Bupati Payapo Akan Datangkan Investor, Warga SBB Desak Perlu Keterbukaan Informasi Ke Publik

Muhammad Yasin Payapo, Bupati Seram Bagian Barat. (foto: katongnews)

KABARHUKUM-Maluku | Menurut kabar teranyar, Bupati Seram Bagian Barat di Maluku, Muhammad Yasin Payapo, dalam waktu dekat akan mendatangkan investor untuk melakukan kegiatan investasi dengan mendirikan sebuah Pabrik Gula di “Bumi Saka Mese”, Seram Bagian Barat. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan investasi yang konon akan segera dihadirkan Bupati Payapo adalah PT Hermes Seram Indonesia, salah satu anak perusahaan dari Raksasa Bisnis di India.




Salah satu sumber terpercaya mengungkapkan, rencana investasi ini telah dibubuhi tandatangan oleh Bupati Payapo bersama pihak perusahaan PT Hermes Seram Indonesia yang diwakili Parekat Vynat Shivanand alias “Syiva”. Penandatanganan Memorandum Of Understanding (MOU) atau Naskah Kesepahaman dilakukan di Kementerian Pertanian RI di Jakarta bulan Juli 2018 lalu, disaksikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI Syukur Iwantoro selaku Ketua Tim Upaya Khusus (Up-sus) Percepatan Investasi Industri Gula, Sapi dan Jagung.

Perusahaan patungan India-Indonesia ini dikabarkan akan menanamkan investasinya di “Bumi Saka Mese Nusa” dengan nilai investasi sebesar US$ 125 juta atau setara Rp 1,79 Trilyun dengan target produksi perdana akan dimulai pada tahun 2020 yang akan datang. Rencana investasi ini konon akan diawali dengan mengembangkan Perkebunan Tebu, hanya sampai sejauh ini belum diketahui persis kira-kira lokasi kantornya akan berkedudukan di mana dan belum diketahui pula kira-kira di mana letaknya lahan yang akan dikembangkan menjadi Perkebunan Tebu kecuali luas lahannya direncanakan 25.000Ha.

Kabar tentang adanya rencana investasi ini secara spontan menuai reaksi publik yang beraneka-ragam. Bagaimana maraknya reaksi publik terhadap rencana investasi Bupati Payapo ini antara lain bisa diikuti dari salah salah laman Group Facebook “Info Maluku News”. Aneka-ragam komentar itu muncul terhadap berita media online www.malukunews.com yang berjudul : “ Pabrik Gula Yang Dicanangkan Bupati SBB Dinilai Lemahkan Komoditi Unggulan Petani “, yang ditayang Adminnya Redaksi Maluku_News hari Kamis (2/8).

Merasa cukup menarik, wartawan media ini, Udin Waliulu, yang ikut nimbrung belakangan dalam perdebatan panjang pada laman Group Facebook itu mencoba meminta pendapat yang bebas atau lepas dari berbagai kalangan. Beberapa orang yang tadi-tadinya sudah lebih dahulu terlibat ajang sahut-menyahut akhirnya mau mengemukakan komentarnya, antara lain : Hasan Narahaubun yang sehari-harinya dikenal sebagai Fungsionaris DPD PAN Kabupaten SBB dengan nama akunnya “Hasan Naro” bersama salah seorang yang tergolong Tokoh Senior, Herry Patty, dan juga seseorang lainnya dengan nama akun “ Ibra Ahmad “.

Agak berbeda dengan Narahaubun yang kelihatan ngotot mendukung Bupati Payapo secara tanpa reserve, Herry Patty berpendapat walau Payapo sebagai Bupati memiliki hak prerogatif memakai dana APBD untuk membangun apa saja di “Bumi Saka Mese Nusa”, namun menyangkut pemberian izin bagi suatu perusahaan untuk masuk melakukan kegiatan investasi di daerah ada hak bagi setiap warga SBB tidak kecuali mereka yang berada perantauan untuk mendapat informasi cukup dan juga ada hak memberikan saran atau masukan tidak soal apakah nanti mau diterima atau tidak. Tokoh Senior asal SBB ini berpendapat, yang harus dipikirkan masak-masak oleh Bupati Payapo terkait dengan Pabrik Gula yang dijanjikannya ini adalah apa-apa saja yang sebentar nanti timbul sebagai efek positif mau pun efek negatif bagi masyarakat, walau pun kelak ketika tiba saatnya dia sudah mengakhiri masa jabatan dan tidak lagi menjabat sebagai Bupati.

Sementara itu, Ibra Ahmad justru tampil dengan mengemukakan komentar yang panjang-lebar dan lugas. Memulai dengan mengungkapkan rasa senangnya telah dimintai komentar sebagai wujud kontrol publik atas kebijakan Bupati Payapo, Ibra menyempatkan diri melontarkan kritikan tajam bagi orang-orang yang disebutnya “orang-orang dekat” Bupati Payapo, yang menurutnya alergi terhadap kritikan dan suka menganggap kritikan publik sebagai bentuk antipati atau tidak suka (terhadap Payapo) padahal tidak demikian. Setelah itu dia pun mengakui, sebagai bagian dari warga SBB dia memberikan apresiasi atas upaya Payapo bisa mendatang investor, karena langkah ini dinilai kelak akan memberikan dampak terhadap perbaikan kondisi perekonomian masyarakat dan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), apalagi diketahui selama ini ada ketergantungan absolut pada pajak dan retribusi daerah. Akan tetapi lebih lanjut dia secara tegas mengatakan tidak boleh hanya gara-gara apresiasi itu lantas hal-hal yang substansial justru harus diabaikan.

Hal-hal substansial yang dikonstatir Ibra Ahmad dalam pesannya itu, meliputi : Status Perusahaan Investor apakah Domestik ataukah Perusahaan Asing dan Bagaimana tahapan-tahapan Investasi serta Izin-Izin Operasionalnya, kemudian tentang kontribusi kehadiran perusahaan nanti bagi daerah dan masyarakat SBB terutama kaitannya dengan peningkatan pendapatan Asli Daerah (PAD). Selain itu, menurut dia masyarakat perlu disuguhi informasi cukup mengenai Master Plann Investasi ini, dan tidak kalah pentingnya adalah mengenai kedudukan lahan karena lahannya tentu berskala besar sedangkan pada umumnya tanah di daerah ini adalah tanah ulayak milik masyarakat adat tentu tidak boleh semena-mena diambil dan diserahkan kepada pihak investor.

Mengakhiri rangkaian komentar melalui pesan-pesannya itu Ibra Ahmad mengatakan,  yang jelas masyarakat SBB harus tahu seperti apa model investasi yang akan dilakukan. Makanya kita perlu keterbukaan informasi dari Pemda SBB, agar ke depan tidak menjadi polemik “.(*)


Laporan: Udin Waliulu

ARTIKEL TERKAIT