Gunung yang Diberkahi

Mungkin engkau pernah mendengar gunung yang diberkahi. Ia adalah gunung tertinggi di dunia. Dan apabila engkau sudah mencapai puncaknya, engkau hanya akan memiliki satu hasrat, untuk turun dan tinggal bersama dengan mereka yang menghuni lembah terdalam. Itulah mengapa ia disebut gunung yang diberkahi.(Kahlil Gibran)

Sebagai seorang pujangga, tentunya apa yang diungkapkan Gibran dalam salah satu aforismanya di atas bukanlah sekedar untaian kata biasa yang apa adanya. Lazimnya, kata-kata seorang pujangga itu mengandung kedalaman makna filosofi yang hanya bisa diselami dengan kearifan dan kecerdasan interpretasi.

Bagi penulis, aforisma di atas adalah sebuah ungkapan alegori, yakni sebuah gaya bahasa (majas) yang menjelaskan maksud tidak secara harafiyah, melainkan dengan cara lain melalui kiasan atau penggambaran yang membentuk suatu kesatuan yang utuh. Jadi, idiom “Gunung yang Diberkahi” yang disebut Gibran tersebut boleh jadi hanyalah sebuah metafora, yaitu sebuah kiasan dari wujud ideal puncak capaian kekuasaan manusia. Secara simbolis Gibran melukiskan konstruksi kekuasaan itu sebentuk piramida, persisnya seperti sosok sebuah gunung, dimana puncak gunung adalah simbol pucuk kekuasan.

 

Tiga Fase

Merujuk dari konsep gilosofi gunung yang disebut Gibran tersebut, setidaknya ada tiga fase kronologis yang lazimnya akan ditempuh seseorang dalam melakoni dunia kekuasaan. Pertama, fase naik atau pendakian, yaitu tahapan bagaimana puncak kekuasaan tersebut dicapai. Pada tahap ini kapabalitas sang calon penguasa tentunya akan diuji, apakah dia mampu dan cukup layak untuk mendapatkan kekuasaan itu. Sebagai seorang pendaki, tentunya dia butuh “modal” dan kemampuan untuk menaklukkan medan pendakian yang akan dilewatinya. Apalagi biasanya ada pendaki lain yang akan jadi pesaing, maka dia harus siap untuk berkompetisi. Dalam kompetisi pendakian itu, tentunya ada “aturan main”dan rambu-rambu yang harus diperhatikan. Tetapi biasanya semua upaya akan ditempuh oleh para pendaki untuk dapat mencapai puncak kekuasaan, bahkan tidak jarang dengan menghalalkan segala cara.

Dalam konteks demokrasi, pada fase pendakian ini para pendaki kekuasaan memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan “restu” dan dukungan dari mereka (rakyat) yang mendiami lembah gunung tersebut. Dan siapa yang mendapat kepercayaan dan dukungan paling besar, maka dialah nanti yang akan mencapai puncak dan menjadi pemenang.

Kedua, fase capaian, yaitu tahapan dimana si pendaki berhasil sampai ke puncak gunung dan jadi pemenang mengalahkan pendaki yang lain. Si pendaki yang mampu sampai duluan ke puncak gunung lazimnya akan didaulat sebagai penguasa. Sampai di sini, satu hal yang perlu diingat, bahwa puncak gunung kekuasaan adalah zona yang penuh dengan pesona dan panorama. Dan sepertinya hal ini sudah cukup dipahami oleh para pendaki. Bahkan, boleh jadi pesona dan panorama itulah yang justeru sebenarnya telah menginspirasi bahkan menyugesti mereka, sehingga kemudian menjadi begitu antusias dan ambisius untuk mencapainya.

Kemudian, karena begitu mempesonanya panorama puncak gunung kekuasaan itu, maka banyak dari pendaki gunung yang sudah sampai disana akan merasa kerasan menikmatinya. Dan tidak sedikit pula yang ingin berlama-lama bermukim di puncak gunung itu. Bahkan kemudian ada juga yang sama sekali enggan meninggalkan daerah itu dan ingin menetap selama-lamanya di sana. Kecenderungan ini sebenarnya sangat bisa dimaklumi. Sebab, seperti yang dinyatakan oleh novelis Dan Brown, bahwa “orang yang mengatakan bahwa kekuasaan tidak memunculkan kecanduan pasti belum benar-benar berkuasa”.

Ketiga, fase turun gunung, biasanya tahapan ini adalah saat-saat yang tidak disukai oleh para pendaki, terlebih bagi yang sudah merasakan bagaimana nikmatnya berada di atas puncak gunung kekuasaan. Namun apapun ceritanya, tetap saja tahapan ini adalah sebuah keniscayaan yang mau tidak mau pasti akan dilewati dan dijalani oleh si pendaki yang sudah berhasil sampai di puncak gunung kekuasaan. Hanya soal waktu dan bagaimana caranya dia turun, apakah dia turun dengan mulus dan normal atau dia turun karena memang dipaksa diturunkan. Itulah sebabnya, dalam konteks tradisi kehidupan demokrasi, untuk menyiasati keinginan absolut tinggal di atas gunung kekuasaan itu, kemudian perlu dibuat aturan untuk menjatah dan membatasi durasi berada di puncak kekuasaan.

Bila dicermati, fase turun dari kekuasaan sesungguhnya adalah tahapan yang paling menentukan dan akan jadi ukuran “keberhasilan” dari kiprah seorang penguasa. Artinya, bagaimana sang penguasa itu turun biasanya jadi gambaran dari reputasi kekuasaannya secara keseluruhan. Jika rakyat merasa terharu dan sedih karena seorang penguasa turun dari tahtanya, maka dapat dikatakan dia adalah sosok yang telah sukses dalam kekuasannya. Bisa dipastikan selama berkuasa ia telah menorehkan prestasi yang membanggakan, sehingga saat ia tidak lagi berkuasa, rakyat kemudian merasa kehilangan. Bahkan, walaupun mungkin ketika pada fase naiknya dulu dia mendapatkan kekuasan dengan cara yang tidak wajar atau melanggar aturan main, tapi besar kemungkinan penggalan cerita minor itu dengan sendirinya akan dapat teranulir oleh kesuksesan yang telah diukirnya selama berkuasa. Dan indikasi itu dapat dilihat dari fase disaat dia turun dari kekuasannya. Kemudian, jika seorang penguasa turun secara normal dan respon rakyat biasa-biasa saja, maka patut diduga dia adalah sosok penguasa yang tidak membekas (untuk tidak mengatakan telah gagal).

Sosok pengusa seperti ini kehadirannnya tidak begitu jadi harapan, begitu juga absennya tidak membuat rakyat merasa kehilangan. Malah selama ia berkuasa, kehidupan bernegara pun berjalan seolah-olah tanpa ada pemimpin (auto-pilot). Dan biasanya penguasa seperti ini selama berkuasa miskin dari prestasi yang membanggakan dan cenderung cari aman saja. Artinya, dia lebih banyak menghabiskan waktu dan energi hanya untuk menjaga keamanan dan kenyamanan status-quo kekuasaan semata.

Namun, jika ada penguasa turun, atau lebih tepatnya “tumbang” dari kursi kekuasaannya, malah disambut bahagia oleh rakyat, maka tidak salah lagi dia adalah sosok penguasa lalim yang kemungkinan selama berkuasa cuma membuat kesengsaraan bagi rakyat dan kemudharatan buat negara. Makanya saat dia lengser, rakyat malah akan merasa senang dan lega. Dan biasanya penguasa seperti ini berkarakter otoriter dan cenderung ingin melestari status-quo kekuasaannya dengan segala cara. Jadi sulit mengharapkan dia akan turun secara normal. Makanya, dalam banyak kasus, biasa penguasa seperti ini turunnya pun tidak mulus. Dia turun karena memang dipaksa diturunkan.

Kekuasaan Yang Diberkahi

Bila ditilik, “berkah” sesungguhnya adalah sebuah terminologi keagamaan yang bermakna positif. Secara bahasa, berkah itu berasal dari bahasa Arab, yakni barokah, artinya nikmat (Kamus al-Munawwir, 1997).

Dalam khasanah ajaran Islam, berkah itu memiliki padanan kata, seperti mubarak dan tabaruk. Menurut Imam Al-Ghazali, berkah (barokah) itu maknanya adalah ziyadatul khair, yakni bertambahnya kebaikan. Sementara Imam Nawawi memaknai berkah itu sebagai “kebaikan yang melimpah dan berkesinambungan”. Pengertian senada juga dapat kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), dimana berkah disebut sebagai “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”.

Merujuk dari uraian di atas, dapat dipahami bahwa yang dinamakan kekuasaan yang diberkahi itu tidak lain adalah wujud implementasi kekuasaan yang benar-benar berlimpah dengan kebaikan dan manfaat. Dan kecenderungan limpahan kebaikan kekuasaan itu sifatnya tumbuh dan berkembang secara dinamis dan berkelanjutan. Keberkahan itu juga tercipta bukan hanya sekedar karena kebetulan dan keberuntungan saja. Keberkahan adalah anugerah Sang Maha Kuasa atas ikhtiar yang dilakukan manusia dengan penuh dedikasi dan keikhlasan. Begitu juga bila seorang penguasa sungguh-sungguh dan tulus dalam menjalankan amanah kekuasan yang diembannnya, maka sangat mungkin dia bisa meraih derajat “ si pembawa berkah”.

Kembali kepada pesan Gibran di atas, secara implisit dia menjelaskan, bahwa jika si pendaki yang sudah berhasil sampai di puncak gunung kekuaasan itu ingin capaiannya diberkahi, maka begitu sampai dipuncak gunung tersebut dia mesti mau dan mampu menjinakkan hasratnya untuk tidak mabuk oleh godaan pesona dan panorama yang pasti akan dijumpainya puncak gunung tersebut. Artinya, dia harus merendahkan imajinasi kekuasaannya dengan cara berempati secara tulus; bahwa dia mau berkomitmen cuma memiliki satu hasrat, yakni ingin turun dan tinggal bersama dengan mereka yang menghuni lembah terdalam.

Menurut penulis, keinginan untuk “turun” dan “tinggal bersama” maksudnya adalah mampu dan mau mengejewantahkan kekuasaan yang telah digenggamnya semata untuk kemaslahatan “mereka yang menghuni lembah terdalam”, maksudnya hoi polloi atau rakyat jelata kebanyakan. (*)


M. Risfan Sihaloho, Redaktur Pelaksana kabarhukum.com

ARTIKEL TERKAIT