimaksudkan untuk menjadikan Yerusalem Timur “lebih Yahudi” dan mencegahnya menjadi bagian dari blok Palestina perkotaan yang membentang dari Betlehem ke Ramallah. Pada tanggal 2 Oktober 1977, kabinet Israel menyetujui rencana tersebut, dan tujuh lingkungan kemudian dibangun di sisi timur kota. Kawasan itu dikenal sebagai Ring Neighborhoods. Lingkungan Yahudi lainnya dibangun di Yerusalem Timur sementara Yahudi Israel juga menetap di lingkungan Arab.

Pencaplokan Yerusalem Timur ini terang saja mengundang reaksi negatif internasional. (*)


Laporan: Tim Redaksi
Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber
Catatan: Artikel ini terdiri dari tiga tulisan, yaitu Yerusalem, Konspirasi Perusuh dan Penjajah Global; Yerusalem, Maju di Tangan Islam, Hancur di Masa Israel; dan Israel, Sebuah Skenario dari London.

ARTIKEL TERKAIT

One Thought to “Yerusalem, Maju di Tangan Islam, Hancur di Masa Israel”

Komentar Anda