Waspada DBD, Nyamuk Aedes Aegypti Bereaksi Pukul 09.00-15.00 WIB

Aedes Aegypti (foto: net]

KABARHUKUM-Medan | Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Sumut, Yulia Maryani, mengatakan, penyebaran DBD yang vektornya adalah nyamuk aedes aegypti, salah satunya dipengaruhi dengan jumlah penduduknya. Semakin banyak jumlah penduduk maka perindukan nyamuknya semakin banyak.

“Faktor utama perilaku hidup bersih, karena nyamuk tersebut suka di daerah yang air bersih seperti bekas air tampungan kulkas, dispenser, bak mandi. Di sini kadang masyarakat kurang waspada,” katanya pada Jumat (1/2/2019).




Ia juga menerangkan ada 5 besar kabupaten kota yang endemis DBD berdasarkan angka kejadian yaitu Sibolga, Tebingtinggi, Binjai, Gubung Sitoli dan Pematang Siantar. Sedangkan 5 besar berdasarkan jumlah kasus yaitu Medan, Deliserdang, Langkat, Simalungun dan Binjai.

“Hal itu karena jumlah penduduknya banyak. Seperti Deliserdang yang daerahnya berbatasan maka nyamuknya bisa pindah,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, sifat nyamuk Aedes itu bereaksi mulai pagi hari jam 09.00 sampai 15.00 sore. Di waktu tersebut, banyak anak-anak yang kena DBD di bawah usia 14 tahun. Hal itu karena anak-anak banyak berada di luar rumah.

“Dari data ini, anak-anak usia di bawah 14 tahun dan ternyata terjangkit di luar rumah. Jadi walau di rumah bersih kemungkinan besar anak-anak terjangkit di luar rumah,” katanya.

Dijelaskannya, 1 nyamuk akan menetaskan ratusan telur dan masa hidupnya selama 4 minggu. Hal ini juga yang menyebabkan banyak kasus DBD.

“Lakukan 3M Plus yaitu menguras, menutup mengubur dan plusnya yaitu menanam tumbuhan pengusir nyamuk seperti bunga lavender, serei dan memelihara ikan pemakan jentik. Jadi yang dibasmi jentiknya jangan sampai terbentuk nyamuk,” sebutnya. (*)


Laporan: Ali Sinaga

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*