FOKAL IMM Sumut: Pemilu 2019 yang Paling Amburadul

KABARHUKUM-Medan | Sejak Reformasi tahun 1998 bergulir, Indonesia telah melakukan Pemilu sebanyak 4 kali dan tahun 2019 ini adalah pemilu kelima kalinya. Dari semua pemilu itu, pemilu tahun inilah yang paling amburadul dan terkesan penyelenggaranya tidak profesional.

Demikian kesimpulan diskusi Forum Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (KFOKAL IMM) Sumatera Utara menyikapi dinamika politik pasca Pemilu 2019 yang diadakan di Sekretariat FOKAL Sumut, Jalan Medan Area Selatan, Sabtu (20/4/2019)

Dalam diskusi FOKAL IMM Sumut mengungkap sejumlah indikasi keamburadulan dan ketidakprofesionalan penyelenggaraan Pemilu 2019.  Hal tersebut bisa dilihat dari berbagai tahapan pemilu, mulai dari DPT yang tak kunjung beres, kampanye yang melibatkan ASN dan APH, Kepala Daerah yang berpihak, pencoblosan surat suara di luar negeri oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, penyampaian surat suara yang terlambat, surat suara yang kurang, surat suara yang sudah tercoblos, adanya TPS yang hilang, TPS yang baru buka pada pukul 11.00 WIB, penghitungan suara yang sering eror dan salah menginput data, dan banyak lagi lainnya.




Hal ini diperparah dengan banyaknya lembaga survei dan pers yang tidak independen sehingga menguntungkan salah satu pihak dan mengakibatkan pihak yang lain mengklaim sebagai pemenang. Pengkodisian seperti ini membuat masyarakat semakin terbelah, saling ejek dan tuding di dunia maya.

Selain itu, FOKAL IMM Sumut menilai, absennya penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu-red) dalam menyelesaikan semua persoalan terkait pemilu semakin membuat masyarakat  tidak percaya terhadap kedua lembaga tersebut.Memang ada tokoh yang mengatakan, KPU pasti selalu disalahkan oleh pihak yang kalah. Tapi sekarang belum ada yang menang dan yang kalah, harusnya KPU tidak membiarkan lembaganya unlegitimed di mata masyarakat.

Menurut FOKAL IMM Sumut,  Komisioner KPU harus menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berintegritas dan paling diharapkan masyarakat untuk menegakkan demokrasi secara jujur dan adil di Indonesia. Jika KPU dan Bawaslu alpa dengan komitmen serta integritas ini, maka tentu akan dapat memicu konflik yang berbahaya bagi rakyat dan bangsa yang berbhineka dan majemuk ini.

Bagi FOKAL IMM, tegaknya nilai-nilai demokrasi lebih penting dari sekedar siapa yang terpilih sebagai “pemenang”. Jika demokrasi tidak tegak di negara ini, maka Tirani lah yang akan muncul. Dan jika itu yang terjadi, jangan salahkan masyarakat yang tidak percaya pada pemerintahnya. Seyogianya,  pemerintahlah yang harus berbuat dan bekerja dengan jujur dan adil sehingga masyarakatnya percaya pada pemerintahnya. Yakinlah, secepat-cepatnya kebohongan berlari, kebenaran akan selalu dapat mengejar dan mendahuluinya.

FOKAL IMM Sumut mengingatkan, bahwa sesungguhnya masih ada waktu bagi Penyelenggara Pemilu untuk berbuat dan memulihkan kepercayaan rakyat. Untuk itu, Fokal IMM Sumut mengajak semua elemen mayarakat untuk mendukung dan sama-sama mengawasi kerja penyelenggara pemilu. (*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*