Sidang Perdana Prapid BBTNGL Dimulai, Ratusan Petani PIPA Tetap Aksi

Puluhan ibu dan ayah tergabung dalam PIPA, demo PN Medan (foto: d-one)

KABARHUKUM-Medan | Sidang Prapid dua petani getah karet terhadap pihak Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) yang sempat dua kali ditunda akhirnya dimulai perdana di Pengadilan Negeri(PN) Medan. Ratusan warga Barak Induk, Dusun V, Aman Damai, Desa Harapan Maju, Sei Lepan, Langkat yang tergabung dalam Petani Indonesia Pengungsi Aceh (PIPA) kembali datang untuk memberikan dukungan.

Puluhan ibu dan ayah tergabung dalam PIPA, demo PN Medan  (foto: d-one)
Puluhan ibu dan ayah tergabung dalam PIPA, demo PN Medan
(foto: d-one)

Dalam sidang perdana tersebut, didapati pihak BBTNGL ternyata tak memiliki surat penangkapan ketika menangkap dua petani getah karet, Mastur dan Kadarudin, selaku pemohon.

Ini diketahui saat kuasa hukum pemohon yakni Efraim Simanjuntak dihadapan majelis hakim mengatakan, penangkapan pada 12 Juli 2015 lalu tidak sah karena pihak BBTNGL tidak menunjukkan surat perintah penangkapan.

“Saat para pemohon (Mastur dan Kadarudin) ditangkap, mereka sedang mengangkut hasil karet dari desanya. Mereka diborgol dan dipaksa masuk ke dalam mobil lalu dibawa ke kantor Dinas Kehutanan yang ada di Langkat. Apalagi, petugas yang melakukan penangkapan itu sama sekali tidak menunjukkan surat bukti penangkapan,” terang Efraim.

Selain adanya kejanggalan dalam proses penangkapan, menurut Efraim saat pemeriksaan juga para pemohon tidak didampingi penasehat hukum.

Sementara itu, kuasa hukum BBNTGL, Palber Turnip dalam nota jawabannya menyatakan bahwa penangkapan para tersangka sudah sesuai prosedur. Dikatakannya, kedua warga Sei Lepan itu ditangkap karena mencuri karet yang berasal dari dalam kawasan TNGL.

Usai mendengarkan pembacaan gugatan dari termohon, majelis hakim PN Medan menunda sidang hingga esok hari dengan agenda replik. Sebelum sidang ditutup, majelis hakim sempat meminta agar pihak BBNTGL tidak mengulur-ulur waktu sidang.

Sebelum dimulainya sidang, massa aksi yang sudah hadir di PN Medan sejak pukul 09.00, berorasi meminta agar hakim yang menyidangkan kasus ini dapat bertindak adil kemudian duduk melakukan doa bersama dan sholawatan. Massa yang umumnya merupakan kaum ibu sambil membentangkan spanduk hampir menutupi halaman PN Medan.(*)


editor: ki andang

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda