Saat Bersaksi, Bupati Ini Sebut Uang Terimakasih Bukanlah Uang Suap

Bupati Pakpak Barat Remigo Yolanda Berutu saat jadi saksi di PN Tipikor Medan

KABARHUKUM – Medan | Uang suap menjadi cecaran pertanyaan Majelis Hakim kepada Bupati Pakpak Barat Remigo Yolanda Berutu dalam perkara suap dengan terdakwa Rijal Effendi Padang selaku kontraktor. Remigo yang juga turut menjadi tersangka dalam kasus ini dihadirkan Penuntut Umum KPK sebagai saksi dihadapan Ketua Majelis Hakim Irwan Effendi, Kamis (28/3/2019) di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Medan .

Saat majelis hakim mempertanyakan soal uang suap yang diterima Remigo kemana saja digunakan, ia membantah istilah uang yang diterimanya. Disebutnya, itu bukanlah uang suap melainkan uang terimakasih yang diberikan kontraktor melalui Plt Kepala Dinas PUPR Pakpak Bharat David Anderson dan pihak swasta Hendriko Sembiring. Keduanya juga menjadi tersangka dalam kasus ini.




“Begini yang mulia. Menurut saya, itu bukan uang suap ataupun fee. Tapi uang terimakasih yang diberikan para kontraktor yang telah mengerjakan proyek di Kapupaten Pakpak Bharat,”ungkap Remigo.

Diceritakan Remigo, awalnya ia menyuruh ajudannya untuk menelepon David selaku Plt Kadis PUPR, karena saat itu ia sedang membutuhkan uang untuk menyelesaikan perkara PKK di Polda Sumut.

“Bahwa saya pada waktu itu membutuhkan bantuan 300 juta. Ini uang untuk mengurus sebuah perkara. Perkara yang melibatkan PKK di Polda Sumut. Saya tidak ada minta fee proyek. Saya cuma bilang kepada ajudan agar menelpon David. Karena asumsi saya, dia pasti ada uang karena dekat dengan para kontraktor,” ungkapnya.

Terkait fee yang ditetapkan Remigo yakni sebesar 10-15% kepada para kontraktor, saat ditanyakan majelis hakim ternyata dibantah oleh Remigo.

“Kamu jujur saja. Pada pemeriksaan saksi sidang sebelumnya, saksi menerangkan itu memang kamu yang menyuruh. Kamu bilang uang koin. Apa pula itu uang koin. Itu kamu bilang saat mengumpulkan para Pokja ULP dan Kadis PUPR di sebuah rumah makan di Sidikalang,” tegas majelis hakim.

Namun, lagi-lagi Remigo membantahnya.

Remigo mengatakan, arti ‘uang koin’ menurut asumsinya adalah uang terima kasih dari para kontraktor bukan uang fee ataupun uang suap.

“Iya saya memang ada mengumpulkan mereka. Tujuannya agar percepatan pembangunan saja yang mulia,” kilah Remigo.

Untuk diketahui, KPK menetapkan tersangka baru pada perkara dugaan suap Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu terkait proyek-proyek di Dinas PUPR Pemkab Pakpak Bharat tahun 2018. Dalam pengembangan penyidikan, KPK menemukan bukti-bukti terkait keterlibatan dan peran pihak lain dalam perkara tersebut.

Terkait hal itu, KPK menetapkan Rizal Effendi Padang, pihak swasta sebagai tersangka.
Rizal merupakan Direktur PT TMU yang diduga telah menyuap Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando Berutu bersama Plt Kepala Dinas PUPR Pakpak Bharat David Anderson Karosekali dan pihak swasta Hendriko Sembiring. Ketiganya telah berstatus tersangka lebih dulu.

Atas perbuatannya Rizal disangkakan melanggar pasal 5 ayat (1) huruf a atau b pasal 13 UU No. 31/1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20/2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Sebelumnya KPK juga menahan Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolanda Berutu, Plt Kadis PUPR Pakpak Bharat David Anderson Karosekali dan pihak swasta Hendriko Sembiring. Ketiganya ditahan usai ditetapkan sebagai tersangka setelah terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT). Remigo diduga menerima Rp550 juta yang diberikan pada 16 November 2018 sebesar Rp150 juta dan pada 17 November 2018 sebesar Rp400 juta.(*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*