Petani Indonesia Pengungsi Aceh (PIPA), Demo PN Medan Tuntut Keadilan

Puluhan petani tergabung dalam PIPA, demo PN Medan (foto: d-one)

KABARHUKUM-Medan | Puluhan petani tergabung dalam Petani Indonesia Pengungsi Aceh (PIPA), mendatangi Pengadilan Negeri (PN) Medan melakukan aksi (demo) tuntut dilepaskannya  saudara mereka yang ditahan pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL).  Mereka juga sekaligus mengadukan nasibnya yang merasa teraniaya meski telah tinggal kurang lebih 15 tahun di sekitar kawasan taman tersebut, sejak terusir dari Aceh.

Puluhan ibu dan ayah tergabung dalam PIPA, demo PN Medan  (foto: d-one)
Puluhan petani tergabung dalam PIPA, demo PN Medan
(foto: d-one)

Dalam aksi yang terlihat dominan para ibu ini, beberapa diantaranya bahkan terlihat sampai menangis sesenggukan sambil membentangkan spanduk. Pimpinan aksi, Mislan mengatakan, selama ini antara warga dan BBTNGL sudah bicara tentang legalitas keberadaan mereka di dalam kawasan TNGL. Namun selalu saja mengambang dan tidak pernah ada kejelasan, malahan justru yang terjadi penggusuran.

“Kita negosiasi, dan saat sedang negosiasipun,malah ada penggusuran, jadi masyarakat tidak tahan dengan situasi ini,” kata Mislan.

Mereka mengaku kebingungan mencari keadilan dan pengamanan karena meski telah menyurati pihak kepolisian baik di Kabupaten maupun Polda Sumut untuk memberikan pengamanan aksi damai mereka namun tidak ditanggapi.

Mislan sendiri menyatakan dirinya sudah berada di Barak Induk selama 15 tahun bersama 2000 hingga 3000 kepala keluarga (KK) yang lain. Jumlah tersebut surut dan kini tinggal sekitar 700 – 800 KK. “Kami menanam untuk menunggu hasil, dan itu tidak hanya setahun dua tahun. Kalau kayu itu ilegal, tak boleh keluar, masa’ getah dari karet yang kami tanam juga tak boleh keluar,” katanya.

Puluhan ibu dan ayah tergabung dalam PIPA, demo PN Medan  (foto: d-one)
Puluhan petani tergabung dalam PIPA, demo PN Medan
(foto: d-one)

Dia juga mempertanyakan apakah getah karet sebagai komoditas perkebunan atau kehutanan. “Semua perlu tahu, ada banyak orang masuk dengan berbagai kepentingan, melakukan ilegal logging diatasnamakan masyarakat, kami yang kena imbasnya, kami ini sebagai kambing hitam. Kebetulan yang ditangkap ini pengungsi, tapi ada banyak yang bukan pengungsi masuk. Kami ini tertindas, di Aceh kami sudah kena, kami kemari tanpa harta benda, kami warga negara berhak untuk menghidupi kehidupa kami,” keluhnya.

Sebagaimana diketahui Mastur dan Kadarudin ditangkap karena kedapatan membawa 2,5 ton getah karet bersama dengan Bambang Koto dan Afrizal Koto yang membawa 530 batang gagang cangkuldan 25 batang gagang dodos ukuran panjang 2,5 meter dan 11 batang gagang dodos ukuran panjang 2 meter yang diduga kuat berasal daridalam kawasan TNGL.

Dari pemeriksaan PPNS BBTNGL, getah karet tersebut berasal dari di Barak Induk milik Darmo yang merupakan perambah dan salah satu pemain lama. Getah tersebut rencananya akan dijual ke Binjai dan Tebing Tinggi. Keduanya dijerat dengan Pasal 17 ayat 2 huruf c UU RI Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman minimal 3 tahun penjara dan maksimal 10 tahun.

Sedangkan gagang cangkul dan gagang dodos, dari hasil pemeriksaan, berasal dari Barak Induk dan Barak Itir, Kecamatan Sei Lepan, Langkat.Keduanya dijerat dengan Pasal 12 ayat 2. Huruf e dan k UU RI Nomor 18 tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan ancaman minimal 1 tahun penjara dan maksimal 5 tahun.

Saat ini, keempat tersangka dititipkan di Rumah Tahanan Tanjung Gusta. Gagang cangkul dan gagang dodos yang diangkut menggunakan mobil pick up dengan nomor polisi BK 9190 RE dan 2,5 ton getah karet yang diangkut menggunakan mobil pick up dengan momor polisi BK 9666 PH sementara ini masih berada di kantor BBTNGL di Jalan Selamat Medan.(*)


editor: ki andang

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda