DKD Kom-Nas PAN Ambon Desak KPK Jelaskan Peran Keliobas Dalam Kasus Yaya

Ketua DKD Kom-Nas PAN Kota Ambon, Hamid Manitu S.Sos 

KABARHUKUM-Ambon | Dewan Komite Daerah Komite Nasional Penyelamat Asset Negara (DKD Kom-Nas PAN) Kota Ambon mendesak Pimpinan KPK memberikan penjelasan kepada publik tentang sampai sejauh mana peran Abdul Mukti Keliobas, Bupati Seram Bagian Timur Maluku, dalam kasus korupsi dan gratifikasi yang terungkap dari penangkapan Yaya Purnomo (YP) Pejabat Kementerian Keuangan RI di Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta malam hari Jumat (4/5) lalu bersama beberapa orang lainnya dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan KPK RI.

Ketua DKD Kom-Nas PAN Kota Ambon, Hamid Manitu S.Sos  mengatakan, hal ini perlu dijelaskan oleh KPK, sebab sejak bulan Agustus 2018 lalu publikasi media mengenai dugaan keterlibatan Keliobas cukup gencar apalagi melalui tayangan media-media online yang mudah diakses publik di berbagai belahan tanah air bahkan belahan dunia, bisa saja buru-buru membangun persepsi negatif seakan-akan sebuah kebenaran.

Hamid yang juga alumni Suskapin Menwa RI dari Resimen Mahasiswa Maluku (Men-Mahamaku) ini melihat penjelasan ini perlu agar Keliobas tidak buru-buru jadi korban buruk-sangka orang, seakan-akan keterkaitannya dalam kasus YP sebagaimana dikatakan KPK benar demikian. “Padahal sesungguhnya belum tentu sepenuhnya benar demikian. Apalagi kali ini malah dari institusi KPK yang umumnya dikenal berhati-hati dalam penerapan hukum, termasuk penyematan status hukum kepada seseorang,” ujarnya.

Dia mengaku mengetahui kabar keterlibatan Keliobas dalam kasus korupsi dan gratifikasi itu setelah membaca berita-berita tayangan beberapa media online antara lain Koran Sindo edisi 15 Agustus 2018 yang mengabarkan keterangan Febridiansyah, Juru Bicara KPK. Menurut dia, berita itu berjudul “KPK Duga 2 Kepala Daerah Terlibat“, dan didalamnya ada penggalan keterangan Febri yang dibubuhi tanda kutip, berbunyi : “Saksi Abdul Mukti juga terkait dugaan tersebut”.

“Saya sempat kaget, karena pak Keliobas itu dari dulu tidak kelihatan memiliki keahlian bisa melakukan sesuatu tindak pidana korupsi atau gratifikasi”, tegasnya. Akan tetapi dia enggan menampilkan bantahan terhadap berita-berita ini, karena diketahuinya bila Penyidik KPK sampai turun melakukan OTT, itu tidak asal-asalan melainkan sangat beralasan.

Namun menurut tokoh Pemuda Pulau Manipa di Kota Ambon ini, dari rangkaian pemeriksaan KPK sejak bulan Agustus 2018 Penyidik tentu sudah dapat gambaran sejauh mana keterkaitan Keliobas. Sementara di Kota Ambon sebagian orang menafsirkan berita ini seolah-olah benar Keliobas terlibat dan kelak bakal dijatuhi sangsi pidana.

Begitulah lazimnya, kata dia lagi, karena banyak orang tidak faham tentang azas praduga tak bersalah yang menekankan seseorang harus dianggap tak bersalah sebelum ada putusan hakim yang berkekuatan hukum tetap. Akibat pemahaman terbatas, maka ketika seseorang dipanggil menghadap aparat penegak hukum entah polisi atau jaksa, apalagi KPK, orang itu sudah buru-buru dipandang seakan-akan benar-benar bersalah melakukan apa yang disangkakan, apalagi masih diiringi dengan mengatakan ikut terkait. “Lebih-lebih lagi pada saat-saat sekarang di mana semua partai politik sedang bersaing ketat mengais simpati publik, bila kabar keterkaitan ini dibiarkan begitu saja menggelinding hanya dengan label terkait tanpa diiringi penjelasan cukup, niscaya bisa merugikan Keliobas mau pun Partai Golkar di Kabupaten Seram Bagian Timur,” jelasnya.

Oleh karena itu, dia mendesak Pimpinan KPK memberikan penjelasan terbuka dan detil kepada publik tentang sejauh mana dugaan keterlibatan Keliobas dan apa-apa saja indikasinya.

“Bila benar dugaan keterlibatannya itu pada 2 (dua) kasus Proyek Sollar-Cell dan Proyek RAPBN-P tahun 2018 seperti sinyalemen yang beredar selama ini, maka dua-duanya perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak berseliweran menjadi semacam bola-liar yang menggelinding kesana-kemari padahal arahnya tak jelas”, tandasnya mengakhiri pembicaraan. (*)


Laporan: Udin Waliulu

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*