Sesalkan Pembakaran Bendera Tauhid, MUI Keluarkan 5 Butir Pernyataan

KABARHUKUM-Jakarta | MUI prihatin dan menyesalkan terjadinya pembakaran bendera bertuliskan dua kalimat syahadat pada acara Hari Santri Nasional yang digelar di Alun-alun Limbangan, Garut, Jawa Barat pada Senin (22/10).

“Pada intinya menyesalkan karena menyebabkan timbulnya kegaduhan. MUI memilih kalimat menyesalkan dan prihatin daripada mengutuk, sebab seharusnya yang demikian tidak dilakukan,” ujar Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat MUI Yunahar Ilyas di Aula MUI Jakarta, Selasa (22/10).

Dalam video yang tersebar dan berdurasi sekira satu menit dalam acara Hari Santri Nasional di Garut tersebut, nampak lebih dari tiga orang oknum ormas merebut bendera hitam bertuliskan dua kalimat syahadat dan kemudian membakarnya. Kadiv Humas Polri Irjen Polisi Setyo Wasisto menyatakan sedang mengembangkan perkara dan meminta masyarakat untuk menahan diri menyerahkan sepenuhnya kepada kepolisian.

“Polri telah mengambil langkah dari tiga orang yang terlibat. Bendera dari mana akan dikejar. Polda Jabar dibantu Polres Garut akan bekerjasama. Meminta masyarakat untuk tenang dan memberi waktu Polri. Kami menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan kondusif. Keterangan sementara mereka membakar bendera Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),” ujar Setyo Wasisto.

Berbeda dengan Setyo, Yunahar Ilyas melihat bahwa bendera yang dibakar bukan bendera HTI melainkan bendera umat Islam.

“Dalam perspektif MUI karena tidak ada kata atau simbol spesifik HTI di dalam bendera tersebut maka itu bukan bendera HTI. Dalam riwayat memang disebutkan bendera Nabi, jadi bendera itu adalah milik umat Islam dunia sehingga tidak boleh ada klaim sepihak. Pihak yang mengklaim harus punya desain yang berbeda, MUI melihat bahwa yang dibakar adalah bendera tauhid dan bukan HTI,” tegas Yunahar.

Lima Sikap MUI

Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid menyatakan kekhawatirannya bahwa ada upaya dari pihak tertentu yang ingin memanfaatkan momen Hari Santri Nasional. Kendati demikian MUI menyerahkan sepenuhnya kepada pihak kepolisian untuk mengusut tuntas.

Menyambung Zainut Tauhid, Yunahar Ilyas menyatakan bahwa motif pembakaran bendera dua kalimat syahadat tersebut tidak dapat disederhanakan sebagai upaya menghormati lafaz suci sebagaimana seharusnya.

“Ini ada latar belakang sosialnya sehingga tidak bisa disederhanakan. Hukumnya tidak tunggal karena peristiwa ini tidak terjadi di ruang kosong. Oleh karena itu MUI meminta kepada pihak yang bersangkutan untuk meminta maaf dan menyerahkan sepenuhnya kepada Kepolisian agar tidak terjadi kegaduhan lebih lanjut,” ungkap  Yunahar yang juga merupakan Ketua PP Muhammadiyah ini.

Ditandatangani oleh Wakil Ketua Umum Zainut Tauhid dan Sekretaris Jenderal Anwar Abbas, MUI sendiri terkait peristiwa ini mengeluarkan lima butir pernyataan antara lain:

  1. MUI merasa prihatin dan menyesalkan kejadian pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat tauhid tersebut karena telah menimbulkan kegaduhan di kalangan umat Islam
  2. MUI meminta kepada yang telah melakukan tindakan tersebut untuk meminta maaf dan mengakui kesalahannya secara terbuka kepada umat Islam
  3. MUI mendorong dan menghimbau kepada semua pihak untuk menyerahkan masalah ini kepada proses hukum, dan meminta kepada pihak kepolisian untuk bertindak cepat, adil dan professional
  4. MUI memohon kepada semua pihak untuk dapat menahan diri, tidak terpancing dan tidak terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu agar ukhuwah Islamiyah dan persaudaraan di kalangan umat serta bangsa tetap terjaga dan terpelihara
  5. MUI menghimbagu kepada Pimpiman ormas Islam, para ulama, kyai, ustadz dan ajengan untuk ikut membantu mendinginkan suasana dan menciptakan kondisi yang lebih kondusif sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan

ARTIKEL TERKAIT