Pesta Distorsi Demokrasi

Mengapa Pemilu dengan segala variannya itu mereka sebut pesta demokrasi ?

Bukankah galibnya sebuah pesta itu bermakna sebuah perayaan kemenangan yang dipenuhi eforia suka-cita, pesta-pora dan hedonitas ?

Lantas, kemenangan apa sesungguhnya yang kita rayakan, hingga kita pun turut larut di dalam hingar-bingarnya ?

Di pesta itu, selain diberi kostum gratis yang berwarna-warni, juga disuguhi aneka hiburan, mulai dari musik dangdut, akrobat badut hingga kombur penjual obat. Kita pun begitu menikmatinya suasana itu.

Bukan cuma itu. Seperti gerombolan supporter, kita pun sering dipandu untuk meneriakkan yel-yel berisi nama orang, jargon dan angka yang justru tak ada maknanya bagi kita. Dan ketika mau pulang, kadang kita juga diberi selembar rupiah, katanya untuk pengganti uang tansport. Lagi-lagi kita pun merasa senang menerimanya

Tapi, apakah memang semua itu yang kita cari ? Tak sadarkah kita, sebenarnya di benak mereka si pembuat pesta itu,  kita tidak lebih dari sekedar kerumunan angka yang siap mereka konversi jadi kursi singgasana; tempat mereka kelak duduk santai menikmati pesona kekuasaan, sambil sesekali mengejek kedunguan kita yang telah memilih mereka.

Sungguh miris. Cuma sebegitukah tingkat peradaban politik yang mampu kita lakoni sebagai subjek yang melulu bangga dijuluki homo-politicus, hewan yang berpolitik ?

Ke depan, tradisi pesta itu akan terus berlangsung, memadati kalender kehidupan demokrasi kita yang kian glamour dan banal.

Dan seperti biasa, di tengah-tengah pesta itu ‘suara tuhan’ akan tetap dikendalikan oleh suara-suara ‘setan’. (*)

M. Risfan Sihaloho, Redpel kabarhukum.com

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*