Tersangka: “Saya Benci Pemerintahan Jokowi, Utang Numpuk, Pekerjaan Gak Ada, Pangan Impor…”

Tersangka ujaran kebencian dalam ekspos Polda Sumut dan Polrestabes, Senin (21/8/2017) di Medan.

KABARHUKUM-MEDAN | MFB (18), tersangka ujaran kebencian terhadap Presiden Joko Widodo dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, ternyata sudah sejak tahun 2016 lalu membenci pemerintahan Jokowi. Remaja putus sekolah yang beralamat di Jalan Bono Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur ini mengatakan, di bawah Presiden Jokowi, utang negara semakin bertambah.

“Sudah lama sejak putus sekolah kemarin. Saya benci pemerintahan Jokowi. Utang menumpuk terus lowongan pekerjaan enggak ada, bahan pangan impor. Udah itu aja,” ucapnya saat digiring dari Aula Tribata Mapolda Sumut Jl Sisingamaraja Medan pada Senin (21/8/2017).

Selain menghina presiden, MFB juga melontarkan kritik keras terhadap kinerja Polri. “Mau saya sendiri. Kepolisian lambat, banyak pungli. Saya nyesal,” ucapnya ketika dibawa petugas menuju mobil.

Dalam status yang ditulisnya, ia selalu mengungkapkan kebencian kepada Presiden Jokowi dan Kepolisian Republik Indonesia. Dengan beraninya ia mengatakan dirinya tidak takut kepada polisi. Ia menantang polisi untuk segera menangkapnya. Selain tidak sabar untuk ditangkap, ia juga mengancam akan menembak kepala polisi jika datang ke rumahnya.

MFB alias RA alias Raketen Warnung, menggunakan jaringan wifi secara ilegal. Ia mencoba memprovokasi netizen agar membenci Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan Institusi Polri. Tersangka membobol wifi tetangganya Muhammad Reza alias Gagna. Setelah membobol wifi tetangganya, tersangka membuat akun surat elektronik, Facebook dan twitter.

“Modusnya, tersangka ini mengaku membenci Presiden Jokowi dan Kapolri,” kata Kapolda Sumut Irjen Polisi Paulus Waterpauw dalam ekspos kasus ujaran kebencian ini.

Akibat perbuatannya, Kapolda menuturkan, tersangka dijerat dengan 2 pasal sekaligus. “Untuk perbuatannya, tersangka, kami kenakan dua pasal yaitu pasal 46 UU No 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, karena dia menulis dan menyebarluaskan ujaran kebencian. Ancaman penjara 6 tahun dan pasal 30 terkait mengambil akses milik orang lain,” terang Paulus. (*)


Laporan: Adek Siahaan

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*