Penipunya Dibebaskan Hakim, Nenek 73 Tahun ini Hanya Bisa Menangis

ilustrasi

KABARHUKUM-Medan | Sarkia, wanita tua berusia 73 tahun ini hanya bisa menangisi keputusan Hakim Ketua Sherliwati di ruang Kartika Pengadialan Negeri (PN) Medan. Baginya, keputusan hakim membebaskan 3 orang terdakwa Eko Handoko, Farah Asmina Harahap dan Amin Iskandar dari segala tuntutan hukum adalah sangat tidak adil.

ilustrasi
ilustrasi

Bagi Sarkia, ketiga terdakwa adalah orang yang telah menyakiti hatinya karena telah melakukan penipuan atas tanah seluas 3,5 hektar miliknya. Namun Hakim Sherlawati berpendapat lain, ia menyatakan bahwa dari fakta-fakta, keterangan saksi dan bukti di persidangan tidak bisa membuktikan ketiganya bersalah, sehingga harus dibebaskan.

Mendengar itu, Sarkia yang sejak awal persidangan menangis sambil berulangkali mengusap air matanya dengan kain kerudungnya, langsung berdiri dan menunjuk-nunjuk hakim dengan badan yang terhuyung.

“Kalian harus tahu ya. Aku sudah 73 tahun ini, tak terima dengan ini. Lihat saja, nanti, Allah pasti akan hukum kalian ya. Lihat saja nanti, aku tak terima,” teriak Sarkia sambil menangis. Melihat itu, para kerabat Sarkia langsung membawanya keluar ruang pengadilan untuk kemudian ditenangkan.

Diketahui sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) K Sinaga menuntut Eko Handoko dan Farah Asmina yang ternyata suami istri, dengan hukuman 3 tahun penjara dan Amin Iskandar selama 1 tahun penjara. Jaksa menjerat dengan Pasal 378 KUH Pidana penipuan dan pasal 372 KUH Pidana penggelapan. Jaksa K Sinaga untuk keputusan hakim itu menyatakan akan banding.

Untuk diketahui awal kisah ini, Sarkia adalah pemilik tanah seluas 9 hektar di kawasan Desa Baru Batang Kuis, Deli Serdang. Dimana 3,5 hektar dari tanah tersebut ditawari Eko yang merupakan developer untuk dibangun rumah toko (ruko) sebanyak 82 unit dengan sistem bangun bagi.

Sarkia pun setuju dengan ketentuan ia mendapatkan bagian 20 ruko, sehingga dibuatlah perjanjian di antara mereka pada awal tahun 2012. Seiring berjalannya waktu, pada Mei 2012, Eko dan istrinya menawarkan untuk mensertifikatkan tanah seluas 3,5 hektare itu. Karena percaya, Sarkia memberikan surat tanah asli kepada
Eko dan istrinya.

Namun malang, tiga bulan lamanya menanti sertifikat tersebut, Sarkia tak kunjung dapat kabar, sehingga ia mengambil inisiatif untuk mengecek sendiri ke Kantor Badan Pertanahan Negara. Sungguh ia terkejut, surat tanah miliknya itu telah berubah nama menjadi milik Eko dan istrinya, bahkan telah diagunkan ke Bank Sumut.(*)


editor: Ki Andang

 

 

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda