Rudianto: Tantangan Jurnalisme Lingkungan itu Sangat Kompleks

Dr Rudianto MSi

KABARHUKUM-Medan|Pakar komunikasi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Rudianto MSi mengatakan, isu kerusakan lingkungan dengan segudang masalah dan dampak yang ditimbulkan selama ini belum menjadi isu publik yang sejajar dengan isu-isu politik, termasuk bagi media massa.

“Masalah lingkungan hanya menjadi topik bahasan temporal dan mengemuka jika terjadi bencana atau dampak yang besar, fenomenal, menimbulkan korban jiwa, baru akan dimuat di media massa,” ujar Rudianto ketika membuka acara Seminar Internasional dengan tema ENVIRONMENTAL JOURNALISM AND URBAN DISASTER, yang diadakan Program Magister Ilmu Komunikasi UMSU dengan Konsulat Amerika Serikat. Acara yang diadakan di Auditorium Gedung Pascasarjana UMSU, Jalan Denai 217 Medan, Selasa (29/8) itu menghadirkan pembicara utama  Matthew Frank, Journalis dan Dosen Montana University Amerika Serikat..

Padahal, lanjut Rudianto, persoalan lingkungan mestinya menjadi diskusi sepanjang massa, selama manusia hidup di muka bumi ini.Selama ummat manusia mendambakan hidup dengan nyaman di atas bumi. “Karena itu, gagasan tentang konsep jurnalisme lingkungan dan jurnalisme bencana mesti diperluas penerapannya,” kata Rudianto yang juga menjabat Wakil Rektor III UMSU ini.

Secara konseptual jurnalisme lingkungan itu berangkat dari komunikasi lingkungan yang menjadi dasar. Menurut Rudianto, peran komunikasi lingkungan adalah mencoba merancang strategi antara makhluk hidup demi lingkungan yang lebih baik dari saat ini.”Karenanya, komunikasi bencana bukan saja dibutuhkandalam kondisi darurat bencana, tapi juga penting pada saat dan pra bencana. Artinya komunikasi adalah cara terbaik untuk kesuksesan mitigasi bencana,” jelas Doktor Ilmu Komunikasi jebolan UNPAD Bandung dengan disertasi yang berjudul ‘Komunikasi Masyarakat di Kawasan Bencana Erupsi Gunung Sinabung’ (Studi Etnografi Komunikasi Pada Masyarakat Desa Gurukinayan, Kabupaten Karo) ini.

Dari hal tersebut, Rudianto menyebut bahwa peran media massa sangat diperlukan untuk mewartakan apa saja yang telah terjadi dengan lingkungan kita saat ini. Harapannya tentu saja membuat khalayak sadar akan apa yang terjadi saat ini dengan lingkungan dan mengerti bagaimana caranya merawat lingkungan demi keberlangsungan masa depan bumi. “Di sinilah letak pentingnnya jurnalisme lingkungan,” jelasnya.

Namun Rudianto juga mengingatkan bahwa tantangan jurnalisme lingkungan itu sangan kompleks. Menurutnya, dimuat atau tidak dimuatnya isu lingkungan akan sangat tergantung pada banyak aspek dari aktivitas media massa dengan segala rutinitasnya. “Selain karena isu lingkungan belum menjadi isu sentral dalam kehidupan masyarakat, kepentingan lain yang sifatnya internal maupun eksternal media akan ikut menentukan apakah berita-berita masalah lingkungan akan dimuat atau tidak di media massa,” tandasnya.

Rudianto berharap, kedepan para jurnalis, praktisi komunikasi dan aktivis lingkungan dapat lebih proaktif dan bersinergi untuk terus mengangkat isu-isu lingkungan dan bencana yang senatiasa terus mengancam dunia dan Indonesia. (*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*