BEM Se-Indonesia: Keadaan Ekonomi Indonesia Saat ini Sedang Tidak Baik

Demo mahasiswa di depan Istana Negara, Kamis (10/9/2015). (foto: twitter@BEMUI_Change(

KABARHUKUM-Jakarta | Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia hari ini menyatakan kalau perekonomian Indonsia saat ini sedang tidak baik. Dalam siaran pers BEM se-Indonesia Regional Jabodetabek-Banten, yang dirilis pada Kamis (10/9/2015) ini,  dinyatakan, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2015 tidak menunjukkan hasil yang menyenangkan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di angka 4,71% pada kuartal 1 tahun 2015 dan 4,67% pada kuartal 2 dibawah target 5,4% – 5,8% pertumbuhan ekonomi. Nilai tukar rupiah terhadap dollar yang semakin melemah menjadi faktor yang secara signifikan menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Demo mahasiswa di depan Istana Negara, Kamis (10/9/2015).  (foto: twitter@BEMUI_Change(
Demo mahasiswa di depan Istana Negara, Kamis (10/9/2015).
(foto: twitter@BEMUI_Change(

Menurut mahasiswa, tren pelemahan yang sudah mulai terjadi dari tahun 2011 seharusnya bisa ditangani dengan kebijakan pemerintah yang lebih antisipatif. “Masyarakat semakin was-was dengan kondisi yang saat ini terjadi. Kenaikan harga dollar ini secara tidak langsung berdampak pada kehidupan masyarakat. Sebut saja soal kenaikan harga bahan pokok dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang semakin marak terjadi akhir-akhir ini,” tulis mahasiswa.

Sebagai negara yang mengandalkan impor bahan pangan antara lain beras dan gula, anjloknya nilai tukar akan berimbas pada kenaikan harga bahan pokok. “Perlu kita ketahui bahwa 70% lebih bahan pokok didapat dari proses impor, sehingga menjadi logis ketika nilai tukar melemah maka harga bahan pokok akan mengalami kenaikan. Selain dipengaruhi oleh nilai tukar, kondisi Indonesia yang sedang dilanda kemarau panjang dan momentum Idul Adha yang semakin dekat juga turut menyebabkan melangitkan harga pangan,” lanjutnya.

Ditambahkan lagi, selain faktor-faktor tersebut, ulah mafia pangan yang melakukan penimbunan bahan pangan membuat bahan pangan yang beredar di pasar semakin sedikit sehingga harga bahan pangan tersebut mengalami kenaikan. Permainan nakal mafia pangan tersebut turut berperan dalam memperkeruh kondisi perekonomian Indonesia.

“Kondisi yang demikian tidak bisa dibiarkan. Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) juga menjadi dampak negatif dari pelemahan rupiah yang terjadi. Biaya produksi yang membengkak akibat menguatnya dollar ini membuat perusahaan memangkas biaya produksinya dengan melakukan PHK besar-besaran. Hal tersebut terjadi pada industri yang bergerak pada sektor padat karya dan tambang. Sampai dengan Juli 2015 tercatat 11.350 pekerja yang terkena PHK yang sebagian besar berasal dari perusahaan-perusahaan di sektor padat karya dan tambang. Ekspor padat karya dan tambang yang sedang lesu membuat pendapatan perusahaan semakin menyusut. Jika pelemahan mata uang rupiah terus terjadi maka
akan berakibat pada kerugian yang semakin besar bagi sektor industri,” urai mahasiswa.

Kondisi tersebut, menurut mahasiswa, tidak lepas dari besarnya ketergantungan industri lokal terhadap bahan baku impor. Setidaknya dalam setiap proses produksi terdapat 60-70% bahan baku yang digunakan masih harus impor. Selain bahan baku, menurutnya, mesin-mesin pabrikan pun juga harus didatangkan dari luar negeri.

“Untuk mengatasi hal-hal tersebut, kami Bem Sejabodetabek-Banten menuntut dengan tegas terhadap Presiden Joko Widodo untuk pertama, mengendalikan harga pangan. Dua, Berantas mafia pangan. Tiga, melindungi pekerja lokal dari ancaman PHK,” tegas pernyataan mahasiswa BEM SI Regional Jabodetabek-Banten. (*)

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda