Tak Terpengaruh Dolar Amerika, Pedagang Buku Bekas di Medan Raup Untung

Pedagang buku bekas di Jalan Pegadaian, Medan. (foto: bolang-kabarhukum.com)

KABARHUKUM-Medan | Kurs rupiah terhadap dolar sedang anjlok. Krisis ekonomi di Indonesia pun membayang seperti di tahun 1997-1998 lalu. Namun, bisnis yang tidak bersentuhan langsung dengan Dollar Amerika Serikat, masih belum terimbas luas. Bahkan, di tengah tahun ajaran baru ini, salah satu sektor misalnya perdagangan buku bekas mampu meraup untung. Padahal, seperti diketahui, bisnis yang memakai bahan baku kertas harus berjibaku karena kertas didagangkan dengan Dollar Amerika Serikat.

Pedagang buku bekas di Jalan Pegadaian, Medan. (foto: bolang-kabarhukum.com)
Pedagang buku bekas di Jalan Pegadaian, Medan.
(foto: bolang-kabarhukum.com)

Pedagang buku bekas di Jalan Pegadaian, Medan, mengatakan, keuntungan mereka akan naik ketika tahun ajaran baru akan masuk dan setelahnya. Seperti diketahui, di kawasan ini berdiri 180 kios yang menjual berbagai macam jenis buku. Lebih dari 200 pedagang menggantungkan hidupnya di kawasan pasar buku ini.

Salah seorang pedagang buku, Frans mengatakan, keuntungannya meningkat 50% dari hari biasanya. Keuntungan 50% ini didapatkan ketika memasuki tahun ajaran baru sekolah. “Kalau anak sekolah itu kebanyakan turun langsung, jadi para pedagang itu rata dikunjungi sama pelanggan,” katanya.

Berbeda dengan tahun ajaran mahasiswa baru. “Sedangkan pada tahun ajaran mahasiswa baru, jarang mereka turun langsung ke pasar buku kebanyakan ada yang menitipkan sama teman,” sambung Frans.

Menurutnya, meningkatnya daya beli masyarakat dipengaruhi dengan kemiringan harga. Untuk buku bekas biasanya dijual variatif harganya. Sesuai dengan kesepakatan penjual dengan pembeli. Sedangkan untuk buku baru dengan kualitas original dijual dengan potongan harga sampai 30% dari banderol.

Memang, pembeli yang berbelanja buku bekas di pasar ini didominasi anak sekolah yang datang bersama orang tuanya. Berbeda dengan kalangan mahasiswa yang memilih buku baru karena mengedepankan kualitas.  “Itulah, kalau siswa ini sama mamaknya, jadi milih buku bekas,” katanya.

Tak hanya Frans, pedagang lain, Fadli juga mengalami hal serupa. “Kalau musim buku ini sedikit bertambahlah, walau tak tentu juga keuntungan satu harinya berapa,” katanya.

Pada hari biasa, pedagang hanya mampu meraup omset berkisar Rp 2 juta perbulannya. Namun pada musim buku, pedagang bisa meraup keuntungan hingga Rp 5 juta dalam sebulan.

Sebelumnya, berdirinya pasar buku di kawasan Kota Medan cukup lama. Pedagang buku di kawasan tersebut sudah ada sejak tahun 1960-an. Awalnya tersebar di pemukiman warga di Kelurahan Buntu, lalu merambah kawasan Titi Gantung Stasiun KA. Namun, pada tahun 2003 seluruh pedagang dipindahkan ke Lapangan Merdeka tepatnya di sisi Timur.

Tak hanya itu, pedagang kembali dipindahkan ke Jalan Pegadaian pada tahun 2012. Pemindahan ini diakibatkan pembangunan City Check In di sisi timur Lapangan Merdeka. (*)


laporan: Bolang

ARTIKEL TERKAIT

Komentar Anda