UAS: Biarlah Saya jadi Suluh di Tengah Kelam dan Setetes Embun di Tengah Sahara

Ustaz Abdul Somad

KABARHUKUM-Jakarta | Ijtima’ Ulama dan Tokoh Nasional yang diadakan GNPF Ulama di Menara Peninsula, Slipi, Jakarta Barat, hari ini (29/7) akhirnya merekomendasikan Prabowo Subianto sebagai calon presiden RI. Ada dua nama yang disebut mendampingi ketua umum Partai Gerindra itu, yakni Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf al-Jufri dan Ustaz Abdul Somad Batubara (UAS).

Menanggapi rekomendasi tersebut, mubaligh yang lahir di Asahan, Sumatra Utara mengapresiasi GNPF Ulama. Namun ia menegaskan, baginya cukup berhasil mengubah citra umat Islam di Indonesia. Kaum Muslimin yang tadinya tampak seperti massa mengambang kini lebih bersatu dengan arahan para alim ulama.  “Selamat, ternyata kerumunan sudah berubah menjadi barisan kekuatan,” katanya, Ahad (29/7).

Peraih penghargaan Tokoh Perubahan Republika 2017 itu menegaskan tidak bersedia maju dalam ajang pemilihan presiden dan wakil presiden RI. Alih-alih mengomentari dirinya, lulusan S-1 Universitas al-Azhar (Mesir) tersebut memuji ketokohan Prabowo Subianto dan Salim Segaf. Menurutnya, pasangan itu menyimbolkan persatuan yang erat dan seimbang dari unsur-unsur identitas kebangsaan Indonesia.“Prabowo-Habib Salim pasangan tawazun (seimbang) antara ketegasan tentara dan kelembutan ulama; (antara) Jawa dan non-Jawa, (antara) nasionalis-religius plus barokah darah Nabi SAW dalam diri Habib Salim,” papar Ustaz Abdul Somad.

Lebih lanjut, ia mengaku lebih menyukai posisinya sekarang sebagai dai yang tidak berpolitik praktis. Dia berpandangan, peran mubaligh tidak kurang signifikannya dalam menghadirkan kesejukan di tengah masyarakat, serta menyampaikan nasihat-nasihat kepada para pemimpin. “Biarlah saya jadi suluh di tengah kelam, setetes embun di tengah Sahara. Tak sungkan berbisik ke Habib Salim. Tak segan bersalam ke Jenderal Prabowo,” ungkapnya. (*)

 

Bagi berita: