Perayaan Milad IMM ke-54 di UMSU Berlangsung Meriah

KABARHUKUM-Medan | Milad Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) ke-54  Se-Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) berlangsung meriah. Perayaan hari lahir salah satu organisasi otonom persyarikatan Muhammadiyah ini digelar secara kolektif oleh delapan Pimpinan Komisariat IMM se UMSU di  Auditorium Kampus UMSU Jl. Kapt. Mukhtar Basri Medan, Rabu (14/3/2018).

Hadir dalam acara tersebut, Rektor UMSU Dr. Agussani MAP,  WR I Dr. Muhammad Arifin Gultom SH MHum, WR III Dr Rudianto MSi, Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumut Dr Abdul Hakim Siagian SH MHum, Sekum PD IMM Sumut Ikwal Pasaribu SPd, alumni IMM Sumut, Pengurus PK IMM se-UMSU dan ratusan kader IMM (Immawan dan Immawati) UMSU.

Dalam sambutannya, Ketua Panitia Wildan Lubis mengungkapkan bahwa pelaksanaan Milad IMM kali tersasa begitu istimewa dan membanggakan. “Ini merupakan perayaan Milad IMM yang paling besar dan meriah sepanjang sejarah di UMSU,” ujarnya.

Ia mengatakan, kemeriahan acara ini tidak terlepas dari dukungan luarbiasa dari Rektor UMSU. “Kita pantas mengucapkan terimakasih kepada Rektor UMSU Bapak Agussani yang juga merupakan salahsatu  kader terbaik  IMM. Karena dukungan yang total beliau acara pada hari ini bisa diselenggarakan semeriah ini,” katanya.

Sementara itu, WR III UMSU Dr Rudianto MSi yang mewakili Rektor UMSU membuka acara Milad IMM ini, atas nama keluarga besar UMSU ia mengungkapkan rasa bangga dan gembira atas pelaksanaan Milad IMM ke-54. “Selamad Milad yang ke 54 kepada IMM, khususnya kepada keluarga besar IMM se-UMSU,” katanya.

Rudianto mengatakan, momentum Milad ini bisa dimanfaatkan untuk membangun karakter, yakni bagian yang tidak terpisahkan dari cita-cita besar kita membangun UMSU dan persyarikatan secara keseluruhan. Menurutnya, ada yang membedakan IMM sebagai organisasi kader dengan organisasi kader yang lain, yaitu bahwa terletak dari label “kecendikiawanannya” yang luar biasa. Ia menuturkan, dalam sebuah dokumen yang disebut dengan “Deklarasi Kota Barat” pada tahun 1965 setidaknya ada enam poin manifesto yang isinya adalah terkait kuat dan kentalnya semangat “kecendikiawanan” yang dimiliki IMM. “Dalam manifesto itu ada kata kunci bahwa amal itu harus berbasis ilmu dan ilmu itu harus diamalkan. Kata kunci itu menjadikan kekuatan IMM di usia ke-54 ini berbeda dengan organisasi-organisasi kader lainnya,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Rudianto, sebenarnya ada satu lagi kata kunci yang sangat membaggakan termaktub dalam manifesto itu, yakni bahwa semua amal itu  dimanifestasikan, diekspresikan dan diaktualisasikan untuk kepentingan agama, bangsa dan negara.

Sebagai pimpinan dan bagian dari keluarga UMSU, kata Rudianto, selama ini pihaknya sudah melihat tipekal dan karakteristik  kecendekiawanan dari IMM. “IMM adalah stabilisator dan eksponen yang menentukan sebuah kekuatan besar Muhammadiyah. Dan bagi  kita, karakteristik yang dimiliki IMM merupakan potensi yang sangat membanggakan dan cukup membantu ikhtiar kita membesarkan dan memajukan UMSU. ” kata Rudianto.

Di penghujung acara, perayaan milad IMM kali ini terasa kian istimewa, karena panitia merancang sebuah segmen acara yang bertajuk “1 Jam Lebih Dekat dengan Ayahanda Agussani”. Di segmen ini Rektor UMSU Dr Agussani MAP secara khusus mengungkapkan banyak hal tentang sejarah pengalamannya sebagai salahsatu kader yang lahir dan ditempa di IMM. Ia menegaskan, bagaimana pun, IMM harus selalu menjadi tuan rumah di UMSU. “saya mengajak seluruh kader IMM  untuk saling bahu membahu dan bekerjasama untuk memajukan UMSU yang sama-sama kita cintai ini,” ujarnya.

Sebagai tambahan informasi, IMM ialah organisasi mahasiswa Islam di Indonesia yang memiliki hubungan struktural dengan organisasi Muhammadiyah dengan kedudukan sebagai organisasi otonom. Memiliki tujuan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah.

Keberadaan IMM di perguruan tinggi Muhammadiyah telah diatur secara jelas dalam qoidah pada bab 10 pasal 39 ayat 3: “Organisasi Mahasiswa yang ada di dalam Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah Senat Mahasiswa dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)”. Sedangkan di kampus prguruan tinggi lainnya, IMM bergerak dengan status organisasi ekstra-kampus  sama seperti Himpunan Mahasiswa Islam mapun KAMMI  dengan anggota para mahasiswa yang sebelumnya pernah bersekolah di sekolah Muhammadiyah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) didirikan di Yogyakarta pada tangal 14 Maret 1964, bertepatan dengan tanggal 29 Syawwal 1384 H. Dan dibandingkan dengan organisasi otonom lainya di Muhammadiyah, IMM paling belakangan dibentuknya.

Kelahiran IMM dan keberadaannya hingga sekarang cukup sarat dengan sejarah yang melatarbelakangi, mewarnai, dan sekaligus dijalaninya. Dalam konteks kehidupan umat dan bangsa, dinamika gerakan Muhammadiyah dan organisasi otonomnya, serta kehidupan organisasi-organisasi mahasiswa yang sudah ada, bisa dikatakan IMM memiliki sejarahnya sendiri yang unik. Hal ini karena sejarah kelahiran IMM tidak luput dari beragam penilaian dan pengakuan yang berbeda dan tidak jarang ada yang menyudutkannya dari pihak-pihak tertentu. Pandangan yang tidak apresiatif terhadap IMM ini berkaitan dengan aktivitas dan keterlibatan IMM dalam pergolakan sejarah bangsa Indonesia pada pertengahan tahun 1960-an. (*)

ARTIKEL TERKAIT