Putusan Hakim atas Prapid ke BBTNGL Dinilai Banci dan Menghina

KABARHUKUM-Medan | Keputusan Hakim Tunggal, Nazar Efriandi dan Hakim Tunggal, Robert Hendrik yang hanya mengabulkan satu permohonan perkara pra peradilan (Prapid) dua tersangka, Mastur dan Kadarudin (Pemohon) terhadap Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), dituding sebagai putusan banci dan menghina.

ilustrasi
ilustrasi

Keputusan para hakim tunggal, Nazar untuk Mastur dan Robert untuk Kadarudin di Pengadilan Negeri (PN) Medan, sama yakni hanya mengabulkan bahwa penangkapan keduanya tidak sah sehingga BBTNGL harus membayar denda senilai Rp 150 ribu. Namun anehnya, untuk penetapan tersangka, penyidikan, penahanan, dan penyitaan barang bukti berupa 2,5 ton dan 2 mobil pick up yang dilakukan oleh termohon, yakni BBTNGL diputus sudah sesuai dengan prosedur.

Mendengar itu, kuasa hukum pemohon, Efraim Simanjuntak usai persidangan kepada wartawan menyatakan bahwa putusan hakim merupakan putusan banci.

“Kami kecewa. Ini keputusan banci, kalau di penangkapan sudah tidak sah, seharusnya proses lanjutnya juga tidak sah. Karena kan semua berawal dari penangkapan,” katanya.

Semetara itu, Mislan, mewakili warga yang hadir dalam sidang bersama puluhan warga Barak Induk, Dusun V Aman Damai, Desa Harapan Maju, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat yang tergabung dalam Petani Indonesia Pengungsi Aceh (PIPA) juga mengaku kecewa dan mengatakan bahwa hukuman membayar Rp 150.000 sebagai penghinaan.

“Kami sangat kecewa dengan putusan ini. Apalagi dengan hukuman membayar Rp 150.00 itu penghinaan. Yang kita minta bukan itu,”katanya.(*)


editor: Ki Andang

 

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*