Dapat Penjelasan Langsung dari BPN, Loilatu Minta Maaf pada Ahli Waris Patty Margang Lebeharia

Hi Naim Loilatu

KABARHUKUM-Ambon |Hi Naim Loilatu S.Ag MM, seorang pensiunan PNS Pemkab Kabupaten Buru Selatan di Namrole akhirnya datang sendiri menemui Usman Lebeharia selaku ahli waris Patty Margang Lebeharia dan meminta maaf secara terbuka terkait penguasaannya atas sebidang tanah perumahan berukuran 144 m2 bagian dusun dati Wailahan di Lorong Bengkel Hamid Jln Raya Kebun Cengkih Desa Batumerah Kota Ambon. Permintaan maaf ini dilakukan Loilatu setelah dia mendengar penjelasan langsung pada Seksi Sengketa Konflik & Perkara Pertanahan Kantor Pertanahan Kota Ambon di Jln Jenderal Sudirman Ambon.

Keterangan tentang kedatangan Loilatu diperoleh  dari Usman Lebeharia ketika ditemui di kediamannya di Negeri Laha Ambon pada sore hari Selasa  (19/9).

“Iya benar, pak Haji Naim (Loilatu, Red) akhirnya datang sendiri menemui saya selaku ahli waris dari Moyang Patty Margang pemilik asal dari ke-3 dusun dati Hareu, Wailahan dan Rawawan di petuanan Negeri Batumerah yang meliputi kawasan Kebun Cengkih sampai Gunung Malintang dan sekitarnya. Saat itu saya didampingi Kuasa Hukum, dan menurut beliau kedatangannya saat itu setelah beliau dengar penjelasan langsung dari Seksi Sengketa Kantor Agraria Kota Ambon terkait pengurusan hak dan permohonan sertifikat atas sebidang tanah yang beliau tempati sebelum ini di Lorong Samping Bengkel Hamid di Kebun Cengkih”, ungkap Usman.

Dia kemudian menguraikan status dirinya selaku ahli waris yang sebenarnya (sejati) atau ahli waris yang berhak dari Moyang Patty Margang Lebeharia serta hubungan hukumnya dengan ke-3 dusun dati Hareu/Hario, Wailahan dan Rawawan hingga terakhir dituturkan pula tentang ikhwal kedatangan Loilatu untuk menemuinya. Untuk melengkapi keterangannya itu, Usman lalu memperlihatkan ASLI bukti-bukti suratnya antara lain Penetapan Pengadilan Agama Masohi Nomor 80/P/PA-MS/1990 tgl 7 Januari 1991 beserta turunannya berupa Silsilah Keturunan Patty Margang Lebeharia. Di dalam bukti-bukti itu terdapat pula Register Dati Negeri Batumerah tertgl 11 Mei 1814 dan kurang lebih 20-an Surat Jual-Beli Tanah antara dirinya dengan beberapa orang yang ternyata diketahui Kepala Pemerintahan/Raja Negeri Batumerah dengan membubuhi tandatangan serta cap jabatan.

Menurutnya, selama ini banyak orang telah dikibuli mulai oleh Ismail Lebeharia dan Abdul Hadji Lebeharia bersama Burhanuddin Lebeharia alias Anong kemudian disusul lagi Saleh Lebeharia alias Nyong Ba. Untuk menguasai dan melakukan jual-beli tanah pada ke-3 dusun dati tersebut, tambahnya, orang-orang ini membuat Silsilah Keturunan Moyang Patty Margang Lebeharia, yaitu leluhur dari Usman, secara palsu. Perbuatan Ismail dan Abdul Hadji dkk ini menurut penuturan Usman sudah bermula dengan dibuatnya Silsilah Palsu tertgl 5 Juni 1985.

Ditanyakan mengapa kasus ini baru diungkapkan sekarang, Usman membantah tegas, sebab menurutnya, sejak awal dekade 1990an sudah dilaporkan ayahnya, Yahya Lebeharia. Atas perbuatan ini Ismail dan Abdul Hadji sudah ditetapkan sebagai ‘tersangka’ oleh Penyidik Ditserse Polda Maluku pada tahun 1994 dengan sangkaan tindak pidana pemalsuan surat dan atau pemalsuan asal-usul. Tetapi perkara tersebut terhenti begitu saja ketika ayahnya Yahya Lebeharia wafat pada tahun 1998. Untuk membuktikan keterangannya ini dia tak lupa memperlihatkan beberapa bukti surat antara lain Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) dan Surat Pengiriman Berkas Perkara dari Kepala Direktorat Reserse Polda Maluku kepada Kepala Kejaksaan Negeri Ambon melalui Kepala Kejaksaan Tinggi Maluku.

Ditambahkan, saat ayahnya wafat banyak kaum kerabat datang melayat, dan setelah itu ASLI bukti-bukti surat hilang diambil orang sampai sekarang belum ditemukan. Dirinya saat itu pun masih berusia belia dan tak banyak memahami seluk-beluk hukum ditambah pula karena keterbatasan ekonomi dan keluarganya berdiam di Pulau Manipa sedangkan lalu-lintas angkutan laut masih sangat sulit sehingga kasus ini terpaksa dibiarkan tidak lagi diurus kelanjutannya. Hanya sebelum ini beberapa kali dirinya datang mengajukan keberatan pada Pemerintah Desa sehingga dilakukan penyelesaian kekeluargaan dengan maksud agar Ismail bersama Abdul Hadji dkk menyadari perbuatannya namun keduanya bersikeras seakan-akan apa yang dilakukannya dapat dibenarkan. Lagi pula rezim Pemerintah Desa saat itu terkesan enggan mengatakan keadaan yang sebenarnya malah dibiarkan begitu saja seakan-akan ada hak bersama, entah apa alasannya.

Baru bulan September 2015 lalu melalui Kuasa Hukum dirinya mendapatkan ASLI Penetapan Pengadilan Agama Masohi dari pihak Kepaniteraan, sedangkan sebelum itu telah ditemukan bukti ada Silsilah Palsu baru tgl 25 April 2011 digunakan Saleh Lebeharia (Nyong Ba) dalam perkara di PTUN Ambon, sehingga telah dilaporkannya lagi dan sekarang sedang dalam penyidikan pada Sat Reskrim Polres Ambon.

Loilatu ketika dimintai konfirmasinya membenarkan keterangan Usman. “Informasi itu benar. Saya datang temui pak Usman dan minta maaf terkait tanah lokasi rumah saya di Lorong Bengkel Hamid yang dahulu saya dapat lewat jual-beli dan surat jual-beli ditanda tangani pak Anong (Burhanuddin Lebeharia, red). Karena dia sebelumnya sudah datang bersama Kuasa Hukum temui saya di rumah dan memberikan keterangan mengenai tanah ini, tapi awalnya itu saya belum begitu yakin. Setelah saya dapat penjelasan dari Seksi Sengketa Kantor Pertanahan Kota Ambon mau tak mau saya harus datang temui sendiri, dan setelah meneliti bukti-bukti surat yang diperlihatkan ternyata ahliwaris yang sebenarnya adalah pak Usman, maka oleh karena itu saya minta maaf sekaligus meminta penyelesaian secara kekeluargaan. Apalagi sebelum itu saya juga sudah dapat keterangan tambahan dari seorang Saksi yang mengaku berasal dari keturunan moyang Patty Margani sama dengan Anong dan kawan-kawan. Sebab jika tidak tidak ada penyelesaian seperti ini, tanah yang saya tempati sekian lama ini biar sudah diterbitkan sertifikat sampai kapan pun akan berakibat batal dan haknya juga hapus. Artinya bila tidak diselesaikan sekarang, di kemudian hari bisa menimbulkan akibat yang lebih fatal lagi bagi keluarga saya “, kata Loilatu.

Mantan Sekretaris KPU Kabupaten Buru ini juga mengaku dirinya sudah membeberkan fakta ini kepada orang-orang yang tinggal di sekeliling rumahnya. Baik penjelasan dari Kantor Pertanahan Kota Ambon mau pun keterangan Usman beserta bukti-bukti yang diperlihatkan padanya. Sebab menurutnya, sebagian tetangganya belum mengetahui fakta ini, sedangkan sebagiannya lagi beranggapan berita tuntutan Usman ini hanya sekedar isu. Sehingga ada yang beranggapan seakan-akan penguasaannya atas bidang tanah lokasi rumahnya sekarang yang didapat dari jual-beli dengan Burhanuddin Lebeharia, Ismail Lebeharia dan Abdul Hadji Lebeharia tidak ada masalah padahal menurut hukum justru berakibat batal. Kecuali hanya ada seseorang yang kelihatannya sudah dapat memastikan kebenaran berita dan fakta ini konon sedang menawarkan tanah yang dikuasainya agar bisa dibeli orang lain lagi.

Dia berharap, iktikad baiknya dengan membeberkan fakta ini kepada warga tetangga tujuannya tidak lain agar jangan ada orang lain lagi yang dirugikan. Entah gara-gara benar tidak tahu lantas buru-buru mendirikan bangunan padahal nanti di kemudian hari Usman menolak melepaskan hak atas tanah itu, atau melakukan jual-beli dengan orang yang bukan ahli waris, atau juga dengan seseorang yang menguasai sebidang tanah sebelum ini padahal haknya atas tanah itu justru mengandung kebatalan gara-gara dahulu didapat bukan dari ahliwaris yang berhak.(*)

 

Laporan: Udin W-Mal

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*