Faisar Ananda: Yang Paling Berat adalah Memperjuangkan Hukum Pidana Islam

KABARHUKUM-Medan | Belum lama ini, pakar hukum tata negara Yusril Ihza Mahendra melontarkan gagasan tentang urgensi kajian ulang terhadap hukum positif yang dianut Indonesia. Menurut Yusril perlu adanya keseimbangan antara hukum Islam dan adat di dalamnya.

faisar
Faisar Ananda Arfa.

“Kaidah hukum Islam dan adat perlu dipikirkan yang masih relevan jadi kaidah hukum nasional, sebagian berisi hukum adat dan sebagian lagi Islam,” ujar Yusril saat menjadi pembicara di Masjid Al Furqan, seperti diberitakan ROL, Sabtu (15/8).

Terkait kaidah hukum nasional tersebut, Yusril mengakui mayoritas warga Indonesia adalah Islam. Sehingga pengaruh agama dalam perumusan peraturan hukum pastinya tidak dapat dihindarkan.

Menanggapi gagasan dari Partai Bulan Bintang tersebut, Faisar Ananda Arfa, pengajar Filsafat Hukum Islam Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN Sumut) mengatakan, pada dasarnya hukum adat dan hukum agama (Islam) telah lama menjadi sumber hukum nasional.

“Secara historis, kedua sumber hukum ini berkompetisi dengan hukum Eropa kontinental mengisi konten hukum nasional,” ujarnya kepada kabarhukum.com, Rabu (19/8/2015).

Kemudian ketika ditanya apakah gagasan Yusril itu cukup urgen dalam konteks dinamika hukum kontemporer Indonesia, Faisar menegaskan bahwa yang dibutuhkan sekarang bukan gagasan, melainkan perjuangan.
“Yang terpenting sekarang adalah bagaimana ummat Islam memaksa pemerintah dan DPR untuk mengambil materi-materi hukum dari hukum Islam dan hukum adat guna menggantikan hukum kolonial lama,” tegas Faisar.

Faisar menambahkan, beberapa UU Syariat selama ini sudah dibuat terutama dibidang perdata, seperti tentang haji, perbankkan syariah, waqaf, zakat dan sebagainya

“Justru perjuangan yang paling berat adalah untuk hukum pidana,” ungkap Faisar.

Untuk memperjuangkannya, kata Faisar, dibutuhkan tekanan sosial, politik dan ekonomi. Dan yang terakhir ini memang perjuangan sangat panjang dan berat.

Dan saat ditanya apakah gagasan Yusril tersebut bisa diakomodir oleh gerakan Islam Nusantara yang belakang ini lagi digalakkan oleh rezim penguasa ? Faisar justru melihatnya tak ada kolerasi.

“Tak ada korelasinya tuh. Kalaupun iya, Islam nusantara itu suka Islam status quo. Jadi besar kemungkinan mereka bakal tidak mendukung gagasan tersebut,” pungkasnya. (*)


Laporan: Maestro Sihaloho

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*