Dengar Karyawan Dituntut 20 Tahun Penjara, Bibi Randika Pingsan

Bibi Randika dibopong suaminya, Syamsul di PN Medan

Mohon pak hakim, supaya dibantarkan untuk sidang istri saya, mohon sangat, kemarin dia tak bisa jalan, kondisinya ini parah

KABARHUKUM-Medan | Sebaris kalimat itu diucapkan terdakwa Syamsul dihadapan Hakim Aksir selaku majelis hakim ketua yang menangani kasus penganiayaan dan pembunuhan pembantu rumah tangga (PRT) di Jalan Beo, beberapa waktu lalu yang sempat menggemparkan Kota Medan.

Bibi Randika dibopong suaminya, Syamsul di PN Medan
Bibi Randika dibopong suaminya, Syamsul di PN Medan

Digelar di Pengadilan Negeri (PN) Medan, terdakwa suami istri dalam kasus tersebut, Samsul dan Bibi Randika langsung shock begitu mendengar dua terdakwa lain dengan kasus sama, Zainal Abidin alias Zahri dan Feri Syahputra (Karyawan Bibi Randika) dituntut 20 tahun penjara.

Bahkan Bibi Randika tak berapa lama langsung pingsan saat vonis terhadap mereka hendak dijatuhkan hakim.

Syamsul yang kebingungan menjelaskan bahwa pihaknya memang sudah mendapatkan surat dari Rumah Sakit Bina Kasih. Ditanda tangani oleh Dokter Bambang yang isinya menyatakan bahwa Bibi Randika sakit kronis namun sudah bisa pulang.

“Pak hakim yang terhormat, kami, saya katakan lagi bahwa saat ini dia sakit parah, kemarin dia tak bisa jalan,” katanya.

Mendengar hal tersebut, hakim Aksir kemudian menskorsing sidang selama beberapa saat. Hal tersebut dimanfaatkan Syamsul ke ruang tunggu jaksa dan menggendong Bibi Randika ke ruang sidang. Hal tersebut memancing perhatian dari pengunjung PN Medan.

Selama di dalam ruang sidang, Bibi Randika hanya bisa mengalungkan kedua tangannya ke leher Syamsul yang duduk di kursi pengunjung ruang sidang. Syamsul tetap meminta agar sidang dengan agenda pembacaan tuntutan ditunda sekaligus meminta agar istrinya dibantarkan. “Kami
mohon yang mulia, agar dia dirawat di rumah sakit yang lain, kalau tidak ini akan makin parah, kami minta di RS Permata Bunda,” katanya.

Atas permintaan tersebut, hakim Aksir kemudian menunda persidangan selama satu hari dan akan dimulai lagi pada Kamis (6/8). “Di dalam surat ini dikatakan sehat, tapi setelah di sini kan dia sakit, jadi saya minta besok jaksa menghadirkan dokter ke sini, karena dia yang tahu kesehatan orang,” kata Hakim Aksir.

Sebagaiana diketahui, Syamsul Anwar bersama keluarga dan pekerjanya diduga telah melakukan penyiksaan hingga pembunuhan sejumlah PRT yang ditampung di jalan Beo Medan. Akibat penganiayaan itu, seorang PRT bernama Hermin alias Cici dinyatakan tewas, sedangkan 3 lainnya berhasil diselamatkan. Selain itu, diperoleh informasi masih ada 2 PRT lagi yang masih hilang.(*)


editor: Ki Andang

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*