Calon DPD RI Abdul Hakim Siagian Serius Perjuangkan Dunia Pendidikan di Sumut

Calon DPD RI Abdul Hakim Siagian bersama Gubernur Sumut Edy Rahmayadi.

KABARHUKUM-Medan | Salah satu fungsi strategis negara (pemerintah) yang dimanatkan oleh konstitusi UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu pemerintah harus serius memajukan dunia pendidikan.

Demikian disampaikan Pakar hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Dr Abdul Hakim Siagian SH MHum (AHS) di Medan Medan, Kamis (11/4/2019)

“Sebagai implikasinya, maka seluruh aktivitas, kewenangan, kebijakan dan termasuk anggaran seharusnya diprioritaskan untuk membangun dunia pendidikan,” ujar Wakil Ketua PW Muhammadiyah Sumut ini.

Hal itu, kata AHS, persis seperti bunyi Amandemen UUD 1945 yakni Pasal 31 Ayat 4; “Pemerintah memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 % dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.”

Dalam pengertian luas, lanjut AHS, ikhtiar mencerdaskan itu idealnya dimulai dari keluarga. Karena rumahlah sesungguhnya madrasah yang paling pertama dan utama.

Dalam pengertian seutuhnya, mencerdaskan adalah bagian yang terus-menerus, pilihan utama, program, apalagi ditekankan alokasi anggaran minimal 20 % . “Secara das sollen seharusnya begitu,” katanya Calon DPD RI No 21 ini.

Tapi secara des sain, AHS  menilai faktanya hari ini tingkat kecerdasan anak-anak bangsa sangat memprihatinkan – untuk tidak mengatakan tidak ada kemajuan. Menurutnya, memang bukan tidak ada capaian yang menggembiran dan membanggakan kita, misalnya capaian sejumlah prestasi di pelbagai even seperti olimpiade. “Tapi sepertinya itu lebih bersifat personal , sedangkan dalam spektrum makro indeks pembangunan Indonesia nyatanya malah di bawah Vietnam saat ini,” ungkapnya.

Abdul Hakim Siagian (kanan) bersama Ustadz Abdul Somad (tengah) dan Wakil Gubernur Sumut Musa Rajeckshah (kiri) dalam sebuah acara keummatan di Sumut belum lama ini.

Hal lain yang memprihatinkan adalah, kian maraknya fenomena kejahatan yang merupakan eksese dari ketidakcerdasan dan keringnya keilmuan. AHS menyebut, dampak langsung muncul karena ketidakcerdasan adalah tingginya angka kejahatan atau kriminalitas dengan berbagai bentuk . “Luar biasa kejahatan di negeri ini, mulai dari yang bertalitemali dengan kejahatan internasional sampai kejahatan-kejahatan konvensional, seperti kejahatan yang ditimbulkan oleh narkoba,” katanya.

AHS berpendapat, seharusnya kecerdasan akan membebaskan masyarakata dari kejahatan, karena dengan itulah bisa paham menempatkan posisi memberantas segala bentuk kemunkaran. Ditegaskannya, tujuan pendidikan itu disamping meningkatkan kecerdasan, juga meningkatkan keimanan dan ketaqwaan . Dengan meningkatnya keimanan dan ketaqwaan maka akan menyebabkan manusia jadi baik, karena sesuai dengan konsep nilai-nilai ketuhanan dan agama serta memaksimalkan pencegahan.

“Justru kondisi hari ini itulah yang paling memprihatinkan kita,” tambahnya.

Jadi, pilhan kata cerdas berarti misi kemanusian untuk sampai ke derajat taqwa dengan modal ilmu pengetahuan dan teknologi, berarti sukses dengan urusan duniawi, dan kemudian tegas memberentas segala bentuk kemunkaran. “Itulah prinsip dari amar ma’ruf nahyi munkar,” pungkasnya. (*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*