Saat Matahari Kegelapan

Matahari pagi hari ini, Sabtu (19/9/2015) terlihat murung dan ronanya pucat pasi, tak kuasa memancarkan sinarnya dengan sempurna, pada hal bukan sedang mengalami gerhana. Semua itu dikarena bencana kabut asap. (Foto: M. Risfan Sihaloho | kabarhukum.com)

KABARHUKUM-Lubuk Pakam | Beberapa minggu terakhir ini, fenomena kabut asap menjadi pemandangan yang tidak asing lagi bagi masyarakat Sumatera Utara. Kabut asap yang kabarnya kiriman dari Riau akibat terbakarnya hutan dan lahan perkebunan jelas sangat merugikan warga masyarakat.

Jika sebelum ini kita lazim mengenal istilah “pisang sale” dan “ikan sale, yakni jenis makanan yang diproduksi lewat proses pengeringan dengan metode pengasapan, maka sekarang warga masyarakat di Sumatera pun boleh dikatakan statusnya sebagai “manusia sale”, karena setiap hari, siang dan malam, terus-menerus hidup dalam kepungan asap.

Bukan hanya kualitas udara yang rusak karena bencana kabut asap itu, sepanjang hari kaki langit atau angkasa pun tampak mendung, namun sama sekali bukan pertanda hujan mau turun.

Seperti yang terlihat dalam foto-foto diatas, akibat sebaran asap yang memenuhi angkasa, membuat langit jadi kelabu, tanpa dihiasi grafiti awan-gemawan dan warna-warni bianglala. Lebih tragis lagi matahari terlihat murung dan ronanya pucat pasi, tak kuasa memancarkan sinarnya dengan sempurna, pada hal bukan sedang mengalami gerhana.

Foto-foto di atas diabadikan hari ini Sabtu (19/9/2015) sekitar jam 08.00 pagi di wilayah kota Lubuk Pakam Kab. Deli Serdang. (*)


Laporan: M. Risfan Sihaloho

 

 

 

 

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda