Gegara Tayangan TV Swasta, Gubernur dan DPRD Maluku Didemo Suku Bati

Gubernur Maluku Ir Said Assagaff (safari abu-abu membelakangi lensa) saat menerima Perwakilan “Suku Bati“ (barisan kursi sebelah kiri yang memakai ikat kepala merah) di Ruang Sidang Paripurna DPRD Provinsi Maluku.(Foto: Udin Waliulu/kabarhukum.com)

KABARHUKUM-Ambon | Tiba-tiba, orang-orang yang datang bertamu di Kantor DPRD Provinsi Maluku siang hari Rabu (25/10) benar-benar dibuat panik, tidak kecuali Gubernur Maluku, Said Assagaff, yang saat itu nampak hadir bersama Sekda Hamin Bin Tahir didampingi Kepala Bagian Humas Boby Palapia dan sejumlah Pimpinan SKPD, antara lain Kepala Dinas Pendidikan & Kebudayaan, Mohammad Saleh Thio, dan Kepala Dinas Perumahan & Kawasan Pemukiman, Kasrul Sela.

Siang hari itu tak lama usai waktu sholat zuhur, gedung Wakil Rakyat Maluku yang berkedudukan pada ketinggian Kawasan Karang Panjang Kota Ambon itu mendadak didatangi serombongan orang yang mengenakan ikat kepala berwarna merah darah. Peserta aksi demo yang berjumlah kurang lebih 100 orang ini datang dengan beberapa buah mobil dilengkapi sound-system dan langsung melakukan orasi dengan suara lantang di halaman depan persis berhadapan pintu masuk. Para anggota DPRD dan Staf bersama tamu-tamu ramai-ramai langsung berhamburan ke luar berbaur menghimpun jadi satu di ruang lobby lantai 1 sambil menyaksikan atraksi gratis para pendemo yang pada umumnya terdiri anak-anak usia belia. Tak sedikit dari mereka menampakan ekspresi wajah kecewa dan marah sambil memperlihatkan sebuah spanduk yang bertuliskan “ Orang Bati BUKAN PREDATOR “.

Selang beberapa lama orasi itu berlangsung, para pendemo diterima Gubernur Assagaff bersama Pimpinan dan sejumlah Anggota DPRD di Ruang Sidang Paripurna yang berkedudukan di Lantai 2. Pimpinan DPRD yang nampak hadir mendampingi Gubernur saat itu Wakil Ketua DPRD Richard Rahakbauw dari Fraksi Partai Golkar, sedangkan anggota-anggotanya antara lain : Abdul Rasjid Kottalima dari Partai Hanura bersama Sudarmo, Amir Rumra dan Ridwan Elys dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera. Pertemuan mendadak pun digelar antara Gubernur yang didampingi Wakil Ketua DPRD Richard Rahakbauw dan Sekda Hamin Bin Tahir berhadap-hadapan dengan perwakilan para pendemo, sementara aparat keamanan nampak siaga mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Di antara perwakilan para pendemo yang diterima duduk pada jajaran kursi depan untuk berdialog langsung dengan Gubernur, nampak turut hadir pula seseorang yang mengenakan sebuah Penutup Kepala yang mengesankan simbol-simbol kebesaran adat.

Usut punya usut, ternyata peserta aksi yang rata-rata menggunakan ikat kepala merah ini adalah warga adat “ Suku Bati “ dari bagian Timur Pulau Seram. Aksi demo ini digelar sebagai ekspresi kekecewaan dan kemarahan gara-gara tayangan sebuah Stasiun Televisi Swasta yang dirasakan telah menghina dan mencemarkan nilai-nilai adat istiadat dan budaya “Suku Bati” yang sejak zaman leluhur dahulu dianggap sakral dan sampai pada era sekarang pun masih tetap dijunjung tinggi. Para Pembicara warga “Suku Bati” yang diberikan kesempatan untuk mengemukakan uneg-unegnya secara susul-menyusul saat itu rata-rata menyesalkan tayangan Televisi Swasta tersebut yang menurut penilaian sangat subyektif dan tendensius. Suku Bati disebut predator dan disamakan dengan monyet, kata salah seorang pembicara, padahal sumbernya itu adalah orang-orang yang sesungguhnya tidak memahami apa-apa mengenai Suku Bati.

Saking marahnya, salah seorang pembicara dengan nada lantang memintakan agar melalui Gubernur dan DPRD Provinsi Maluku ada klarifikasi atas tayangan dimaksud, sedangkan narasumbernya bisa segera dijatuhi hukuman seberat-beratnya. Malah dalam pertemuan saat itu salah seorang pembicara lainnya secara tegas mengatakan: “Jika tuntutan-tuntutan yang digulirkan dalam pertemuan ini tidak diperhatikan, maka suka atau tidak suka Maluku akan berbicara “.

Di luar ruang pertemuan, seorang warga adat Maluku Barat Daya yang minta namanya tidak ditulis ketika sempat bincang-bincang dengan media ini mengakui dirinya ikut merasa kecewa dan marah. “Sebagai anak adat di Maluku terus terang saya kecewa dan sekaligus ikut marah. Kecewa karena sumber tayangan yang mengusik saudara-saudara kita dari Suku Bati di Seram Bagian Timur ini konon berasal dari seorang yang tergolong kaum intelektual, dan juga marah karena imbasnya justru telah mengusik kenyamanan warga adat Suku Bati yang selama ini bertahan hidup dalam kesederhanaannya akan tetapi tak pernah menuntut sesuatu perlakuan khusus walau pun ternyata memang nyaris tidak mendapat perhatian pemerintah dan pemerintah daerah. Jika Gubernur benar-benar menghargai adat di negeri ini, maka apa-apa saja yang menjadi tuntutan dari saudara-saudara kita Suku Bati tadi jangan cuma dibikin catatan dan juga apa yang telah dijanjikan jangan hanya sekedar janji “, tegasnya.

Dia berharap Gubernur Said Assagaff akan benar-benar menepati janji-janjinya terhadap warga “ Suku Bati “ yang telah diungkapkan dalam pertemuan siang hari itu, agar secara perlahan-lahan bisa mengobati luka yang timbul gara-gara tayangan atau pemberitaan Televisi Swasta tersebut.(*)

 

Laporan: Udin Waliulu

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*