Kualiatas Air Makin Buruk, LAPK Sebut Direksi Baru PDAM Tirtanadi Tak Miliki Visi Pro Pelayanan

Foto ilustrasi.

KABARHUKUM-Medan | Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen (LAPK) menyebut, bahwa gonjang-ganjing Direksi PDAM Tirtanadi yang baru tidak memiliki visi pro-pelayanan nampaknya terkonfirmasi dari fase awal kepemimpinannya.

Sekretaris LAPK Padian Adi S Siregar mengatakan, kecurigaan sebagian kalangan Direksi PDAM Tirtanadi baru dilantik tidak akan membawa  pelayanan semakin baik, ternyata benar adanya.

“Karena masih hitungan hari pasca dilantik yang terjadi justru kualitas air kotor dan berlumpur seperti yang terjadi di Medan Amplas dan Medan Denai,” ujarnya di Medan, Jum’at (5/15).




LAPK sangat menyesalkan kualitas air yang kotor terjadi pada momen Ramadhan sekarang ini. Kualitas air yang kotor, salah satu masalah yang mendera PDAM Tirtanadi yang tak kunjung teratasi, bahkan dari tahun ke tahun, dari periode direksi berganti periode direksi, kualitas airnya semakin buruk.

Masalah lain juga sama peliknya yang tidak kunjung mengalami perbaikan di antaranya losses (kehilangan pasokan air) yang tinggi hampir 30% per tahun, tentu perlu pembenahan mental/tanggungjawab pegawai dan respon cepat penanganan masalah.

Padian mengingatkan, lambatnya penanganan yang dilakukan ketika ada pengaduan terkait sambungan pipa bocor bahkan kadangkala terjadi di wilayah tempat tinggal pegawai/petinggi PDAM Tirtanadi menjadi hal penting untuk disikapi.

Selain itu, lanjut Padian, buruknya kesadaran pegawai untuk bertanggungjawab terhadap perusahan dan pelanggan ketika terjadi kebocoran sambungan pipa untuk segera diperbaiki merupakan “pekerjaan rumah” direksi PDAM Tirtanadi melakukan pembinaan SDM.

LAPK mensinyalir, kualitas air yang buruk turut berkontribusi kurangnya pasokan air PDAM Tirtanadi di Kota Medan. Hampir 15% perbulan air yang mengalir ke rumah pelanggan terbuang sia-sia tanpa dipergunakan untuk kebutuhan konsumsi. Air yang keruh dan berlumpur mengharuskan pelanggan 2-4 hari sekali harus melakukan pembersihan bak/tong air memungkinkan 10-20 liter akan terbuang sia-sia setiap melakukan pembersihan.

“Jadi, ketika kualitas air baik PDAM Tirtanadi dapat melakukan penghematan pasokan air dan mengalihkan ke pelanggan lain atau menambah sambungan pelanggan baru,” katanya.

Selama ini, kata Padian, manajemen penanganan keluhan yang buruk menjadi persoalan klasik PDAM Tirtanadi yang tidak kunjung diperbaiki. Sikap pasif dan lempar bola yang dilakukan “front liner”, seringkali membuat pelanggan frustasi tidak tahu harus mengadukan masalahnya. Janji manis yang diucapkan ketika ada pelanggan mengadu, seperti tagihan tidak sesuai, akan segera diselesaikan tetapi seiring waktu tidak pernah tertuntaskan.

“Dan lucunya, seringkali pegawai PDAM Tirtanadi malah menyalahkan pelanggan terkait permasalahan yang ada,” ungkapnya.

Selain itu, media pengaduan pelanggan telah berulangkali berganti nomor, tempat bahkan SDM-nya sudah berganti, tetapi penanganan masalahnya masih seperti periode direksi sebelumnya.

LAPK berpendapat, bahwa PDAM Tirtanadi sudah selayaknya “berkaca diri”. Jangan gara-gara mengejar sambungan pelanggan baru, malah justru menelantakan pelanggan lama. PDAM Tirtanadi tidak seharusnya demi kepentingan profit semata, tetapi kualitas, kuantitas dan kontinuitas air tidak kunjung mendapat kepuasan dari pelanggan.

Bukan cuma itu, IPAL yang baru juga nampaknya tidak mampu mengatasi permasalahan kualitas, kuantitas dan kontinuitas air di Kota Medan yang tidak mengalami perbaikan pada setiap penggantian Direksi baru, karena patut diduga yang terjadi tidak menempatkan orang berkompetensi di bidangnya.

“I’tikad baik pada direksi dan pejabat yang ditunjuk untuk memajukan PDAM Tirtanadi sepertinya masih dipertanyakan karena tren pelayanan PDAM Tirtanadi justru menurun,” pungkasnya. (*)

Bagi berita:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*