Lincolin Arsyad: Jadi Dekan di PTM itu Tidak Gampang

Ketua Majlis Dikti-Litbang PP Muhammadiyah, Prof Dr Lincolin Arsyad MSc PhD

KABARHUKUM-Medan | Ketua Majlis Dikti-Litbang PP Muhammadiyah, Prof Dr Lincolin Arsyad MSc PhD  mengatakan, bahwa di dalam tradisi Muhammadiyah, pergantian pimpinan itu sesungguhnya biasa, tidak ada hal yang istimewa. “Regenerasi itu adalah sunnatullah, karena setiap pemimpin itu ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya,” tuturnya.

Begitu juga halnya di Perguruan Tinggi Muhammadiayah (PTM), ia mengingatkan bahwa pergantian Rektor, Dekan, Kaprodi itu adalah sebuah keniscayaan. “Jadi, dalam tradisi Muhammadiyah, kalau ada pergantian kepemimpinan itu kita anggap biasa saja, bukan sesuatu yang istimewa,” ujarnya ketika memberi pengarahan dalam acara Pelantikan Dekan di lingkungan UMSU yang digelar di Auditorium Kampus UMSU, Jalan Kapt. Mukhtar Basri Medan, Sabtu (21/10/2017).

Akan tetapi, dalam konteks pergantian Dekan di lingkungan UMSU, Arsyad menganggapnya agak sedikit istimewa, karena menurutnya pergantian kepemimpinan itu tuntutannya harus lebih baik. Artinya, jadi pengganti atau penerus tampuk kepemimpinan itu sebenarnya berat, karena harus lebih tinggi dari anak tangga sebelumnya. Arsyad mengibaratkan pergantian kepemimpinan itu seperti proses naik tangga, dimana untuk bisa naik ke anak tangga yang lebih tinggi itu karena ada anak tangga yang lebih rendah sebelumnya.

“Artinya, dekan-dekan yang baru dilantik bisa naik sampai level seperti sekarang, mengerjakan sesuatu nanti, itu karena sudah dilakukan oleh dekan sebelumnya.”Prinsip kontiniutas atau kesinambungan itu penting. Jadi, kita harus berterimakasih kepada dekan sebelumnya yang telah berjasa meletakkan dasar-dasar pengembangan dari fakultasnya masing-masing Dan dekan yang baru tinggal bagaimana mengimplementasikan program-program kerja yang belum dilaksanakan dan meyempurnakannya. Sekaligus juga membuat program-program baru yang lebih kreatif dan inovatif untuk kemajuan di masa yang akan datang,” sebutnya.

Lebih lanjut ia mengingatkan, bahwa jadi Dekan di PTM itu sekarang tidak gampang. Kalau sekedar menjalankan tugas sebagai dekan selama 4 tahun mungkin itu tak sulit. Namun, kata Arsyad, perlu diingat bahwa tuntutan stakeholder kita sekarang sudah semakin tinggi. “Stakeholder UMSU itu adalah komponen persyarikatan secara keseluruhan. Stakeholder sekarang sudah tambah pintar dan kritis, sehingga menuntut sesuatu yang lebih, bukan biasa-biasa saja. Maka tidak boleh cuma jadi dekan yang biasa-biasa saja. Kalau bisa jadilah dekan yang extra-ordenary,” ujarnya.

Terkait standar dekan di PTM, Majlis Dikti dan Litbang PP Muhammadiyah memiliki kriteria yang jelas dan terukur. Arsyad mengatakan, tugas utama dekan itu yang pertama adalah pengembangan kualitas SDM. “Faktor SDM ini adalah katakunci dan pilar pertama agar PTM itu mampu eksis dan mampu berjaya dalam iklim persaingan yang makin ketat dan tajam ke depan nanti,”.

Kedua, pengembangan budaya akademik atau budaya research. Arsyad berharap ke depan PTM itu bukan sekedar ada dan bukan sekedar hadir, tapi kehadirannya terasa oleh masyarakat. “Seminar, workshop, penelitian, publikasi dan sebagainya harus terus kita pacu untuk meningkatkan budaya akademik di PTM.

“Saya sampaikan, dengan jumlah mahasiswa lebih kurang 21 ribu, maka sekarang UMSU adalah salah satu PTM yang perkembangannya sangat cepat. Bahkan sekarang UMSU sudah menjadi pilar utama PTM yang mampu memberikan kontribusi finansial yang cukup berarti untuk kemajuan Muhammadiyah,” ungkapnya.

Acara pelantikan tersebut dihadiri oleh Ketua PW Muhammadiyah Sumut Prof Dr Hasyimsyah Nasution, PW Aisyiyah, Jajaran BPH UMSU, jajaran Rektorat UMSU, jajaran pengurus Ortom dan civitas akademika UMSU. (*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*