BKP2 Medan Gagalkan Pengiriman Sarang Walet PT STL Senilai Miliaran Rupiah

Ilustrasi sarang burung walet.

KABARHUKUM-Medan | Sarang burung walet senilai miliaran rupiah yang rencananya masuk ke kota Medan berhasil digagalkan Balai Besar Karantina Pertanian Kelas II (BKP2) Medan. Komoditas wajib lapor karantina milik PT STL ini ditolak masuk karena kuantitasnya tidak sesuai dengan yang tertera di dokumen, yakni 120 Kg.  Jumlah yang terkirim diperkirakan hingga 319 Kg atau kelebihan berat.

Kepala Seksi Karantina Hewan, Drh Wagimin saat di konfirmasi, Selasa (20/3/2018) membenarkan kalau pihaknya telah mengamankan sarang burung walet kiriman PT STL melalui Bandara Soekarno Hatta, Jakarta terbang dengan pesawat Garuda Indonesia GA-118 yang diamankan pihaknya saat sampai Kuala Namu International Airport (KNIA), Deliserdang pada Jumat (16/3/2018).

Lanjut Wagimin, setelah diperiksa dan ternyata tak sesuai dokumen beratnya, pihaknya langsung melakukan penahanan dan selanjutnya dengan tegas menolak masuknya sarang burung walet tersebut. Dan bila dalam 1×24 jam setelah dinyatakan ditolak, PT STL tidak juga mengambil kembali sarang burung walet tersebut, bisa jadi akan dimusnahkan.

“Ya setelah kita lakukan pemeriksaan ternyata tidak sesuai, katanya 120 Kg tapi nyatanya kelebihan beratnya. Jadi kita tolak agar dikembalikan ke Jakarta dan biaya pengembaliannya ditanggung pemilik. Namun bila dalam 1×24 jam tidak juga diambil setelah ditolak, maka akan dimusnahkan,” tegas Wagimin.

Saat ditanyakan apakah tidak dilakukan penyitaan atas kelebihan tersebut, menurut Wagimin tidak diberlakukan oleh pihaknya karena sesuai prosedur nantinya pihak karantina di Jakarta yang akan memprosesnya.

Lanjutnya, pihak BKP2 Medan melakukan hal itu setelah dilakukan pemeriksaan fisik atas sarang burung walet tersebut, untuk mengetahui kebenaran jumlah, jenis, kelayakan kemasan dan sanitasi produk terhadap setiap media pembawa yang akan disertifikasi, sekaligus mensosialisasikan prosedur yang benar terkait standar pelayanan karantina termasuk persyaratan, tarif dan standar waktu pelayanan.

“Hal ini juga sebagai bagian dari reformasi birokrasi yakni pelayanan yang prima, cepat dan transparan,” pungkas Wagimin.

Menanggapi hal tersebut, Praktisi Hukum Mangara Manurung SH MH menyatakan apa yang dilakukan pihak BKP2 Medan telah sesuai dengan Undang-Undang No.16 Tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah No.82 Tahun 2000, sehingga patut diberi apresiasi atas kinerja mereka.

Namun menurutnya, yang patut dipertanyakan adalah pihak Balai Besar Karantina Jakarta bagaimana bisa meloloskan sarang burung walet senilai miliaran rupiah dengan dokumen bermasalah ini melewati Bandara Soekarno Hatta.

“Mana prinsip maximum securitynya, kok bisa lolos nih barangnya. Nyata tertulis di dokumen 120 Kg, tetapi fakta pemeriksaan di lapangan didapati 300 Kg lebih. Pertanyaannya, apakah ini luput dari pemeriksaan dan pengawasan?” ucap Mangara.

Lanjutnya, sehingga wajar pula atas keanehan itu masyarakat curiga dan menduga ada bentuk kerjasama permainan para pelaku usaha (PT STL -red) dengan oknum-oknum di instansi terkait guna meloloskan sarang burung walet tersebut.

Sebagai praktisi dan juga warga, ia berharap agar petugas terkait yang menangani peristiwa seperti ini, untuk dapat tegas menanganinya, sehingga kedepannya oknum-oknum yang melakukan pola-pola seperti peristiwa ini tidak akan terulang lagi. Sesuai dengan amanah reformasi untuk melakukan transparansi dan juga amanah undang-undang dimana apabila peristiwa ini telah melanggar hukum, maka harus diselesaikan secara hukum. Karena tentunya kalau dibiarkan, maka negara yang pastinya dirugikan sebab pendapatan yang diperoleh hanya sesuai dengan jumlah jumlah yang ada di dokumen.

“Atas lolosnya kelebihan berat sarang burung walet dari Jakarta ke Medan, bahkan hingga melebihi berat yang ada di dokumen, akibatnya negara dirugikan atas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Maka hendaknya di usut dan dilakukan penyelidikan, sehingga bisa ditemukan apakah ini kelalaian administrasi atau bagian dari kebiasaan dari pola pola lama dari oknum oknum yang bermain,” pungkasnya.(*)

ARTIKEL TERKAIT