Konsep “Pribumi” Tidak Akan Pernah Hilang Sampai Kapan pun

Foto lawas kaum pribumi di buku LKS sejarah ketika Indonesia dijajah oleh Belanda. Ini adalah salah satu potret proses pembangungan jalan Daendels dari Anyer ke Panarukan.

KABARHUKUM | Tidak mengapa ada pihak yang melaporkan Anies Baswedan atas pidato politik pertamanya usai pelantikan beberapa hari lalu, khususnya karena di dalam pidato itu ada penggunaan diksi “pribumi”.

Saya justru berterimakasih kepada orang yang melaporkan itu. Karena pelaporan itu akan menjadi sebuah media edukasi rakyat di seluruh Indonesia, atau bahkan dunia, bahwa pribumi ya pribumi. Konsep pribumi itu tidak akan pernah hilang sampai kapan pun. Konsep pribumi tidak diabadikan untuk politik rasistik sama sekali. Apalagi Anies Baswedan dalam pidatonya menggunakan diksi itu dalam kerangka pemahaman sejarah. Ia tentu ingat pesan bapak bangsa “Jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jasmerah)”.

Bagi pihak yang selama ini gerah atas kondisi Indonesia yang menjauh dari Pancasila dan keadilan sosial, pidato ini memicu semangat menghadirkan sebuah energi positif tidak hanya untuk Jakarta, melainkan untuk Indonesia secara keseluruhannya.

Ingat beberapa waktu lalu Megawati Soekarno Putri juga menggunakan pendektan yang sama, dan menyebut nasib pribumi, ketika berpidato saat menerima sebuah gelar kehormatan dari Universitas Negeri Padang. Menteri Kelautan Susi bahkan memiliki program yang mirip dengan program Ekonomi Benteng yang jelas-jelas memihaki pribumi pada pemerintahan Soekarno. Menteri Kelautan Susi memandang penting untuk melakukan kebijakan berupa konglomerasi pribumi. Itu bukan program rasis.

Di Indonesia ada sebuah organisasi bernama Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia disingkat HIPPI. Itu sebuah wadah penting kebangsaan yang merujuk ke bumi Indonesia dengan amat wajar dan sungguh-sungguh.

Hingga saat ini dunia mengenal sebuah tanggal peringatan, yakni Hari Peringatan Pribumi se-Dunia yang jatuh setiap tanggal 9 Agustus. Hingga saat ini setahu saya masih sehat dan berjalan lancer sebuah perusahaan bus antar kota di Sumatera Utara yang bernama SAMPRI yang merupakan singkatan Samosir Pribumi.

Kritik terhadap pidato politik Anies Baswedan umumnya dengan mudah dapat dilacak dan dilihat secara jelas dari kubu dan perspektif mana. Bukan dari orang-orang yang berniat mempancasilakan Indonesia (kalau istilah ini boleh disebut), mewujudkan keadilan sosial di dalamnya, dan merintangi kekuatan-kekuatan nyata neokolonialisme yang jahat.

Munculnya diksi “pribumi” yang dianggap begitu kontroversial, sesungguhnya adalah sebuah evaluasi sejarah yang memang harus seperti itu. Jika keberatan terhadap sejarah, justru yang harus dilakukan ialah membumikan Pancasila itu dengan semua sila-silnya, terutama sekali keadilan sosial.

Salahkah merujuk sejarah untuk merekonstruksi Indonesia sebagaimana ia diinginkan oleh cita-cita besar seluruah warga yang tercermin dari Proklamasi, Pembukaan UUD 1945 dan Pancasila? Kamu menjadi takut? Jangan. Jangan. Indonesia tak boleh melupakan sejarah.

Tak pelak lagi, Anies Baswedan berbicara untuk Indonesia melalui miniaturnya Jakarta. Ia sedang memulai pemanasan mesin untuk energi perubahan Indonesia. Betul.

Anies Baswedan telah berbicara apa adanya, telah memberi sebuah kritik atas diri kita semua yang alpa. Dia telah menunjukkan bahwa keberanian sangat diperlukan saat ini untuk sebuah perubahan besar. Di atas segalanya, Anies Baswedan telah memperjelas-tegaskan bahwa menempatkan Kuasa Allah di atas segalanya adalah keniscayaan mutlak, apa pun kata orang sakit tentang itu.

Jangan lupa, ia mengakhiri pidatonya dengan ungkapan “Wallahu muwafiq ila aqwamith thoriq” yang maknanya ialah sebuah pengharapan agar Allah SWT memberi jalan terbaik bagi bangsa ini. (*)

 

Shohibul Anshor Siregar, Koordinator n’BASIS (Pengembangan Basis Sosial Inisiatif & Swadaya)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*