Urutan ke-12 di Dunia, Nilai Perputaran Bisnis Prostitusi di Indonesia Capai Rp 32 Triliun

Ilustrasi bisnis prostitusi

KABARHUKUM | Menurut data Havocscop Black Market,  bisnis prostitusi di Indonesia masuk dalam urutan ke-12 dunia. Nilai perputaran bisnis prostitusi di Indonesia dinilai mencapai USD2,25 miliar per tahun atau sekitar Rp32 triliun.

Dalam laporan itu terungkap, Belanda sebagai negara yang telah melegalkan prostitusi justru berada di urutan ke-17 dengan pendapatan per tahun sebesar USD800 juta. Sedangkan urutan teratas tingginya bisnis prostitusi di dunia diduduki China dengan nilai sebesar USD73 miliar, Spanyol USD26,5 miliar, Jepang USD24 miliar, Jerman-selaku negara yang melegalkan industri prostitusi memiliki pendapatan sebesar USD18 juta, dan Amerika Serikat sebesar USD14,6 miliar.




Menurut banyak pengamat, ada kecenderungan, belakanagan ini perputaran bisnis prostitusi di Indonesia sudah berubah sejak hadirnya teknologi yang dilengkapi dengan media sosial dan aplikasi chatting, seperti WhatsApp, BBM, Line, Telegram, dan sebagainya.

Melalui aplikasi, para prostitusi tidak lagi harus bersusah payah menjajakan dirinya di pinggiran jalan, kelab malam, lokasi khusus pelacuran, hingga memiliki muncikari untuk membantu mencari pelanggan.

Melalui media sosial yang berlanjut di aplikasi pesan, para penjaja seks lebih leluasa memasarkan dirinya tanpa diketahui banyak orang, selain muncikari dan pelanggannya.

Penangkapan Vanessa Angel dan Avriellya Shaqqila di Surabaya, Sabtu (5/1) lalu, menjadi salah satu bukti mudahnya bisnis prostitusi online dilakukan oleh siapa pun dengan latar belakang yang beragam.

Bukan hanya kalangan artis, namun para model, hingga wanita yang memiliki profesi sebagai selebriti profesional seperti Putri Indonesia ikut terlibat di dalamnya. Kasus ini menyeret belasan, bahkan puluhan artis dalam bisnis prostitusi. (*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*